Warta

Menghidupkan Lahan Kering & Musim Kemarau dengan Sawah Terpal Ala Gunungkidul

Gunungkidul memulai inovasi pertaniannya dengan sawah terpal. Ada keunggulan yang bisa diperoleh, bahkan saat musim kemarau.

Wakil bupati gunungkidul joko parwoto saat bersama kelompok tani mengenal sawah terpal
Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto saat bersama kelompok tani mengenal sawah terpal. (dok. Pemkab Gunungkidul)

catrawarta.comMusim kemarau yang mulai berlangsung kembali menjadi tantangan bagi sektor pertanian, terutama di wilayah tadah hujan seperti Kabupaten Gunungkidul. Berkurangnya ketersediaan air membuat banyak lahan pertanian mongering.

Hal ini jelas membuat produktivitas padi rentan menurun dan petani umumnya hanya dapat melakukan panen satu kali dalam setahun saja. Untuk menjawab kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memperkenalkan inovasi pertanian berupa sistem sawah terpal.

Sawah terpal sendiri merupakan metode budidaya padi atau tanaman pangan di lahan kering yang memanfaatkan terpal plastik tahan air sebagai wadah penampung tanah dan air. Biasanya, terpal ini bisa menggunakan jenis HDPE atau PVC Orchid.

Di lapangan, sawah terpal ini bakal menjadi penolong di daerah yang memiliki lanskap berupa perbukitan dengan tanah kering. Tujuannya tak lain adalah untuk mencegah terbuangnya pupuk secara sia-sia.

Teknologi ini dikenalkan bersamaan dengan pelatihan pembuatan pupuk kompos organik kepada Kelompok Tani (Poktan) Mawarsari di Padukuhan Gandu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Jumat (17/7/2026) lalu.

Dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, program itu menjadi bagian dari pembinaan pertanian di kawasan yang selama ini mengandalkan curah hujan sebagai sumber irigasi.

Group of men gathered around a man kneeling to operate a blue portable water pump during a training session outdoors
Joko Parwoto dan kelompok tani di sejumlah titik di Gunungkidul, Jumat (17/7). (dok. Pemkab Gunungkidul)

Dengan sawah terpal, pemerintah berharap lahan yang sebelumnya kurang produktif saat musim kemarau dapat dimanfaatkan lebih optimal sehingga frekuensi tanam dan panen meningkat. Sehingga, musim kemarau tetap bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat.

Sistem sawah terpal merupakan salah satu inovasi yang dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. Dengan metode tersebut, petani berpeluang meningkatkan intensitas panen padi hingga lima kali dalam setahun.

Selain digunakan untuk budidaya padi, teknologi tersebut juga dapat dipadukan dengan pemeliharaan ikan lele. Kombinasi itu memberikan peluang tambahan pendapatan bagi petani sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Sarno. Beruntung, program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Gunungkidul.

“Pemanfaatan teknologi pertanian harus mampu mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Sarno.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto mengajak masyarakat di wilayah Rongkop dan Girisubo memanfaatkan lahan kosong dengan menanam berbagai tanaman produktif. Menurutnya, masih banyak lahan yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan nilai ekonomi.

Ia mendorong masyarakat membudidayakan komoditas seperti nangka, alpukat, pepaya, maupun tanaman produktif lainnya yang memiliki manfaat jangka panjang.

Joko juga mengingatkan pentingnya mengubah pola pikir dalam bertani, dari yang berorientasi pada hasil jangka pendek menuju pengembangan tanaman yang memberikan manfaat berkelanjutan.

“Menanam bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Tanaman produktif akan memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan bagi generasi berikutnya,”

Meski masih sebatas Rongkop dan Girisubo, sistem sawah terpal ini diharapkan mampu mempercepat produktivitas lahan dan SDM hingga mendukung ketahanan pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *