catrawarta.com — Kebakaran lahan hutan melanda dua kawasan perbukitan di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Minggu sore hingga malam, 26 Juli 2026.
Peristiwa tersebut menghanguskan sedikitnya sekitar 8 hektare lahan yang tersebar di wilayah Kalurahan Wukirsari dan Kalurahan Selopamioro.
Kebakaran hebat yang terjadi di 8 titik berbeda ini memaksa proses pemadaman dilakukan secara manual akibat medan perbukitan yang sulit. Serta tidak dapat dijangkau oleh kendaraan armada pemadam kebakaran.
Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto mengatakan kebakaran pertama kali muncul sekitar pukul 15.00 WIB di kawasan perbukitan Dusun Putat, Kalurahan Selopamioro, lalu disusul kebakaran kedua sekitar pukul 16.00 WIB di kawasan perbukitan Kalurahan Wukirsari.
“Pada peristiwa di Selopamioro, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare dan seluruhnya merupakan tanah Sultan Ground yang berada di kawasan perbukitan, jauh dari permukiman warga,” kata Rita, Senin (27/7).
Rita merinci bahwa kobaran api di kawasan Selopamioro terdeteksi di 6 titik lokasi, yaitu 4 titik di sebelah barat akses masuk Dusun Bango serta 2 titik lainnya berada di area Dusun Putat.
Kemunculan si jago merah pertama kali diketahui oleh 2 orang saksi yang sedang berada di area perbukitan. Para saksi melihat adanya kepulan asap disertai kobaran api dari jarak sekitar 1 kilometer.
“Setelah mengetahui kejadian tersebut, mereka segera turun dari perbukitan untuk memberitahukan warga dan melaporkan kejadian itu kepada Damkar Sektor Imogiri serta Damkar Sektor Pundong agar dilakukan upaya pemadaman,” ujarnya.
Berselang satu jam dari kejadian pertama, musibah kebakaran turut melanda kawasan perbukitan Kalurahan Wukirsari.
Rita menyampaikan bahwa area yang terbakar di Wukirsari terbagi di 2 titik lokasi, yakni Dusun Karangasem RT 06 dan Dusun Nogosari RT 04, dengan estimasi total luas lahan mencapai 3 hektare.
Berdasarkan laporan para saksi di Wukirsari, kepulan asap awalnya terlihat dari area belakang rumah pada pukul 16.00 WIB.
Sekitar 20 menit berselang, asap tersebut telah berubah menjadi kobaran api besar berjarak kurang lebih 300 meter dari pemukiman.
“Setelah memastikan terjadi kebakaran, para saksi langsung memberitahukan perangkat wilayah dan melaporkan kejadian tersebut kepada Damkar Sektor Imogiri agar segera dilakukan penanganan,” ujarnya.
Proses pemadaman di kedua wilayah tersebut terpaksa dilakukan secara manual oleh gabungan warga, relawan, dan petugas dengan cara memutus rantai rambatan api karena medan perbukitan yang terlalu curam untuk dilewati mobil damkar.
Rita mengungkap hambatan di lapangan karena kondisi lahan yang terbakar dipenuhi ranting, dedaunan kering, serta vegetasi berupa pohon jati, bambu, dan sono sehingga api cukup mudah merambat.
“Beruntung lokasi kebakaran berada cukup jauh dari permukiman warga,” ujarnya.
Hingga Minggu malam, kobaran api di kawasan Wukirsari baru berhasil dipadamkan total dan relawan terus bersiaga melakukan pemantauan guna mencegah munculnya titik api baru.
Di sisi lain, proses pendinginan dan pengawasan ketat masih berlangsung di kawasan Selopamioro lantaran terdapat beberapa titik api yang belum sepenuhnya padam.
“Untuk penyebab kebakaran hingga saat ini masih dalam penyelidikan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan perbukitan yang saat ini banyak dipenuhi vegetasi kering akibat musim kemarau,” kata Rita.

