catrawarta.com — Teater Dinasty Yogyakarta kembali menghadirkan pertunjukan teater yang sarat kritik sosial melalui pementasan sandiwara tiga babak Penggali Kubur karya dan sutradara Eko Winardi. Pertunjukan bakal berlangsung dalam program Pentas Rebon pada Rabu, 1 Juli 2026, di TamanBudaya Yogyakarta.
Pementasan tersebut melibatkan sejumlah aktor senior Yogyakarta seperti Novi Budianto, Joko Kamto, Eko Winardi, Margono, Ningsih Maharani, dan Sita Nur Aina. Mereka tampil bersama para aktor muda serta puluhan generasi Alfa yang terlibat dalam proses kreatif produksi.
Berangkat dari kisah kematian seorang warga desa bernama Mulyono, ”Penggali Kubur” berkembang menjadi perjalanan menelusuri jejak kekerasan yang tersembunyi dalam sejarah sosial-politik Indonesia.
Melalui pendekatan dramaturgi kolase, pertunjukan ini memadukan realisme, satire kampung, ritual tradisi, laporan media, tari rakyat, dialog arwah, hingga orasi politik.
Sepatu Aparat
Simbol utama pertunjukan adalah “Sepatu Larsa”, sepasang sepatu aparat yang ditemukan menginjak tengkorak manusia di dalam liang kubur. Simbol tersebut menjadi metafora kekuasaan, militerisme, dan jejak panjang kekerasan yang terus berulang dalam berbagai zaman.
Meski mengangkat tema yang serius, pentas memanfaatkan humor rakyat sebagai medium kritik. Dialog para pelayat, parodi lembaga, dan berbagai plesetan sosial-politik menghadirkan tawa sekaligus refleksi mengenai komersialisasi duka, banalitas kekuasaan, dan berbagai absurditas kehidupan publik.
Pertunjukan juga menghadirkan unsur ritual, sesaji, ndadi, jodhang, dan dialog arwah yang menjadikan panggung sebagai ruang pengingatan kolektif. Arwah-arwah yang muncul merepresentasikan mereka yang pernah difitnah, dihilangkan, atau disingkirkan dari catatan resmi sejarah.
Pada bagian akhir, benturan antara warga sipil dan barisan “Sepatu Larsa” menjadi klimaks pertunjukan. Adegan tersebut menegaskan pertarungan antara ingatan kritis masyarakat dan berbagai upaya menutupi luka sejarah.
Melalui “Penggali Kubur”, Teater Dinasty Yogyakarta menegaskan bahwa teater bukan sekadar tontonan, melainkan ruang refleksi, kritik sosial, dan perlawanan kultural terhadap lupa. Sejarah yang dikubur tidak pernah benar-benar mati.

