catrawarta.com — Andai Tanjung Verde menang saat melawan Argentina, pada babak knock out Sabtu 4 Juli 2026, betapa bangga seluruh rakyatnya. Negeri kecil di perairan Afrika itu merdeka pada 5 Juli 1975 dari Portugal. Tak kurang Presiden Tanjung Verde, José Maria Neves, all out memberi dukungan pada kesebalasan kebanggaannya.
Berpenduduk 529.000 jiwa, separuh penduduk Sleman, Tanjung Verde (Cape Verde atau Cabo Verde) mampu menyedot perhatian dunia. Secara meyakinkan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Bagaimana mungkin sebuah negara dengan luas sekitar 4 ribu km2 dan pendapatan perkapita sekitar 4.500 USD itu bisa menahan tim kuat seperti Spanyol (0-0), Uruguay (2-2), dan Arab Saudi (0-0)?
Mereka bisa lolos ke Piala Dunia 2026 dan melangkah dengan penuh keberanian. Mereka bukan pula sekedar pelengkap penderita, lolos dari putaran pertama ke babak knock out. Sayangnya, di babak 32 besar ini Tanjung Verde harus menghadapi juara bertahan Argentina dan kalah secara terhormat dengan 2-3. Mereka sudah memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki. Sampai perpanjangan waktu berakhir, Messi cs harus susah payah untuk bisa menaklukkan tim asuhan Pedro Leitao Brito ‘Babista’ ini.
Catatan penting perlu diberikan kepada tim Tanjung Verde. Tangan dingin pelatih timnas Pedro ‘Bubista’ Leitão Brito mampu membaca karakter masing-masing pemain dan menyuntiknya dengan kehormatan sebagai sebuah tim. Lama menjadi kapten timnas Tanjung Verde, nampaknya menjadikan Bubista mempunya bekal dan energi cadangan berlebih untuk bisa membangun rasa percaya diri tim. Menangani timnas sejak 2020, Bubista tidak saja membawa kebanggaan Tanjung Verde di berbagai kejuaraan Afrika tetapi juga meloloskan timnya ke Piala Dunia 2026 yang pertama kalinya.
Lebih dari sekedar taktik dan strategi, yang dibutuhkan anak asuhnya adalah sebuah kejayaan tidak saja bagi kesebelasan tetapi juga bagi Repubkik Tanjung Verde. Untuk itu, didukung postur tubuh khas Afrika, Bubista menyulap tim asuhannya seperti sekawanan Blue Sharks (Hiu Biru). Menyerbu dan menyerang tiada kenal lelah sepanjang pertandingan, rapi rapat dalam menjaga kandang, serta tetap dengan kehormatan sebagai bangsa pejuang. Ada ledakan amarah di dada, sebagai bangsa dengan sejarah perbudakan, yang berhasil dikekola Bubista menjadi energi juang sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat.
Tim Tanjung Verde boleh kalah melawan Argentina. Dan Lionel Messi, secara elegan mengakui dan mendatangi mereka, menyalami dan memeluknya satu demi satu. Kehormatan dia berikan untuk penjaga gawang veteran Josimar ‘Vozinha’ José Évora Dias (40 tahun) yang tampil prima sejak babak penyisihan. Tercatat enam kali Vozinha mematahkan tembakan Messi. Tak aneh, pertandingan antara Tanjung Verde vs Argentina dinilai sebagai permainan terbaik selama Piala Dunia 2026 setidaknya sampai babak knock out.
Sambil berharap PSSI mampu memetik pelajaran dari perjuangan Tanjung Verde, kita baca sebuah spanduk dari fans Tanjung Verde di tribun stadion. “Small Island, Big Dream, Refuse to Lose”. Terasa bergemuruh dada ini melihat impian sebuah tim dari negara sekecil Tanjung Verde yang, secara kasat mata, mereka perjuangkan di tanah lapang. Bagaimana Indonesia? Apakah tidak malu dengan Tanjung Verde?
Ksatrian Sendaren, 4 Juli 2026

Vozinha: Kemiskinan Mewarnai Masa Kecil Kami 