catrawarta.com — 28 Juli 1947 menandai berakhirnya jalan kehidupan bagi sang Komodor Muda Udara (Anumerta) Abdulrachman Saleh. Pria yang lahir di Batavia, 1 Juli 1909 ini sejatinya bergelar dokter namun memiliki kemampuan taktis di bidang penerbangan Indonesia.
Meski Abdulrachman Saleh berpulang, namun semangat dan jiwa nasionalismenya ini sukses mengantarkan perjuangan Indonesia kembali ke kedaulatan ibu pertiwi dalam Agresi Militer Belanda I.
Abdulrachman Saleh diketahui lahir di Kampung Ketapang dari ayah berprofesi sebagai dokter bernama Mohammad Saleh dan ibu Emma Naimah Saleh. Awalnya, dia mengagumi karir sang ayah sebagai dokter hingga mulai menekuni ilmu kedokteran.
Demi memuluskan jalannya sebagai dokter, Abdulrachman Saleh sempat belajar di sebuah perguruan tinggi kedokteran untuk pribumi bernama School Tot Opleiding can Inlandsche Artsen (STOVIA). Dia kemudian melanjutkan ke Geneeskundige Hoge School setelah STOVIA resmi ditutup.
Meski belajar kedokteran, Abdulrachman Saleh nyatanya juga mulai tertarik dengan berbagai organisasi kepemudaan yang ada kala itu. Dia pun memilih untuk bergabung sebagai anggtoa Jong Java, Indonesische Padvinderij Organisatie, hingga klub olahraga lainnya.
Dia juga aktif di bidang penyiaran radio dan penerbangan di sela-sela kesibukannya belajar dan mendalami ilmu kedokteran.
Mulai Berkarir
Usai tamat pendidikan, dia kemudian menjadi dosen di Nederlandsch-Indische Artan Schhol (NIAS) di Surabaya tahun 1942. Lalu dia ke Batavia dan menjadi professor di almamaternya, GHS.
Meski terikat dengan pekerjaannya sebagai dosen ilmu kedokteran, rupanya minat dan semangat Abdulrachman Saleh di bidang penyiaran radio masih ada. Dia bahkan diangkat sebagai pimpinan organisasi penyiaran radio berjuluk Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO).
Di tangannya pula, Lembaga Penyiaran Publik Indonesia yang kini RRI berdiri pada tanggal 11 September 1945. Setelah itu, Abdulrachman Saleh kemudian mengundurkan diri dan bergabung dengan TNI.
Di sana, dia bahkan ikut memprakarsai pembentukan TNI AU bersama Agustinus Adisoetjipto yang merupakan mantan muridnya sendiri di GHS. Setelah terbentuk, Abdulrachman Saleh turut menjadi instruktur penerbangan di Sekolah Penerbangan di Lapangan Udara Maguwo yang baru saja berdiri.
Berpulang 28 Juli 1947
Hingga pada Agresi Militer Belanda I, dia dan Adisoetjipto mendapat mandat untuk terbang ke India. Awalnya, mereka sukses terbang ke India dan Pakistan.
Namun saat perjalanan kembali ke Tanah Air, pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Belanda pada 28 Juli 1947 di Ngoto, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Padahal, saat itu dia diketahui tengah mengangkut bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.
Dengan bala bantuan keluarga bangsawan di wilayah terjatuhnya Abdulrachman Saleh, jenazahnya akhirnya dapat kembali ke Tanah Air dan dimakamkan secara layak di Pemakaman Kuncen di Yogyakarta.
Namun atas inisiatif TNI AU bersama persetujuan keluarga, makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Ngoto yang menjadi bagian Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto. Selain Abdulrachman Saleh, ada juga makam Ny. Ismudiati Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisoetjipto, hingga Ny. Adisoetjipto.
Hingga tanggal 9 November 1974, Abdulrachman Saleh mendapat gelar anumerta menjadi Marsekal Muda Udara dan juga Pahlawan Nasional Indonesia. Dia dianggap berjasa bagi Indonesia, baik sebelum hingga sesudah kemerdekaannya.
Untuk mengenang jasa-jasa dan dedikasinya yang tinggi bagi kedaulatan Indonesia, Pemerintah banyak mengabadikan namanya di berbagai lokasi. Di antaranya seperti Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang Jawa Timur, Auditorium Abdulrachman Saleh Gedung B Kantor LPP RRI di Jakarta Pusat, hingga panggilan akrabnya karbol untuk menyebut seluruh taruna Akademi TNI AU.

