Catra Budaya, Warta

Asalha Mahapuja 2026, Menag Ajak Umat Buddha Adaptif, Optimistis, dan Inklusif

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Buddha menjadikan perayaan Asalha Mahapuja sebagai momentum untuk memperkuat peran ajaran agama sebagai sumber kebijaksanaan

Menteri agama nasaruddin umar mengajak umat buddha menjadikan perayaan asalha mahapuja sebagai momentum untuk memperkuat peran ajaran agama sebagai sumber kebijaksanaan
Perayaan Asalha Mahapuja di Candi Borobudur, Jawa Tengah. (dok asalhapuja.or.id)

catrawarta.comMenteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Buddha menjadikan perayaan Asalha Mahapuja sebagai momentum untuk memperkuat peran ajaran agama sebagai sumber kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat.

Menag mengajak umat Buddha Indonesia untuk terus menumbuhkan tiga karakter penting, yakni adaptif, optimistis, dan inklusif.

“Adaptif berarti mampu merespons perubahan tanpa kehilangan jati diri. Optimistis berarti memandang setiap tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Inklusif berarti membuka ruang persaudaraan dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun budaya,” kata Menag dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).

Menurut Nasaruddin, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Namun, nilai-nilai luhur tidak boleh ikut hanyut oleh perubahan zaman.

“Justru di tengah derasnya arus globalisasi, ajaran agama harus menjadi kompas moral yang membimbing manusia agar tetap berjalan di jalan kebajikan. Mereka yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai akan menjadi pribadi yang tangguh sekaligus arif,” tegasnya.

Menag juga menilai optimisme merupakan energi spiritual yang penting untuk menghadapi berbagai tantangan. Menurut dia, Indonesia membutuhkan masyarakat yang tidak mudah menyerah dan putus asa.

“Harapan adalah kekuatan yang menggerakkan ikhtiar. Dengan optimisme, setiap persoalan akan dihadapi dengan kepala dingin, hati yang lapang, dan semangat untuk terus menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujarnya.

Nasaruddin mengatakan Indonesia telah membuktikan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dirawat dengan kebijaksanaan. Menurutnya, semangat adaptif, optimistis, dan inklusif tidak hanya penting bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi nilai yang dibutuhkan seluruh anak bangsa.

“Dengan karakter inilah kita dapat membangun Indonesia yang rukun, maju, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur agama serta budaya,” pungkasnya.

Menteri agama nasaruddin umar mengajak umat buddha menjadikan perayaan asalha mahapuja sebagai momentum untuk memperkuat peran ajaran agama sebagai sumber kebijaksanaan
Ilustrasi prosesi Asalha Mahapuja di Candi Borobudur. (dok Kemenag)

Makna Perayaan Asalha Mahapuja

Asalha Mahapuja merupakan peringatan penting bagi umat Buddha untuk mengenang saat pertama kali Buddha Gautama membabarkan Dhamma sekaligus terbentuknya Tiga Permata atau Tiratana, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Sang Buddha Gautama menyampaikan ajaran-Nya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana, Benares, India. Khotbah pertama tersebut dikenal sebagai Sutra Dhammacakkappavattana.

Asalha Mahapuja merupakan salah satu hari raya suci umat Buddha dan menjadi perayaan penting setelah Waisak.

Asalha merupakan nama bulan dalam penanggalan Buddhis, sedangkan dalam bahasa Sanskerta dikenal sebagai Asadha. Umat Buddha memperingati Asalha Mahapuja pada saat bulan purnama di bulan Asalha sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha.

Puja yang dilaksanakan bersamaan dengan Indonesia Tipitaka Chanting ini dikenal sebagai Asalha Mahapuja atau Puja Bakti Agung Asalha. Perayaan tersebut diikuti oleh belasan ribu umat Buddha dan dilaksanakan di pelataran Candi Borobudur.

Rangkaian acara diawali dengan prosesi Relik Agung Buddha Gotama dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *