Pena Catra

Ketika Kesadaran (Mulai) Bangkit

Negara ini sedang dalam pusaran badai yang perlu kesadaran bersama. Tantangan ekonomi, gejolak geopolitik global, rentannya tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang dan...

Crowd of protesters with raised fists and banners marching toward a government building in the distance
Ilustrasi Demonstrasi Mahasiswa. (Sumber: catrawarta)

catrawarta.comAdakah yang lebih menggembirakan selain melihat mahasiswa bergerak memikirkan nasib bangsanya? Dimana pun di dunia ini, perubahan selalu dimulai dari kalangan terpelajar. Mereka memang penjaga hati nurani bangsa.

Tak perlu jauh-jauh melihat sejarah bangsa lain, Indonesia pun lahirnya diinisiasi oleh para mahasiswa. Tercatat, generasi 1908, generasi 1928, generasi 1945, generasi 1966, generasi 1998, meliputi para mahasiswa dan kaum intelektual. Berpendidikan, ada di antaranya dididik Barat, lalu menjadi protagonis lahir dan berkembangnya nasionalisme. Bahkan, generasi elite pertama negeri ini diduduki oleh kaum intelektual yang tahu dan mengalami penderitaan akibat penjajahan.

Negara ini sedang dalam pusaran badai yang perlu kesadaran bersama. Tantangan ekonomi, gejolak geopolitik global, rentannya tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan seperti dalam kasus MBG serta, terakhir, penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM, tak boleh dipandang sebagai masalah biasa. Logika demokrasi, mestinya, menyandarkan itu semua pada partai politik, wakil rakyat di DPR serta media. Namun yang terjadi, bak lingkaran setan karena antara legislatif dan eksekutif gagal memenuhi harapan publik.

Jika kemudian mahasiswa turun ke jalan, menyuarakan kegelisahan akan arah dan masa depan bangsanya, tak harus buru-buru dimaknai sebagai upaya melawan pemerintah. Tak perlu pula menganggap gerakan mereka ditunggani oleh pihak ketiga, meskipun tak sedikit kaum oportunis yang selalu membidik momentum untuk masuk dan menitipkan kepentingan mereka.

Yang kita hadapi, kalau boleh menggunakan kata ganti kita, adalah raksasa oligarkhi yang tak akan menyerah dalam berusaha sebelum aset dan potensi Indonesia habis dieksploitasi. Para pendiri bangsa ini telah menitipkan amanah sejarah sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Apa yang disuarakan para mahasiswa adalah mengajak kembali ke rel konsitusi, meneguhkan komitmen kebangsaan dan kenegaraan, lalu bersama-sama menghadapi badai. Harapannya, masa depan bagi mereka, para mahasiswa dan anak cucunya kelak, masih bisa melihat Indonesia yang indah, maju dan makmur.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mestinya melihat gerakan mahasiswa ini secara clear penuh wisdom. Jangan benturkan anak-anak pemilik masa depan bangsa itu dengan aparat. Jangan pula dengan pongah mengatakan, “anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Mahasiswa bukan anjing dan pemerintah bukan kafilah. Presiden Prabowo adalah anak bangsa yang dititipi amanah seluruh rakyat untuk memimpin bangsa Indonesia menapaki perjuangan mewujudkan cita-cita proklamasi.

Presiden tak perlu reaktif menghadapi demonstrasi para mahasiswa. Gerakan Reformasi 1998 perlu dijadikan cermin bersama bahwa sekali penyimpangan kekuasaan ditolerir maka taruhannya adalah masa depan 288,31 juta jiwa. Masih banyak anak bangsa yang kredibel dan berkompeten untuk duduk di kursi pemerintahan. Dalam beberapa hal, upaya untuk mengakomodasi kepentingan kelompok demi amannya kekuasaan sering mencederai hati nurani rakyat.

Bisa jadi waktu kita semakin terbatas. Akumulasi permasalahan sewaktu-waktu bisa meledak sebagai prahara. Jika semua tidak memiliki kesadaran bersama untuk menjaga Indonesia, bisa jadi kita tak lagi melihat negeri ini masih utuh dan bersatu pada 2045.

Ksatrian Sendaren, 13 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *