catrawarta.com — Jawa Barat dikenal sebagai tanah kelahiran wayang golek dengan sejumlah dalang legendaris seperti Asep Sunandar Sunarya, Dadan Sunandar, Cecep Supriadi, dan Ade Kosasih. Di tengah tradisi yang kuat tersebut, lahir sebuah inovasi bernama Wayang Ajen yang digagas oleh Wawan Gunawan atau Ki Wawan Ajen.
Gagasan Wayang Ajen muncul saat Wawan menempuh pendidikan S-1 Seni Pertunjukan, khususnya seni pedalangan, di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1992. Selama kuliah, ia menemukan bahwa tradisi wayang golek tidak hanya berkembang di Jawa Barat, tetapi juga ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Kebumen dan Yogyakarta.
Saat itu, nama-nama dalang besar sudah memiliki identitas yang kuat. Setiap pertunjukan wayang selalu melekat dengan karakter sang dalang. Berangkat dari situ, Wawan yang bercita-cita menjadi dalang mulai memikirkan ciri khas yang dapat menjadi identitas dirinya.
Ia kemudian berkonsultasi dengan Prof. Arthur Supardan Nala, Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang saat itu masih bernama STSI Bandung.
“Saya bertanya kepada Pak Arthur, setelah lulus saya harus membawa apa ketika kembali ke Bandung. Beliau berpesan, ‘Wawan harus membawa sesuatu yang berbeda’,” kata Wawan, Jumat (12/6/2026).
Pesan tersebut menjadi titik awal lahirnya Wayang Ajen. Wawan kemudian menciptakan konsep baru yang menggabungkan unsur wayang, musik, tari, dan tata panggung dalam satu pertunjukan yang lebih dinamis.

Nama Wayang Ajen sendiri diberikan oleh Arthur. Kata “Ajen” berasal dari istilah Sunda “ajenan” yang berarti menghargai atau memberi nilai terhadap berbagai cabang seni yang dipadukan dalam pertunjukan tersebut.
Menurut Wawan, inovasi dalam dunia wayang bukan hal baru. Berdasarkan hasil risetnya, setiap generasi dalang selalu menghadirkan pembaruan yang kemudian menjadi pakem masing-masing.
“Yang membedakan Wayang Ajen dengan wayang golek lainnya adalah konsep dramaturgi. Semua pertunjukan dibangun berdasarkan riset. Saya tidak melanggar pakem para pendahulu, tetapi saya juga memiliki pakem sendiri,” ujarnya.
Pakem Spirit Sapta Ajen
Pakem tersebut disebut Spirit Sapta Ajen, yakni tujuh nilai yang menjadi landasan setiap pertunjukan, meliputi spiritualitas, budaya, kreativitas, ekonomi, komunikasi, komitmen, dan keberlanjutan. Setiap lakon yang dipentaskan harus mengandung ketujuh nilai tersebut.
Perjalanan memperkenalkan Wayang Ajen tidak selalu mudah. Pada awal kemunculannya, Wawan menghadapi kritik dan penolakan dari sebagian kalangan pecinta wayang maupun sesama dalang. Namun ia tetap konsisten melakukan riset dan inovasi.
“Dua tahun pertama penuh tantangan, lima tahun mulai stabil, dan setelah 10 tahun konsisten, Wayang Ajen akhirnya diterima,” katanya.
Konsistensi tersebut membuahkan hasil. Wayang Ajen telah tampil di berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, hingga Eropa. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika tampil di Siberia dalam sebuah festival yang didukung UNESCO.
Wayang Ajen juga meraih penghargaan internasional, termasuk medali emas dalam kompetisi seni budaya di Vietnam dan Prancis. Bagi Wawan, inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Ia meyakini seni bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti zaman.
“Wayang harus mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa kehilangan ruh dan nilai budayanya,” ujarnya.
Prinsip inovasi, adaptasi, kolaborasi, implementasi, dan keberlanjutan menjadi dasar pengembangan Wayang Ajen. Tokoh-tokoh pewayangan klasik tetap dipertahankan, namun dikemas dengan cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Melalui tokoh Pandawa dan Kurawa, misalnya, Wawan mengangkat berbagai isu kontemporer seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), korupsi, hingga kesenjangan akses pendidikan.
“Saya meminjam tokoh-tokoh pewayangan untuk menyampaikan pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini,” katanya.
Selain menghadirkan karakter ikonik bernama Ajen, Wayang Ajen juga memiliki dua tokoh komikal, SIGA (Si Gacor dan Si Gayor). Kedua tokoh tersebut digambarkan sebagai sosok kritis, jujur, cerdas, merakyat, tetapi kerap menjadi korban kesewenang-wenangan kaum yang berkuasa.

Bahasa Fleksibel
Dari sisi bahasa, Wayang Ajen bersifat fleksibel dan tidak terbatas pada bahasa Sunda. Pengalaman membuka sekolah dalang di berbagai daerah membuat Wawan memberi kebebasan kepada murid-muridnya menggunakan bahasa daerah masing-masing.
Di Bekasi, misalnya, seorang murid dari keluarga Batak diperbolehkan mendalang menggunakan bahasa Batak. Sementara seorang mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia pernah membawakan pertunjukan menggunakan bahasa Rusia untuk komunitas penutur bahasa tersebut.
Bahkan, Wawan pernah menampilkan dalang cilik yang menggunakan empat bahasa sekaligus, yakni bahasa pedalangan, bahasa Indonesia, Mandarin, dan bahasa Inggris. Ia pun akan merancang cerita yang dibawakan oleh orang Yunani dengan bahasa Yunani, karena negara tersebut memiliki pertunjukkan teater boneka sejak ribuan tahun lalu.
“Bahasa pedalangan tetap dipakai, tetapi suluk disesuaikan dengan karakter penonton. Generasi Z umumnya tidak menyukai suluk yang terlalu panjang,” ujarnya.
Inovasi juga dilakukan pada unsur musik. Lagu-lagu yang digunakan disesuaikan dengan selera penonton. Salah satu eksperimennya adalah menampilkan tokoh Cepot bermain skateboard dengan iringan lagu La Bamba yang dipadukan dengan irama kendang Sunda.
Konsep tersebut mendapat sambutan meriah dari penonton dan kemudian dikembangkan dalam berbagai pertunjukan Wayang Ajen. Pada aspek visual, pertunjukan didukung teknologi modern seperti layar LED berukuran besar, tata cahaya digital, hingga efek visual yang memperkuat suasana pementasan.
Inovasi lainnya adalah penciptaan Wayang Jumbo D’Bring, yaitu wayang golek tiga dimensi berukuran besar yang menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap pertunjukan.
Profil Singkat Wawan Gunawan
Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M. lahir di Ciamis pada 11 Desember 1969. Selain dikenal sebagai dalang dan budayawan, ia juga merupakan akademisi dan birokrat yang memiliki pengalaman panjang di bidang pariwisata dan kebudayaan.
Sejak Januari 2025, ia menjadi dosen Program Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Di pemerintahan, Wawan pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata (2015–2018) dan Direktur Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (2018–2023).
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Pertunjukan di ISI Yogyakarta, Magister Manajemen di Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia (IPWIJA) Jakarta, serta meraih gelar doktor bidang Kajian Budaya dan Pariwisata dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada 2015.

