catrawarta.com — Dua situs warisan maritim di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, menghadapi ancaman serius akibat faktor alam dan perubahan iklim. Kedua situs tersebut adalah Situs Benteng VOC dan Dermaga Kuno Pulau Cingkuak serta Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan.
Ancaman terhadap kedua situs tersebut terungkap dalam penelitian kolaboratif yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III.
Dari BRIN, penelitian melibatkan Pusat Riset Arkeologi, Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan (ALMBB), Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Pusat Riset Sistem Biota, dan Pusat Riset Ekologi.
Kedua situs tersebut merepresentasikan kekayaan warisan budaya maritim yang saling melengkapi. Situs Pulau Cingkuak merupakan tinggalan pelabuhan dan benteng kolonial di daratan, sedangkan Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan merupakan tinggalan kapal karam di bawah laut.

Pulau Cingkuak merupakan pulau kecil yang kini berkembang sebagai destinasi wisata bahari sekaligus kawasan cagar budaya di pesisir Sumatra Barat. Pulau ini berjarak sekitar 500 meter dari Pantai Carocok, Painan, dan dikenal memiliki reruntuhan Benteng VOC serta dermaga kuno.
Kawasan tersebut juga pernah menjadi lokasi loji atau kantor dagang pertama VOC di pantai barat Sumatra.
Sementara itu, warisan budaya bawah air tersimpan di Teluk Mandeh melalui Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan yang berada sekitar 20 kilometer di utara Kota Painan.
Situs tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari Taman Eco Arkeologi Laut atau Marine Eco Archaeological Park. Konsep ini dinilai dapat menjadi model pengembangan wisata ekoarkeologi maritim yang menggabungkan aspek pelestarian budaya, lingkungan, penelitian, dan pariwisata.
Hasil kajian menunjukkan, pengembangan terpadu kedua situs berpeluang menjadi daya tarik wisata berbasis pengetahuan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir melalui optimalisasi konsep ekonomi biru.
Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa didukung kajian ilmiah yang kuat. Penelitian, dokumentasi, basis data, laporan komprehensif, dan publikasi berkelanjutan dibutuhkan agar warisan budaya tersebut tidak berhenti sebagai objek wisata, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Peneliti Pusat Riset ALMBB BRIN, Ira Dillenia, menjelaskan kedua situs memiliki nilai penting dari sisi sejarah, arkeologi, dan lingkungan.
“Apabila tidak dikelola secara inklusif dan berkelanjutan, yang terancam bukan hanya tinggalan fisiknya, melainkan juga pengetahuan mengenai sejarah maritim Indonesia yang dikandungnya,” jelas Ira dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Menurut Ira, hilangnya tinggalan tersebut juga akan mengurangi kesempatan untuk memahami dinamika perdagangan, pelayaran, pemanfaatan sumber daya alam, serta perjuangan masyarakat pesisir di kawasan pantai barat Sumatra pada masa lalu.
Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat jaringan perdagangan penting di pantai barat Sumatra. Jaringan perdagangan itu terhubung melalui sejumlah muara sungai yang menjadi jalur distribusi sumber daya alam dan hasil bumi.
Abrasi Ancam Pulau Cingkuak
Penelitian multipihak tersebut juga menemukan bahwa perubahan iklim global memberikan tekanan nyata terhadap kedua situs warisan maritim tersebut.
Di Pulau Cingkuak, abrasi pantai terus berlangsung dan mengganggu stabilitas endapan pasir di sisi tenggara pulau.
Sebagian struktur Benteng VOC juga telah mengalami pelapukan dan keruntuhan akibat kombinasi pengaruh iklim pulau kecil, aktivitas gempa bumi, serta usia bangunan yang telah mencapai lebih dari tiga abad.
Sementara itu, pada Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan, hanya sebagian badan kapal yang masih terlihat jelas di dasar laut. Bagian lainnya telah tertutup endapan lumpur Teluk Mandeh.
Situs yang berada pada kedalaman sekitar 16 hingga 25 meter dari permukaan laut tersebut juga memperlihatkan peran ekologis yang penting.

Di sekitar bangkai kapal tumbuh ekosistem terumbu karang dan karang lunak yang menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan perairan, seperti tingkat kecerahan, suhu, padatan tersuspensi atau Total Suspended Solids (TSS), arus, dan gelombang.
Kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis ikan kerapu berukuran relatif besar. Secara arkeologis, posisi haluan kapal masih dapat diidentifikasi menghadap ke arah barat daya Teluk Mandeh.
Temuan ini menunjukkan bahwa situs warisan budaya bawah air tidak hanya memiliki nilai sebagai jejak sejarah, tetapi juga berfungsi secara ekologis sebagai habitat biota laut.
Rekomendasi Penyelamatan Situs
Berdasarkan berbagai metode dan pendekatan ilmiah terkini, penelitian tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk upaya penyelamatan kedua situs.
Rekomendasi mencakup strategi peningkatan ketahanan situs terhadap tekanan sosial, perubahan ekologi, dan dampak perubahan iklim global. Selain itu, diperlukan identifikasi risiko serta langkah mitigasi bencana untuk mengantisipasi berbagai ancaman pada masa mendatang.
Ira berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi landasan ilmiah berbasis bukti dalam penyusunan kebijakan dan peraturan daerah mengenai pelindungan, pengelolaan, serta pemanfaatan situs warisan maritim secara berkelanjutan.
“Upaya pelindungan tidak hanya bertujuan mempertahankan tinggalan fisik, tetapi juga memastikan nilai sejarah, pengetahuan, dan fungsi ekologis yang terkandung di dalamnya dapat terus dipahami dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” katanya.

