Etalase

Ziarah Estetik Yoes Wibowo Memanggil Jiwa Nusantara

catrawarta.com — Perhelatan Mini Art Malang #7 yang berlangsung pada 17 hingga 30 Juli 2026 di Malang Creative Center (MCC), menjadi panggung...

Cat air diatas kertas karya trilogi yoes wibowo
Cat air diatas kertas karya trilogi Yoes Wibowo, masing-masing berukuran 55 X 75 cm. (Dok. Yoes Wibowo)

catrawarta.comPerhelatan Mini Art Malang #7 yang berlangsung pada 17 hingga 30 Juli 2026 di Malang Creative Center (MCC), menjadi panggung pembuktian bagi dinamika seni rupa Jawa Timur. Ruang pameran kali ini menyuguhkan percikan estetika yang memikat melalui kehadiran Zona 3, sebuah bilik khusus yang dirancang sebagai Paviliun Kota. Tahun ini, kehormatan tersebut jatuh kepada Kota dan Kabupaten Pasuruan yang terpilih untuk merepresentasikan denyut kreatif wilayahnya.

Kebijakan bergiliran setiap tahun dari satu kota ke kota lain di Jawa Timur membuat kehadiran Paviliun Kota senantiasa dinanti. Langkah ini memberikan kesempatan bagi ekosistem seni lokal untuk mempresentasikan perkembangan seni rupa di luar batas geografisnya sendiri. Melalui manajemen zonasi yang terstruktur, publik seni dapat membaca sejauh mana pemetaan talenta dan karakter artistik yang tumbuh di tiap daerah secara lebih fokus.

Zona 3 pada perhelatan tahun ini didedikasikan sepenuhnya sebagai panggung bagi para perupa Pasuruan. Sebanyak 14 nama terpilih ikut ambil bagian memboyong gagasan visual mereka ke kota Malang. Mereka bersanding membawa keberagaman corak, mulai dari eksplorasi bentuk, warna, hingga medium yang sangat dinamis.

Di antara rombongan perupa yang terlibat, tercatat nama-nama yang selama ini aktif menggerakkan medan seni rupa di kawasan tapal kuda. Tersebar nama Akbar Warisqia, Badrie, Chichis, Deden Suprayogi, Garis Edelweiss, Kharisma Adi, M. Medik, Murdiono DYON, Saiful Ulum, Shobari, Sihabudin, Toni Ja’far, Wahyu Nugroho, serta Yoes Wibowo. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Pasuruan memiliki regenerasi perupa yang berlapis dan tidak pernah kekurangan talenta berbakat.

kehadiran Yoes Wibowo menarik perhatian lewat tawaran tematik yang tidak biasa, mengusik ingatan kolektif tentang akar peradaban. Selain itu, medium yang digunakan dalam proses kreatifnya memberi daya tarik tersendiri.

Melukis dengan cat air di atas kertas kerap dipandang sebelah mata sebagai medium sekunder yang rapuh. Namun, di tangan yang tepat, cairnya pigmen yang meresap ke dalam serat kertas justru mampu melahirkan kekuatan magis yang sulit ditandingi oleh cat minyak. Yoes memilih jalur ini untuk mengusung narasi sejarah, dan sebuah medium untuk melahirkan keindahan puitis.

Lahir di Sidoarjo pada 1 Oktober 1974, pria yang kini memilih menetap di “Omah Padma”, kawasan Capang, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ini menempuh jalan asketik pelukis otodidak. Tanpa sekat akademis formal yang mengekang, kebebasan berekspresi Yoes tumbuh organik dari kepekaan intuitifnya merespons alam dan lingkungan sekitar. Pilihan geografisnya untuk tinggal di wilayah subur pinggiran Kabupaten Pasuruan tampaknya ikut memengaruhi ketenangan sapuan kuasnya.

Ketekunan otodidak ini mengingatkan kita pada adagium legendaris maestro seni rupa Indonesia, S. Sudjojono, yang menyatakan bahwa seni lukis adalah jiwa ketok, embusan jiwa yang kelihatan. Jiwa Yoes memancar lewat keberanian menumpahkan impian ke atas hamparan kertas putih. Ketiadaan dikte sekolah seni justru membuatnya leluasa menjelajah rimba visual.

Eksistensinya tidak tumbuh dalam ruang hampa. Keterlibatannya sebagai penggerak utama Urban Sketcher Indonesia dan kiprahnya di Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (Kolcai) serta Komunitas ALKMAART Purwosari-Pasuruan, memperlihatkan karakter kesenimanan yang gemar berbagi. Aktivitas mendokumentasikan sudut kota lewat sketsa telah melatih ketajaman tangannya dalam menangkap esensi ruang dan waktu secara spontan.

Pada pameran kali ini, Yoes mengajukan manifesto visual bertajuk “Arsitek Nusantara: Tiga Figur Satu Peradaban”. Sebuah proyeksi historis yang menolak romantisasi masa lampau secara dangkal. Baginya, sejarah bukan sekadar artefak yang beku, melainkan sebuah ruang dialog intergenerasional yang terus bergerak mencari maknanya di masa depan.

Menatap lembar-lembar sejarah Nusantara menuntut pemahaman yang melampaui kronologi angka tahun. Budayawan terkemuka Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia bahkan tidak pernah menjadi masa lalu; ia adalah sesuatu yang kita rekonstruksi untuk memahami hari ini. Pemikiran inilah yang mendasari penjelajahan Yoes terhadap tiga pilar spiritual Jawa Timur kuno.

Proyek pengkaryaan ini mencoba merumuskan kembali arsitektur mental manusia Indonesia modern melalui cermin tiga tokoh penting: Ken Dedes, Kertanegara, dan Tribhuwana Tunggadewi. Ketiganya tidak hadir sebagai raga fisik, melainkan sebagai krenteg – sebuah dorongan batin kebudayaan yang membentuk fondasi imajinasi kebangsaan kita yang masih bergema hingga kini.

Apresiasi karya kita mulai dari urutan pertama menampilkan sosok Ken Dedes, bertajuk “The Light That Shapes Civilization”. Yoes melepaskan citra Ken Dedes dari sekadar komoditas eksotisme kecantikan wanita istana, melainkan meletakkannya sebagai poros kebijaksanaan spiritual yang melahirkan visi peradaban baru.

Secara visual, karya pertama ini memikat pandangan melalui komposisi wajah perempuan yang dilukis close-up dengan detail yang sangat anggun dan teduh. Yoes membagi latar belakangnya menjadi dua dunia warna yang kontras namun harmonis: sisi kiri dipenuhi oleh pusaran air berwarna biru toska yang menyegarkan dengan kuntum teratai yang mekar, sedangkan sisi kanan didominasi oleh sapuan warna krem keemasan yang hangat lengkap dengan ikan-ikan yang berenang dinamis. Wajah Ken Dedes yang menatap lurus ke depan seolah memancarkan ketenangan batin yang luar biasa.

Filosofi Jawa klasik mengenai pentingnya bertindak dalam kesenyapan batin, lambang dari laku sepi ing pamrih rame ing gawe, terejawantah sepenuhnya di sini. Budayawan Y.B. Mangunwijaya dalam salah satu esainya pernah mengingatkan bahwa ibu adalah lambang bumi yang merawat, dan dari rahim kebudayaan yang diasuh oleh kelembutan pulalah sebuah bangsa bisa berdiri tegak. Yoes berhasil menangkap esensi pengasuhan peradaban tersebut ke dalam detail mahkota dan giwang keemasan yang megah.

Karya urutan kedua membawa kita pada sosok Kertanegara melalui judul “BEYOND THE HORIZON”. Yoes melihat raja terakhir Singhasari ini sebagai seorang visioner yang berani melompati batas zamannya demi menyatukan mandala Nusantara menghadapi ancaman global waktu itu.

Penafsiran tersebut mewujud dalam lukisan yang sangat bertenaga, menampilkan figur berwujud Bhairawa yang perkasa sekaligus mistis. Karakter ini digambarkan memegang cawan tengkorak dan senjata trisula, dikelilingi oleh barisan tengkorak kecil serta ikan-ikan berukuran besar yang berenang di tengah pusaran warna jingga, kuning, dan biru yang bergolak. Atmosfer magis-religius yang pekat ini memperlihatkan kemampuan Yoes dalam mengendalikan medium air untuk menangkap watak sang raja yang berani menerobos batas ketidakpastian.

Pilihan visual yang memadukan ketegasan figuratif dengan kelenturan cat air ini sejalan dengan pandangan kritikus seni rupa Jim Supangkat. Beliau mencatat bahwa kekuatan seni rupa kontemporer Asia terletak pada kemampuannya menghidupkan kembali mitologi lokal tanpa kehilangan relevansi estetik modernnya. Yoes berhasil membuktikannya lewat transisi warna yang dramatis pada latar belakang arca tersebut.

Trilogi ini ditutup oleh karya urutan ketiga yang berjudul “Mother of an Archipelago Dream”, merepresentasikan spiritualitas Tribhuwana Tunggadewi. Yoes menghadirkan komposisi yang berpusat pada sebuah arca batu tegak yang kokoh, dikelilingi oleh sapuan cat air yang kontras; bagian atas didominasi oleh riak biru kehijauan layaknya angkasa, sementara bagian bawah membumi dengan rona kuning tanah dan jingga karat.

Detail pada singgasana arca menampilkan ornamen Ganesha di sisi kiri bawah dan figur duduk di kanan bawah, lengkap dengan kepala lembu Nandi yang beristirahat tenang di kaki arca. Daun dan kuncup teratai yang tumbuh meliuk di samping tubuh arca memperkuat kesan bahwa kekuatan sejati sang ratu tidak meledak dalam peperangan, melainkan tumbuh merawat harapan dari ketenangan batin yang sedimennya mengendap di dasar bumi Nusantara.

Secara teknis, ketiga karya berukuran 55 X 75 cm ini memperlihatkan kematangan Yoes dalam menjinakkan keliaran cat air. Teknik wet-on-wet yang dipadukan dengan detail garis kuas kering melahirkan kekayaan tekstur yang memanjakan mata, membuktikan bahwa kertas bukanlah medium yang membatasi imajinasi.

Keberhasilan Yoes menampilkan narasi besar ini di ajang Mini Art Malang #7 menegaskan posisi Pasuruan dalam peta seni rupa Jawa Timur. Rombongan perupa dari paviliun kota ini membuktikan bahwa daerah bukan lagi pinggiran, melainkan pusat-pusat pertumbuhan estetika baru yang memiliki akar kultural yang kokoh.

Perjalanan artistik Yoes dari kanvas-kanvas jalanan sebagai pembuat sketsa hingga pencapaian konseptual ini menunjukkan sebuah proses ngelmu yang matang. Pilihan hidup menetap di kaki gunung Arjuno tampaknya memberi ruang bagi batinnya untuk mendengarkan bisikan masa lalu dengan jernih.

Rekam jejak estetik Yoes Wibowo menempatkan dirinya sebagai salah satu penafsir sejarah yang penting dalam seni rupa kita saat ini. Karya-karyanya bukan sekadar pajangan dinding yang elok, melainkan sebuah cetak biru spiritual yang terus memanggil kita untuk kembali mengenali jati diri peradaban Nusantara.

Purwosari, 19 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *