Etalase

Dongeng Rupa dan Kritik Ekologis Saiful Ulum

catrawarta.com — Gelaran Mini Art Malang (MAM) #7 di Malang Creative Center pada pertengahan hingga akhir Juli 2026 bukan hanya soal ajang...

ekskologis 130x80 cm aoc 2026 dok Saiful ulum
"Ekskologis”, 130x80 cm, AOC, 2026 (Dok. Saiful Ulum)

catrawarta.comGelaran Mini Art Malang (MAM) #7 di Malang Creative Center pada pertengahan hingga akhir Juli 2026 bukan hanya soal ajang pamer karya. Lebih dari itu, ruang ini menjelma jadi wadah pergulatan pemikiran yang cukup penting bagi peta seni rupa Jawa Timur. Di Zona 3, atau disebut Paviliun Kota, pengunjung diajak melihat bagaimana sekat-sekat wilayah bisa melebur lewat keluwesan ide.

Tahun ini, Pasuruan (Kota dan Kabupaten) mendapat kehormatan mengemban tanggung jawab estetik tersebut, memboyong sederet talenta yang sudah teruji di tingkat akar rumput. Dari 14 perupa yang terpilih, sosok Saiful Ulum memancarkan daya pikat tersendiri.

Pria kelahiran Pasuruan, 12 September 1987 ini punya pendekatan berkarya yang unik. Proses kreatifnya tidak lahir dari ruang akademis yang steril, melainkan tumbuh langsung dari himpitan realitas sehari-hari.

Jejak kesenian Ulum memang terbentuk secara alami. Ia mengawali perjalanannya dari dunia teater saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Dari sanalah kepekaannya terhadap lakon dan ruang panggung mulai terasah. Wawasannya makin kaya ketika ia berkesempatan mengikuti residensi kreatif di Manchester dan London, Inggris. Pengalaman tersebut memperluas sudut pandangnya tentang bagaimana seni seharusnya merespons perubahan zaman.

Namun, spirit estetikanya baru benar-benar tancap gas ketika ia terjun ke seni rupa dan bergabung dengan Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan (KGSP). Di bawah bimbingan seniman senior di sana, sensitivitas visual Ulum ditempa hingga ia menjadi salah satu penggerak pameran seni rupa tahunan di Pasuruan Raya, Gandheng-Renteng.

Di KGSP, Ulum bukan sekadar nama di atas kertas. Ia adalah salah satu penggerak utama. Bersama komunitas yang cair ini, ia merawat ruang belajar terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang. Keaktifannya menjaga ritme organisasi ikut membidani iklim kesenian daerah yang sehat, sebuah ikatan keguyuban yang menolak kalah oleh keterbatasan fasilitas pameran. Dari ketekunan merawat komunitas inilah, publik seni rupa yang lebih luas mulai melirik potensi besar dari timur Jawa.

Daya hidup KGSP yang di antaranya digerakkan oleh figur seperti Ulum membuahkan hasil nyata. Komunitas ini sukses menumbuhkan perupa muda yang kiprahnya tidak lagi mandek di level lokal. Di antara mereka ada yang menembus peta seni rupa nasional seperti ArtJog, Artsubs, serta perhelatan penting lainnya di Indonesia. Bahkan melenggang ke kancah internasional seperti Lyon Biennale di Perancis hingga Art Seeding Festival di Dubai. Ini jadi bukti sahih bahwa gerakan akar rumput yang digarap KGSP punya fondasi yang sangat solid.

Di luar urusan kanvas, Ulum adalah seorang Guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Pasuruan. Baginya, teks sastra dan visual adalah dua sisi mata uang yang sama: media untuk menyampaikan pesan batin. Tak heran jika seni baginya bukan sekadar pajangan pemanja mata, melainkan ruang perenungan tentang relasi manusia, alam, dan pengalaman hidup.

Tentu, perjalanan seni Ulum tak lepas dari peran sang istri, Maratus Sholihah. Sebagai sesama pendidik yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMA Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah – pondok pesantren yang sangat bergengsi Pasuruan – Maratus memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat kuat.

Hubungan mereka tumbuh di atas kesetaraan berpikir. Maratus punya ketertarikan yang serius pada riset biologi dan ekologi. Ketekunannya di bidang ini membawanya lolos seleksi ketat sebagai Guru Penggerak SMA Jawa Timur. Menariknya, lembaran riset ilmiah Maratus mengenai ekosistem dan jaringan hayati tak berhenti sebagai tumpukan kertas. Data, temuan, dan kegelisahan ekologis sang istri justru mengalir deras ke studio Ulum, menjadi inspirasi utama yang memberi warna pada karya-karya lukisnya.

Kolaborasi antara kepekaan rasa perupa dan data ilmiah sang istri seolah mengamini adagium klasik Sudjojono: seni adalah jiwa ketok (jiwa yang kelihatan). Dalam kasus Ulum, jiwa yang tampak itu adalah kegelisahan atas kerusakan lingkungan, kegelisahan yang direspons bukan dengan kepanikan, melainkan dengan analisis dingin seorang pendidik. Perpaduan inilah yang mewujud utuh dalam dua lukisannya di MAM #7: Ekskologis dan PraEkskologis.

Kedua karya bermedium akrilik di atas kanvas ini digarap dengan pendekatan visual yang rapi. Karya pertama, Ekskologis (130X80 cm), sekilas menyuguhkan pemandangan yang menentramkan: hutan hijau yang rimbun, sungai jernih, satwa yang bebas melintas, dan situs budaya kuno yang berdiri megah. Sepotong pemandangan yang tampak seperti surga kecil, siap memikat siapa saja untuk datang menikmati keindahannya.

Namun, keindahan visual itu sebenarnya adalah “jebakan”. Lewat kanvas ini, Ulum menyentil praktik pariwisata modern yang makin kehilangan kendali etis. Ketika alam dan situs budaya dikemas kebablasan demi industri pelesiran, fungsi utamanya sebagai ruang hidup alami perlahan lenyap. Alam cuma dianggap barang dagangan yang dieksploitasi demi keuntungan jangka pendek.

Kritikus seni Sanento Yuliman pernah mengingatkan bahaya ketika seni dan lingkungan hanya diringkas menjadi tontonan hiburan belaka. Ulum menangkap pesan itu. Ia mengajak kita memikirkan kembali batas tipis antara apresiasi yang tulus dan eksploitasi yang sewenang-wenang. Protes keras itu ia sembunyikan dengan rapi di balik keindahan warna.

Meskipun melontarkan kritik tajam, Ulum tak biarkan karyanya jatuh jadi ratapan yang pesimistis. Di bagian depan kanvas, ia menaruh simbol harapan yang mencolok: figur jenaka bermahkota kelopak bunga matahari yang sedang memeluk erat pot berisi benih tanaman. Lewat figur ini, Ulum seolah berbisik bahwa di tengah gempuran kerusakan, tindakan nyata untuk merawat bumi harus terus ada.

Nafas pemikiran tersebut berlanjut di lukisan kedua, PraEkskologis (90×70 cm). Bukannya menggambarkan kehancuran yang menakutkan, Ulum justru memakai pendekatan ala dunia dongeng yang ceria. Lengkap dengan rumah jamur, air terjun, pelangi, hingga balon udara dan gajah merah muda. Tapi kalau dicermati lebih dekat, di area lereng bukit, ia menyelipkan detail tunggul-tunggul kayu bekas tebangan di dekat kendaraan pengangkut, sebuah sinyal awal kerusakan. Teknik bintik warna yang rapat memberi tekstur visual yang unik sekaligus mengajak penikmatnya untuk melihat lebih dari sekadar permukaan.

Karakter bermahkota bunga matahari kembali hadir di tepi tebing sebagai center of interest. Tunas hijau dalam pot kecil yang dipegangnya menjadi kiasan tentang daya tahan dan tanggung jawab moral manusia. Pendekatan ini mengingatkan pada pemikiran Umar Kayam, bahwa manusia sejati selalu punya ikatan batin dengan tanah airnya, sebuah relasi yang menuntut keselarasan dan timbal balik.

Secara teknis, kedua karya ini menunjukkan kematangan Ulum dalam mengolah cat akrilik. Teknik pointilis dan permainan lapisan warnanya berhasil membangun kedalaman ruang yang apik. Gaya lukisnya yang komunikatif namun kaya simbol terasa sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai guru bahasa yang terbiasa menata struktur cerita. Ia tahu cara menyusun “bahasa visual” agar mudah dipahami publik, tanpa kehilangan ruang kedalaman bagi para kritikus untuk membedah maknanya.

Kehadiran Saiful Ulum di ajang sekelas Mini Art Malang #7 semakin mempertegas peran penting kota-kota penyangga dalam peta seni rupa kontemporer kita. Komunitas seperti KGSP membuktikan bahwa daerah mampu menjadi persemaian seniman yang punya kesadaran sosial tinggi. Mereka tidak hanya mengurung diri di studio yang nyaman, tapi ikut turun ke warga dan merespons isu-isu sekitar.

Sikap membumi ini sejalan dengan falsafah hidup tentang keseimbangan; antara manusia, sesama, dan alam lingkungannya. Seniman tak boleh jadi menara gading yang asing dari masyarakatnya. Seperti yang pernah disinggung Emil Salim, kehancuran lingkungan sering bermula dari hilangnya rasa hormat manusia terhadap ruang hidupnya. Lewat karya-karyanya, Ulum berusaha memulihkan rasa hormat yang terkikis itu.

Menariknya, narasi besar soal penyelamatan lingkungan ini tidak disampaikan Ulum dengan cara yang menggurui atau visual yang mengerikan. Lewat usapan warna hijau toska, krem keemasan, dan simbol benih yang lembut, pesan ekologis itu justru terasa lebih meresap. Di tengah godaan pasar seni yang sering menuntut keseragaman demi angka penjualan, konsistensi Ulum berbasis riset dan perenungan batin adalah sesuatu yang patut mendapat apresiasi.

Ketika melangkah keluar dari ruang pameran Malang Creative Center, kita tak cuma membawa ingatan tentang warna-warni cantik di atas kanvas Saiful Ulum. Ada pertanyaan besar yang tersisa untuk direnungkan: di mana posisi kita hari ini? Apakah kita bagian dari mereka yang merawat benih kehidupan, atau justru ikut terseret dalam arus yang pelan-pelan merusak bumi ini?

Purwosari, 21 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *