catrawarta.com — Hari Konservasi Alam Sedunia diperingati setiap 28 Juli di berbagai negara. Pada 2026, peringatan tersebut jatuh pada hari ini, Selasa (28/7/2026).
Peringatan tahunan ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melihat kembali pentingnya merawat alam, menghargai serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan ramah lingkungan, termasuk udara, tanah, dan air.
Berdasarkan Daftar Merah Spesies Terancam Punah atau IUCN Red List yang diterbitkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 44.000 spesies hewan dan tumbuhan saat ini terancam kepunahan.
Ekosistem dan sistem kehidupan yang bergantung pada alam menghadapi tekanan berat akibat deforestasi yang terus berlangsung, hilangnya habitat, meningkatnya suhu global, serta berbagai faktor lainnya.
Hari Konservasi Alam Sedunia menjadi momentum bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menata kembali prioritas dalam pemulihan ekologi serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Sejarah Konservasi Alam
Berbeda dengan sejumlah Hari Internasional yang ditetapkan melalui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), gagasan mengenai Hari Konservasi Alam Sedunia berkembang melalui berbagai gerakan dan upaya konservasi selama bertahun-tahun.
Gerakan konservasi alam dapat ditelusuri antara lain dari berdirinya International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 1948 dan pembentukan IUCN Red List pada 1964.
Kehadiran IUCN Red List berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dunia terhadap ancaman yang dihadapi keanekaragaman hayati, termasuk berbagai spesies yang terancam punah.
Upaya konservasi alam juga berkaitan dengan sejumlah tonggak internasional, seperti Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem 2021–2030 dan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.
Tahun 2026 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan menuju target 2030 dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Negara-negara di dunia menargetkan perlindungan sedikitnya 30 persen wilayah daratan dan lautan bumi pada 2030 melalui inisiatif “30×30”.
Selain itu, dunia juga didorong untuk mengurangi jejak lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas produksi dan konsumsi.
Peringatan Hari Konservasi Alam Sedunia menjadi pengingat bahwa berbagai target internasional tersebut membutuhkan tindakan nyata, mendesak, dan berkelanjutan agar dapat tercapai.
Lima Fokus Konservasi Alam 2026
Upaya konservasi alam pada 2026 secara umum berfokus pada lima bidang utama yang saling berkaitan.
1. Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Upaya melindungi spesies yang terancam punah sekaligus mencegah hilangnya habitat dalam skala yang mengkhawatirkan.
2. Pemulihan Ekosistem
Memulihkan ekosistem yang mengalami kerusakan atau degradasi, termasuk hutan, lahan basah, terumbu karang, dan lapisan tanah.
3. Aksi Iklim dan Ketahanan
Mendorong upaya pengurangan emisi karbon dioksida sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat dan ekosistem dalam menghadapi cuaca ekstrem melalui solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions (NbS).
4. Pengendalian Polusi
Mengatasi berbagai bentuk pencemaran, termasuk polusi dari sumber non-titik, limpasan bahan kimia, serta sampah plastik yang mencemari sungai dan laut.
5. Target 30×30
Mempercepat upaya perlindungan kawasan daratan dan lautan dengan target melindungi sedikitnya 30 persen wilayah dunia pada 2030.

