catrawarta.com — Cukup menarik membaca liputan Catrawarta.com yang berjudul “Biaya Sekolah Mahal, Mengapa Orangtua Memilih SD Swasta?“. Ada perubahan orientasi, dalam satu dasawarsa terakhir” pada diri orang tua saat hendak memilih sekolahan bagi anaknya. Mengapa fenomena ini terjadi?
Tanpa harus berpikir terlalu dalam, kita dengan mudah menemukan sejumlah permasalahan di masyarakat. Sedari belia, anak-anak sudah berinteraksi dengan gadget, dari bangun tidur sampai mau tidur kembali. Lingkungan, nyata maupun maya, mendukung untuk itu. Di sekolahan, perundungan menjadi momok yang mencemaskan, bahkan menakutkan, banyak orang tua. Sekali lepas dari rumah, selain bekal dan uang saku, doa tak putus dilangitkan setiap orang. Memperoleh makanan bergizi gratis tak selamanya menenangkan mereka mengingat berulang kali anak keracunan.
Di luar itu, banyak orang tua yang ‘ngelus dada’, prihatin melihat kondisi bangsa. Praktik kenegaraan, tidak saja belepotan dengan aroma korupsi dan penyelewengan jabatan, juga jauh dari etika kesopanan dan moralitas. Tak ada keteladanan meski itu hanya dalam ucapan. Tak pernah bisa dimengerti dan masuk nalar bagaimana mungkin seorang pemimpin dari 287.198.400 jiwa yang tersebar di 38 provinsi bisa mengolok-olok, nye nye nye, pada rakyat yang harus dilindunginya?
Realitas kehidupan pun tak cukup membuat orang tua optimis terkait masa depan anak-anaknya. Peluang dan kesempatan kerja menyempit, 60.000 calon mahasiswa mundur meskipun telah lolos dalam SNBP dengan tidak daftar ulang. Belum lagi, arah dan orientasi pendidikan nasional kita tidak saja menjauh dari amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa”, tetapi menjadikan anak didik tak lebih robot bagi mesin besar kapitalisme.
Masih banyak rentetan permasalahan yang ada di depan mata dan dirasakan orang tua. Tindak asusila yang semakin brutal dan vulgar, rusaknya ekosistem lingkungan alam, dan pengaruh massif budaya poluler, cukup menjadikan orang tua pasang kuda-kuda. Uang bisa dicari, tetapi selagi salah arah sejak dini, tanggungan dosa orang tua tak bisa diampuni.
Dalam konteks itu, pilihan orang tua untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta berbasis agama bisa dimaklumi. Meletakkan moralitas agama dalam kehidupan seorang anak manusia adalah kewajiban orang tua. Ketika peran keluarga tersedot untuk urusan ekonomi, yang konsekuensi logisnya mengurangi jam keluarga, menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama adalah pilihan terbaik. Apakah, dengan demikian, orang tua bisa lepas tangan terhadap pendidikan anak? Salah besar! Dan ini yang harus diantisipasi serta diwaspadai orang tua.
Orang tua tetap harus jeli, teliti dan kritis terhadap tumbub kembang anak, di satu sisi, dan praktik belajar mengajar di sisi lain. Selain harus proaktif, orang tua juga harus memantau bagaimana sekolah beroperasi dan menjalankan misi pendidikannya. Orang tua dan lingkungan, merupakan bagian wawasan wisata mandala yang harus saling bersinergi dan memperkuat. Waktu anak sebagian besar bisa dihabiskan di sekolahan, maka keluarga harus menjadi ruang yang paling aman dan nyaman bagi anak agar bisa optimal pertumbuhannya.
Pelan-pelan kita dorong agar sekolah mampu menjadi taman yang inspiratif, kreatif dan benar-benar edukatif yang menyenangkan bagi anak. Lebih baik, berakit-rakit ke hulu agar kelak, kita dan orang tua, bisa melihat anak-anak berenang-renang ke tepian. Ada kalanya kita harus benar-benar tut wuri handayani membimbing anak di zaman yang sedemikian maju, setelah sebelumnya kita memberi teladan (sung tuladha) dan memotivasinya (mangun karsa) pada anak-anak.
Satu hal, bolehlah diingat petikan kata-kata indah Kahlil Gibran berikut sebagai pesan peradaban:
“Kamu boleh memberi mereka cintamu, tetapi jangan berikan pikiranmu, Karena mereka memiliki pemikiran sendiri.Kau mungkin menampung jasad mereka, tetapi bukan jiwa mereka,Karena jiwa mereka bersemayam di rumah masa depan, yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan dalam mimpimu sekalipun”.
Hidup memang tak surut ke belakang. Hidup harus dan terus maju ke masa depan. Bilapun harus menengok ke belakang, tengoklah sejarah kita masing-masing dan jangan sekalipun kita ulangi untuk anak-anak kita. Itulah makna ungkapan Latin “Historia magistra vitae est”, Sejarah adalah guru kehidupan, yang pernah ditulis Marcus Tullius Cicero, dalam karyanya, De Oratore. Selamat berjuang, semoga berkah setiap langkah.
Ksatrian Sendaren, 30 Juni 2026

