Catra Budaya

Bagaimana Penderita Stroke Bangkit dan Aktif Melukis Hingga Pameran?

catrawarta.com — Serangan stroke yang merenggut sebagian daya gerak tubuh tak lantas mematikan semangat penyair Afnan Malay. Sebaliknya, peristiwa traumatik tersebut justru...

Two visitors view three framed abstract paintings in a gallery with a window showing greenery on the right side
Karya Afnan Malay di Kembang Jati Art House. (Dok Wiwit)

catrawarta.comSerangan stroke yang merenggut sebagian daya gerak tubuh tak lantas mematikan semangat penyair Afnan Malay. Sebaliknya, peristiwa traumatik tersebut justru terus bermutasi menjadi bahan bakar ekspresi artistik yang tajam dan emosional.

​Pengalaman pahit Afnan itu salah satunya terekam kuat dalam lukisannya berjudul Hotel Z, yang dipajang dalam pameran tunggal bertajuk “Energi Rupa” di Kembang Jati Art House, Bantul, Yogyakarta. Pameran ini berlangsung sepanjang 18 hingga 27 Juli 2026.

​Nama Hotel Z sendiri merujuk pada sebuah tempat menginap di London. Di kamar itulah, pada 2018 lalu, tubuh Afnan mendadak dihantam serangan stroke secara tak terduga pada suatu malam, sehari sebelum ia menyaksikan laga sepakbola di Inggris.

​”Saat serangan itu, semua objek di depan mata terlihat miring dan meliuk, tubuh saya terasa limbung,” tutur alumni Fakultas Hukum UGM sekaligus jebolan ISI Yogyakarta tersebut, Senin, 20 Juli 2026.

Namun bukan meratapi terus menerus. Sensasi serangan stroke itu kembali direkonstruksi Afnan pelan-pelan. Lalu dituangkan Afnan dalam kanvas yang digarapnya pada Desember 2025.

Ia menampilkan struktur bangunan yang abnormal—satu bangunan tampak rapuh dan nyaris roboh, sedangkan bangunan lainnya meliuk miring menyerupai Menara Pisa.

“Jadinya ya lukisan Hotel Z itu,” kata dia terkekeh.

​Ironisnya, serangan itu terjadi persis sehari sebelum ia dijadwalkan menyaksikan laga sepak bola antara Arsenal dan Tottenham Hotspur di Stadion Wembley.

Meski kondisi fisiknya terus memburuk dan jarak pandangnya mulai menggelap, Afnan tetap nekat berangkat ke stadion bersama dua temannya karena tiket sudah terlanjur di tangan. Pertandingan itu berakhir tanpa bisa ia nikmati, hingga akhirnya ia langsung dilarikan ke London College Hospital.

​Keliaran di Atas Kanvas Pasca Stroke

Hamparan kanvas dalam ruang pamer menyajikan bukti bagaimana keterbatasan fisik pasca-stroke justru memicu keliaran gerak motorik yang otentik. Bahkan, tanda tangan Afnan di sudut bawah lukisannya tampak tak beraturan dan sulit dibaca—sebuah jejak riil dari kontrol jemari yang tak lagi sempurna.

​”Saya juga bingung. Saat separuh badan ini lumpuh, keinginan untuk melukis justru tinggi sekali. Dalam sehari bisa selesai tiga lukisan,” kata Afnan.

Meski berlatar penyair dan telah menelurkan sejumlah buku, Afnan tak peduli untuk banting stir. Mengikuti hasrat melukisnya. Ia tak mau canggung dan bingung dengan perubahan ini. Sehingga memilih membebaskan diri dari pola terencana maupun aturan akademis ketat saat sudah di atas kanvas.

“Yang penting yang ada di pikiran saya, saya lukis sesuai gaya saya,” ujarnya.

​Keliaran ini membuatnya melahirkan karya menarik lainnya bertajuk Jalan Lurus. Lukisan ini menampilkan tumpukan objek yang saling berbenturan—termasuk siluet figur bersujud dan berinteraksi—yang kemudian dibelah-belah garis lurus berwarna hitam pekat.

Saat membuat karya ini, Afnan mengimajinasikan konsep sirathal mustaqim dalam ajaran Agama Islam. Sebuah simbol perjuangan manusia untuk tetap teguh di jalan yang benar dalam situasi seberat apa pun.

​Kurator pameran sekaligus pengajar ISI Yogyakarta, Rain Rosidi, menilai energi Afnan dalam pameran ini bukan sekadar permainan warna yang mencolok. Menurutnya, status Afnan sebagai penyintas stroke memberikan dimensi tersendiri pada karyanya.

​“Energi artistik Afnan terpancar dari relasi antara gestur tubuh, pilihan warna, dan material yang ia olah. Keterbatasan gerak justru melahirkan karakter visual yang sangat personal,” jelas Rain.

Keberanian Afnan mendobrak garis takdirnya sebagai penderita stroke, terpancar tak hanya dari caranya berkarya. Namun juga pemilihan lokasi pameran.

​Jangan membayangkan pameran tunggalnya itu digelar di galeri megah di Yogyakarta yang biasanya rapi, bersih, penuh sentuhan sudut bangunan modern, dan berpendingin udara.

Galeri Kembang Jati Art House justru menyajikan ruang pamer berupa bangunan bersahaja mirip rumah gubuk penduduk pedesaan, bukan di tepi jalan raya, dengan dinding anyaman bambu, dikelilingi rindangnya pepohonan jati.

Namun pengunjung tetap ramai dan bahagia dengan suguhan menggoda lidah mulai nasi pecel pincuk, pisang goreng, kacang rebus, dan sebungkus penuh keakraban tanpa jarak.

​Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro menuturkan, publik selama ini lebih mengenal Afnan sebagai penyair produktif yang kerap melahirkan buku puisi.

“Tapi dalam pameran rupa ini, orang bisa melihat sisi lain Afnan sebagai manusia, yang sedang melawan keterbatasan fisiknya dengan melintasi dimensi lain dalam berkarya,” ujar Ons.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *