Catra Budaya

Mengenal Keuneunong, Kalender Khas Aceh

Masyarakat Aceh memiliki sistem penanggalan tradisional yang berbeda dari kalender Masehi maupun Hijriah.

Masyarakat aceh memiliki sistem penanggalan tradisional yang berbeda dari kalender masehi maupun hijriah
Kalender Aceh. (Dok maa.acehprov.go.id)

catrawarta.comMasyarakat Aceh memiliki sistem penanggalan tradisional yang berbeda dari kalender Masehi maupun Hijriah. Sistem tersebut dikenal dengan nama Keuneunong, sebuah kalender yang sejak lama digunakan untuk membaca musim, arah angin, peredaran matahari, hingga menentukan waktu bercocok tanam dan melaut.

Keuneunong berasal dari tradisi masyarakat Suku Kluet di Aceh Selatan. Kalender ini menjadi pedoman para petani dalam menentukan musim tanam dan panen padi, sekaligus membantu nelayan membaca perubahan cuaca dan musim angin.

Sistem penanggalan tersebut diyakini telah digunakan sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh. Meski tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali digunakan, Keuneunong telah menjadi bagian penting dari pengetahuan tradisional masyarakat Aceh selama berabad-abad.

Masyarakat aceh memiliki sistem penanggalan tradisional yang berbeda dari kalender masehi maupun hijriah
Manuskrip keuneunong koleksi Pedir Museum Aceh (dok Mongabay)

Orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, juga menyinggung Keuneunong dalam bukunya The Atjeher yang diterjemahkan oleh N.G. Singarimbun pada 1985. Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa Keuneunong dimulai pada tanggal 23 Jumadil Akhir dengan merujuk pada penanggalan Hijriah.

Bagi masyarakat Aceh, perubahan musim menjadi penentu utama aktivitas ekonomi. Sebuah ungkapan tradisional menyebutkan, “Musem timu jak tarek pukat, musem barat jak meuniaga.” Artinya, saat angin timur merupakan waktu yang baik untuk melaut, sedangkan musim angin barat lebih tepat dimanfaatkan untuk berdagang.

Sejak 2015, sistem Keuneunong diadopsi sebagai dasar penyusunan Kalender Aceh. Kalender ini tetap menggunakan tanggal Masehi sebagai acuan utama, namun dilengkapi perhitungan musim berdasarkan Keuneunong serta penanggalan Qamariyah untuk menandai hari-hari penting dalam tradisi Islam.

Kalender Aceh pertama kali diperkenalkan kepada publik pada peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriah dalam acara Aceh Hijriah Carnival.

Pendiri Institut Peradaban Aceh (IPA), Haekal Afifa, mengatakan Kalender Aceh memiliki keunikan yang tidak ditemukan dalam kalender Masehi maupun Hijriah karena memadukan unsur musim, budaya, dan tradisi lokal masyarakat Aceh.

Menurut Haekal, Keuneunong merupakan sistem penanggalan yang merujuk pada kondisi musiman, seperti musim hujan dan musim kemarau, yang menjadi dasar aktivitas masyarakat agraris dan maritim Aceh.

“Kalender juga dilengkapi dengan gambar sejarah, budaya, adat dan sastra Aceh,” terangnya.

Sementara itu, penulis dan pemerhati sejarah Aceh, T.A. Sakti, menjelaskan bahwa kalender Aceh memiliki 12 bulan yang sebagian besar berpadanan dengan bulan-bulan dalam kalender Hijriah.

“Dimulai dari beuluen Asan-usen atau Sausen yang bertepatan dengan Muharram. Nama ini merujuk pada peristiwa wafatnya Hasan dan Husen, cucu Nabi Muhammad SAW,” kata T.A. Sakti, Selasa (16/6/2026).

Setelah Asan-usen, terdapat bulan Sapha (Safar), Beuluen Mulot atau Mulot Phon (Rabiul Awal), Adoe Mulot atau Mulot Teungoh (Rabiul Akhir), Mulot Seuneulheuh atau Madika Phon (Jumadil Awal), serta Khanduri Boh Kayee (Jumadil Akhir).

Berikutnya adalah Khanduri Apam (Rajab), Khanduri Bu (Sya’ban), Puasa (Ramadhan), Uroe Raya (Syawal), Meuapet atau Meurapet (Dzulqaidah), dan Haji (Dzulhijjah). Setiap bulan memiliki tradisi dan upacara adat yang berbeda sesuai dengan siklus kehidupan masyarakat Aceh.

Nama-nama hari dalam kalender Aceh juga memiliki penyebutan khas, yakni Seulanyan (Senin), Seulasa (Selasa), Rabu, Hameh (Kamis), Djeum’at (Jumat), Sabtu, dan Aleuhad atau Ahad (Minggu).

Memasuki era digital, Kalender Aceh kini tidak hanya hadir dalam bentuk cetak, tetapi juga telah tersedia dalam format aplikasi berbasis Android sehingga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *