catrawarta.com — Keterlibatan Muhammadiyah dalam Prgram MBG merupakan komitmen untuk memenuhi gizi anak bangsa sebagai generasi penerus. Karena itu, seluruh dapur yang jumlahnya mencapai 202 operasional dibuat dengan standar tinggi agar seluruh proses dan produk benar-benar higienis.
Supaya semua itu bisa tercapai, Muhammadiyah mengeluarkan tiga pilar yang wajib menjadi standar pengelolaan MBG pada Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di lingkungan Muhammadiyah. Hal itu juga bisa menjadi panduan bagi pengelola lain yang tidak berafiliasi dengan persyarikatan.
Direktur Badan Pelayan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) M Nurul Yamin mengungkapkan, pilar pertama adalah keamanan pangan yang mencakup aspek halal, tayib, dan aman untuk dikonsumsi.
Pilar kedua, tata kelola amanah dan professional serta ketiga yakni pengembangan ekosistem berkelanjutan. Ketiganya menjadi fondasi utama mengelola dapur MBG sehingga aman, sehat, bagi penerima manfaat maupun pengelola.
Kualitas Sistem MBG
”Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas sistem yang dibangun,” tandas Yamin dalam keterangan tertulisnya.
Ia menekankan, penguatan kapasitas pengelola, pengawasan berkala, dan transparansi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan program. Semua harus dilakukan secara ketat, disiplin dan berkelanjutan.
Dengan semangat dakwah berkemajuan, Muhammadiyah menegaskan Program MBG harus menjadi sarana menghadirkan manfaat yang luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat upaya pembangunan generasi Indonesia yang unggul di masa depan.
Muhammadiyah, tegasnya, memiliki kapasitas serta pengalaman yang memadai untuk menyukseskan program MBG. Partisipasi berdasarkan pada penguatan ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menempatkan pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kemaslahatan umat sebagai bagian penting dari gerakan dakwah.

Piala Dunia 2030 Bersamaan dengan 100 Tahun FIFA World Cup 