catrawarta.com — Peristiwa penyerangan Kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada tahun 1996 merupakan salah satu sejarah kelam Indonesia. Orang-orang bayaran yang sudah dilatih menyerang membabi-buta hingga jatuh korban jiwa dan luka-luka.
Laporan Komnas HAM mencatat sebanyak 5 orang meninggal, 23 hilang tak diketahui keberadaannya, 149 mengalami luka berat dan ringan, serta 136 ditahan. Mereka merupakan korban bukan para penyerang. Hingga kini, mereka yang hilang tidak pernah ditemukan.
Sama halnya dengan korban penculikan para aktivis pro demokrasi. Sebanyak 13 aktivis hilang sampai sekarang tidak ada yang berani menyatakan bertanggung jawab.
Tidak ada upaya untuk mencari keberadaan mereka yang hilang akibat peristiwa politik, bahkan teman-teman aktivis yang sekarang berada di lingkaran kekuasaan juga tidak bisa menunjukkan keberadaan teman-temannya, atau keberadaan makamnya kalau memang sudah meninggal.
Kini, 30 tahun sudah penyerangan, penghilangan paksa para kader PDI diperingati. Jajaran DPP melakukan tabur bunga di sekitar kantor. Mereka berdoa sekaligus berefleksi.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto seperti dikutip dari akun @genbanteng mengungkapkan Peristiwa Kudatuli menunjukkan besarnya risiko ketika kekuasaan berjalan tanpa demokrasi dan keadilan. Karena itu, berbagai pelanggaran di masa lalu harus menjadi pelajaran supaya tidak terulang kembali.
Membangun Supremasi Hukum
Ia juga menegaskan pentingnya membangun supremasi hukum, menjaga kebebasan pers, kebebasan berserikat, dan menghadirkan hukum yang benar-benar berkeadilan. Itulah fondasi penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada peringatan tersebut, jajaran partai menggelar prosesi tabur bunga untuk mengenang para korban Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996. Pengurus PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning memimpin jalannya tabur bunga yang diikuti Bonnie Triyana, Ganjar Pranowo, Komaruddin Watubun, Adian Napitupulu, Tri Rismaharini, serta jajaran fungsionaris partai.
Bagi PDI Perjuangan, tabur bunga bukan cuman tradisi, tetapi bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk demokrasi dan keadilan harus terus dijaga.
Rangkaian memperingati Kudatuli sudah berlangsung beberapa waktu lalu. Termasuk salah satunya pameran foto dan pemutaran film penyerangan Kantor DPP PDI. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sendiri yang membuka pameran sekaligus menyaksikannya.
Seni dan Refleksi di Yogyakarta
Sementara itu, DPD PDI Perjuangan DIY menggelar rangkaian acara maraton dari sore hingga malam hari di halaman kantor Jalan Tentara Rakyat Mataram, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan diawali dengan Panggung Rakyat yang menghadirkan pertunjukan seni musik, pembacaan puisi, orasi dari berbagai elemen masyarakat, serta santunan 500 paket sembako. Berlanjut hingga malam hari, digelar doa dan tahlil bersama, pertunjukan opera, penyerahan bendera merah putih kepada sejumlah elemen masyarakat, serta ditutup dengan sesi dialog sejarah bersama para saksi peristiwa 27 Juli 1996.
Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Nuryadi, menyampaikan di bawah kepemimpinan Megawati, partai mengalami tekanan dan kekerasan yang sangat kejam oleh penguasa saat itu. Dalam Peristiwa Kudatuli ada yang terluka hingga terbunuh. Ia mengingatkan Peristiwa Kudatuli jangan sampai terulang kembali.
“Waktu itu di Jogja suasananya sangat menegangkan, nyaris tidak bisa membedakan mana teman mana musuh. Kita di Jogja bersiaga, terjadi insiden-insiden kecil, tapi tidak separah di DPP,” cerita Nuryadi.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu fondasi penting lahirnya era Reformasi. Semangat itulah yang wajib terus dijaga, keberanian membela konstitusi dan kepentingan masyarakat.

