Warta

Jagung untuk Pangan Domestik, Bukan Hanya Pakan Ternak

catrawarta.com — Jagung selama ini dikenal lebih banyak sebagai pakan ternak. Padahal, dapat menjadi pangan lokal sebagai pengganti beras. Karena itu, pemerintah...

PANEN: Ilustrasi panen jagung yang pemanfataanya terus ditingkatkan.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comJagung selama ini dikenal lebih banyak sebagai pakan ternak. Padahal, dapat menjadi pangan lokal sebagai pengganti beras. Karena itu, pemerintah mendorong jagung ke sektor industri pangan.

”Selama ini jagung nasional didominasi untuk pakan ternak, terutama ayam petelur dan pedaging. Pemerintah kini mendorong pemanfaatannya sebagai bahan baku industri pangan domestik” papar Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi.

Hal itu sekaligus untuk mengurangi ketergantungan pasokan luar negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas jagung.

Karena itu, Kementerian Pertanian mempercepat pengembangan jagung pangan untuk mendukung kebutuhan industri pangan nasional sekaligus memperkuat pasokan dalam negeri. Kebijakan ini menjadi bagian dari target swasembada jagung 2026 dengan proyeksi produksi mencapai 18 juta ton pipilan kering.

Memperluas Pemanfaatan Jagung

Silalahi mengatakan, saatnya memperluas pemanfaatan jagung tidak hanya sebagai pakan ternak, tetapi juga sebagai bahan baku industri pangan nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Ia memaparkan, peningkatan produksi terus menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik memproyeksikan potensi produksi jagung pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 4,94 juta ton, naik 4,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ditopang surplus dan stok carry over sekitar 4,5 juta ton berdasarkan perhitungan neraca pangan nasional, pemerintah memastikan kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi tanpa impor. Guna melindungi produsen, harga pembelian di tingkat petani ditetapkan Rp 5.500 per kilogram.

”Produksi tersebut menjadi dasar pemerintah memperluas pemanfaatan jagung ke sektor industri pangan,” tandas Silalahi.

Perkuat Sinergi Petani dan Industri

Ia menambahkan, kebutuhan jagung pangan untuk industri nasional mencapai sekitar 450.000 ton per tahun, terutama untuk industri pengolahan pati dan turunan pangan. Melihat kebutuhan tersebut, pemerintah memperkuat sinergi antara petani dan industri melalui pengembangan varietas jagung pangan sesuai kebutuhan industri.

”Direktorat Hilirisasi Hasil Tanaman bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung untuk memastikan pasokan industri berjalan berkelanjutan,” imbuh Silalahi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menegaskan pengembangan jagung pangan sangat memungkinkan dengan dukungan teknologi pengolahan yang semakin maju. Ia mengatakan, melalui penguatan kemitraan dan hilirisasi, jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan, tetapi juga sumber bahan baku industri pangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *