catrawarta.com — Pemerhati budaya dan sastra Aceh, Teuku Abdullah Sakti atau T.A Sakti, menyayangkan semakin hilangnya penggunaan aksara Jawi di Indonesia. Padahal, menurutnya, aksara berbasis huruf Arab tersebut memiliki peran penting dalam sejarah peradaban dan literasi Nusantara.
Menurut T.A Sakti, kebudayaan suatu bangsa merupakan hasil perjalanan panjang yang berkembang secara bertahap dari masa ke masa. Salah satu penanda kemajuan peradaban adalah kemampuan masyarakat mengenal dan menggunakan sistem tulisan atau aksara.
“Hampir setiap bangsa yang memiliki peradaban tinggi mempunyai aksara sendiri. Jepang, Tiongkok, dan bangsa Arab masih memelihara serta menggunakan aksara mereka hingga saat ini. Indonesia juga pernah memiliki beragam aksara yang berkembang sejak masa lampau, salah satunya adalah aksara Jawi,” kata T.A Sakti, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa aksara Jawi pernah menjadi sarana komunikasi penting yang digunakan masyarakat di berbagai wilayah Nusantara. Bahkan, aksara tersebut berperan dalam memperkuat hubungan antarkerajaan dan antarsuku bangsa.
“Surat-menyurat diplomatik antara kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa lalu banyak menggunakan aksara Jawi. Para ulama dan cendekiawan juga menyebarkan ilmu pengetahuan melalui tulisan Jawi,” ujarnya.
Berkembang Luas di Aceh
Menurut T.A Sakti, penggunaan aksara Jawi di Aceh pada masa lalu sangat luas. Ia mengutip pandangan sejarawan dan budayawan Aceh, Prof. A. Hasjmy, yang menyebut bahwa banyak karya sastra dan keagamaan ditulis menggunakan huruf Jawi.

Karya sastra Aceh yang umumnya berbentuk puisi dikenal sebagai hikayat, sementara karya prosa banyak berupa mantra dan teks keagamaan. Selain itu, berbagai kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh maupun Melayu menggunakan aksara Jawi.
“Aksara Jawi bukan lagi budaya asing. Ia sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia dan pernah hidup dalam keseharian masyarakat selama berabad-abad,” katanya.
Karena itu, T.A Sakti menilai aksara Jawi layak dipelajari kembali oleh generasi muda sebagai bagian dari warisan intelektual bangsa. T.A Sakti mengungkapkan bahwa sejak masa awal kemerdekaan hingga awal 1960-an, banyak sekolah di Indonesia masih mengajarkan kemampuan membaca dan menulis aksara Jawi.
Selain digunakan dalam pendidikan, aksara Jawi juga banyak ditemukan dalam surat resmi kerajaan, naskah keagamaan, hingga dokumen-dokumen bersejarah yang sebagian di antaranya memuat kode atau pesan rahasia pada masa kolonial.
Namun seiring berkembangnya penggunaan huruf Latin, aksara Jawi perlahan ditinggalkan dan semakin jarang digunakan.
“Padahal masih banyak manuskrip dan peninggalan sejarah beraksara Jawi yang belum diteliti secara mendalam,” ujarnya.
Nasib Pegon dan Tradisi Literasi Nusantara
Selain aksara Jawi, keberadaan aksara Pegon yang berkembang di Jawa, Sunda, dan Madura juga hilang. Pegon merupakan sistem tulisan berbasis huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa-bahasa daerah di Nusantara.

Aksara Pegon berkembang sejak abad ke-16 bersamaan dengan penyebaran Islam dan banyak digunakan di lingkungan pesantren tradisional.
Menurutnya, hilangnya Pegon dan Jawi dari sistem pendidikan nasional bukan sekadar hilangnya sistem tulisan, melainkan juga memudarnya jejak kreativitas intelektual para ulama Nusantara yang membangun tradisi literasi secara mandiri.
“Jawi dan Pegon membuktikan bahwa tradisi baca tulis masyarakat Nusantara telah berkembang jauh sebelum lahirnya sistem pendidikan modern di Indonesia,” katanya.
T.A Sakti mengaku sependapat dengan pandangan yang menyebut penghapusan aksara Jawi dari sistem pendidikan merupakan kerugian besar bagi kebudayaan nasional. Karena itu, ia berharap pemerintah, akademisi, dan lembaga pendidikan memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian aksara Jawi dan Pegon.
“Warisan leluhur ini harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Kami berharap ada upaya untuk mengajarkan kembali aksara Jawi di sekolah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa,” ujarnya.

