catrawarta.com — Kalau kita amati dengan seksama, banyak pameran seni rupa kontemporer yang terjebak dalam selebrasi visual yang superfisial.
Di tengah kecenderungan estetika yang serba rapi dan terkalkulasi, pameran tunggal Hendung Tunggal Jati bertajuk “Inside Out” yang berlangsung pada 12–20 Juli 2026 di Hamur Artspace, Malang, hadir bagai sebuah interupsi.
Kolaborasi antara Studio Dinding Luar dan Hamur Artspace ini menyuguhkan ruang kontemplasi yang tidak biasa. Kita seolah diajak memasuki labirin personal seorang pelukis yang menolak tunduk pada dikte pasar maupun trend estetika yang sedang ramai diperbincangkan.
Hendung Tunggal Jati, sosok kreatif asal Malang lulusan Universitas Negeri Malang, selama ini dikenal memiliki daya hidup kesenian yang sangat tinggi. Aktivitasnya sebagai seorang pendidik di masa lalu sama sekali tidak mengendurkan intensitasnya di depan kanvas. Sebaliknya, pengabdian tersebut tampak menjadi penyeimbang. Gelombang spirit kreatifnya yang terus meletup tanpa jeda. Maka, tidak mengherankan jika ruang-ruang pribadinya senantiasa dipenuhi oleh tumpukan karya.
Bagi Hendung, melukis bukan sekedar perkara memindahkan objek ke atas bidang datar. Aktivitas ini adalah sebuah ritus harian, sebuah kebutuhan eksistensial yang tidak bisa ditunda. Kegairahannya mencakup penjelajahan medium yang sangat luas, melintasi batas-batas konvensi teknik demi menemukan bahasa visual yang paling representatif bagi gejolak batinnya. Melalui pameran tunggalnya ini, kita melihat bagaimana ia melepas seluruh beban teoritis demi meraih kemurnian ekspresi.
Pilihan estetika Hendung yang condong pada corak ekspresif-intuitif bukanlah sebuah kebetulan. Pendekatan tersebut merupakan hasil dari pergulatan panjang menyaring berbagai pengalaman hidup. Dalam medan penciptaan yang bebas, ia menolak kalkulasi rasional yang mengeringkan spontanitas. Ketika kuas mulai menyentuh medium, logika formal seketika runtuh, digantikan oleh dorongan batin yang mengalir deras tanpa bendungan.
Sikap artistik seperti ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dinyatakan oleh kritikus seni rupa terkemuka Indonesia, Sanento Yuliman. Ia pernah menyebutkan, bahwa seni yang hidup adalah seni yang lahir dari dorongan organik untuk membebaskan manusia dari kekakuan sistem nilai yang membelenggunya. Hendung tampaknya berjalan di koridor pemikiran tersebut. Ia tidak berusaha memperindah apa yang tampak di permukaan, melainkan menelanjangi apa yang berkecamuk di dalam dada.
Proses kreatifnya bertolak dari gejolak emosi, benturan psikologis, hingga kecemasan eksistensial yang dialihkan menjadi goresan-goresan bertenaga. Istilah “Inside Out” sendiri menjadi penanda yang sangat akurat untuk menggambarkan bagaimana ruang privat spiritual sang seniman diekspos ke ranah publik. Penonton tidak sekedar melihat gambar, melainkan berhadapan dengan suatu energi hidup.
Dari sekian karya abstrak non reprsentasional, di antaranya ada beberapa karya representatif di antaranya bertajuk ‘Pemarah Bermulut Suci’. Lukisan ini menampilkan dualitas karakter manusia yang sangat paradoksal. Ada ketegangan yang digambarkan lewat figurasi wajah terdistorsi, letak mata yang asimetris, serta tatapan tajam yang dihadirkan lewat sapuan warna merah darah. Sapuan merah tersebut seolah menyiratkan watak yang meledak-ledak dan penuh amarah.
Namun, di tengah representasi kemarahan yang pekat itu, Hendung menorehkan cat warna putih di sekitar mulut, dahi, dan mata kanan. Goresan putih ini menjadi simbol kebaikan, kebijaksanaan, atau kata-kata kebenaran yang keluar dari lisan sang tokoh. Latar belakang hitam pekat melengkapi drama visualnya, memfokuskan perhatian kita sepenuhnya pada konflik batin yang sedang berlangsung di atas kanvas.
Dualitas watak manusia yang dihadirkan Hendung dalam lukisan tersebut mencerminkan realitas sosial sehari-hari. Tidak sedikit manusia modern terjebak dalam topeng kemuliaan verbal untuk menutupi gejolak ego yang destruktif. Di sini, sang pelukis bertindak sebagai cermin sosial yang tajam. Ia tidak menghakimi, melainkan menangkap realitas tersebut sebagai bagian dari dinamika kemanusiaan yang kompleks.
Secara teknis, sapuan kuas dalam pamerannya tampak sangat agresif, berat, dan dinamis. Karakter visual seperti ini membawa ingatan kita pada tradisi lukisan gestural dunia. Pelopor gerakan abstrak ekspresionisme, Willem de Kooning, pernah menegaskan bahwa melukis adalah tindakan hidup itu sendiri, sebuah aksi fisik di mana kanvas menjadi arena pertarungan emosi tanpa perantara kata. Gagasan de Kooning tersebut beresonansi kuat dalam setiap jengkal karyanya.
Kebebasan ekspresi yang mutlak menuntut kehadiran fisik yang total saat berkarya. Sapuan kuas yang kuat, cipratan warna, hingga goresan spontan adalah rekaman langsung dari denyut nadi sang seniman saat berhadapan dengan mediumnya. Tidak ada ruang untuk ragu atau mengulang kembali. Setiap coretan yang lahir adalah keputusan final yang langsung mengunci momen psikologis pada detik itu juga.
Dalam konteks kebudayaan Jawa, aktivitas melukis yang dilakukan memiliki kemiripan dengan konsep olah rasa. Proses ini bukanlah sekedar kerja teknis motorik, melainkan sebuah laku spiritual untuk mengasah kepekaan batin agar selaras dengan jagat raya. Hendung melepaskan kendali ego intelektual agar batinnya yang paling murni bisa menuntun gerakan tangan secara bebas di atas bidang gambar.
Menarik untuk melihat bagaimana ia memperlakukan medium kertas dalam karya-karyanya seperti ‘AREA #05’, ‘Inside’, ‘Blowing’, dan ‘Shadow’. Alih-alih menggunakan kanvas besar yang megah, ia justru memilih kertas berukuran medium. Pilihan ini menciptakan keintiman tersendiri. Kertas memberikan efek serapan warna yang berbeda, memaksa seniman untuk merespons medium dengan kepekaan yang lebih presisi namun tetap liar.
Penggunaan teknik campur (mixed media) dalam seri karya tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa ia tidak ingin dibatasi oleh satu jenis alat. Ia menumpuk, menggores, dan mungkin merobek demi mendapatkan tekstur yang diinginkan. Karya-karya ini menjadi semacam medan pertempuran visual di mana berbagai elemen rupa saling berbenturan dan mencari keseimbangan baru di tengah kekacauan komposisi.
Seni rupa kontemporer yang biasanya terlalu sibuk merancang konsep yang rumit sebelum melukis, tidak jarang kehilangan kesegaran artistiknya. Hendung menawarkan jalan keluar dari jebakan konseptualisme yang mandek tersebut. Bagi dia, proses berkarya adalah petualangan tanpa peta. Ia memulai dari ketidakpastian dan membiarkan bentuk-bentuk visual menemukan takdirnya sendiri di atas kertas.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pandangan kurator dan pemikir seni rupa Indonesia, Jim Supangkat, yang menyatakan bahwa kekuatan seni lukis ekspresif terletak pada kemampuannya untuk mengkomunikasikan getaran spiritual yang melampaui batas-batas bahasa verbal. Karya-karya Hendung dalam “Inside Out” membuktikan kebenaran tesis tersebut. Lukisannya berbicara langsung kepada perasaan kita, melewati jalur pintas tanpa perlu didefinisikan secara rumit.
Pameran “Inside Out” bukan sekadar panggung pamer keterampilan teknis seorang pelukis senior. Pameran ini adalah sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya menjaga kebebasan berekspresi di tengah dunia yang kian mekanistik. Goresan-goresannya bertindak sebagai katup pelepas emosi yang merangkum suka, duka, kecewa, dan harapan manusia modern.
Menikmati deretan karya Hendung Tunggal Jati adalah sebuah pengalaman yang membebaskan. Kita diajak untuk berani menghadapi gejolak batin sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan merayakan setiap getaran emosi sebagai bagian utuh dari kemanusiaan. Lewat kertas dan sapuan kuas yang penuh tenaga, ia telah berhasil memindahkan badai di dalam dadanya menjadi sebuah simfoni visual yang memikat.
Selamat dan sukses buat temanku Hendung Tunggal Jati, atas pameran tunggalnya yang ke-3.
Purwosari, 16 Juli 2026

Kasus Pembakaran Santri Lombok Tengah Dibawa ke DPR 