catrawarta.com — Tiga orang calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto menilai Latsarmil bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Dua fakta yang menarik untuk dielaborasi.
Pada masa penjajahan, berperang melawan musuh, dengan mengangkat senjata, adalah kebanggaan bagi prajurit atau laskar. Ada kehormatan yang harus dijaga, ada kemerdekaan yang harus direbut. Beda lagi dengan para cendekiawan dan intelektual. Mereka tidak saja melawan dengan tulisan tetapi juga mendirikan organisasi. Ide dan pemikiran tentang kemerdekaan sama pentingnya dengan tajamnya peluru. Kedua model perlawanan, memiliki konsekuensi sama yakni ditangkap dan dipenjara penguasa kolonial.
Zaman berubah. Kemerdekaan berhasil diraih. Dan semangat nasionalisme atau rasa cinta tanah air, mestinya, juga mengalami transformasi. Semangatnya, bukan lagi “Berani mati” atau “Sampai titik darah penghabisan”, tetapi siapa yang berani hidup. Hidup bukan sekedar hidup tetapi hidup yang bermanfaat dan memberi cahaya bagi kehidupan. “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”, kata Hamka abad silam.
Maka, hidup harus cerdas, kerja harus taktis, karena tantangan zaman semakin kompleks. Ilmu menjadi kunci, kompetensi menjadi andalan, dan manfaat menjadi asas kehidupan. Saat pengaruh asing, tanpa sekat dan hambatan, bisa masuk ke ruang intim keluarga, masih relevankah koar-koar patriotisme dan nasionalisme? Ketika kita sudah sedemikian asing dengan adat dan tradisi budaya, sambil membanggakan produk asing, masih logiskah kita bicara kedaulatan bangsa?
Jawaban normatifnya, masih. Tetapi bagaimana formulasi dan strategi kebudayaan yang tepat dan harus kita kembangkan agar bangsa ini tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Itulah pentingnya kita memiliki strategi kebudayaan. Bagaimana bisa kita mendidik calon manajer dengan kemiliteran sedang masalah yang mereka hadapi adalah rendahnya daya beli masyarakat, serbuan produk impor, dan terbatasnya produk UMKM yang bisa menopang kelangsungan koperasi?
Pendekatan kuantitatif, dengan membanggakan jumlah koperasi yang dibangun, mestinya segera direvisi. Asas dasar koperasi adalah kedaulatan anggota, bukan model top down dengan melibatkan aparat militer dan polisi. Dalam skala yang lebih luas, pemerintah harus berani banting stir dengan keberpihakan yang jelas pada perekonomian rakyat. Koperasi, sesuai ide Bung Hatta, memang pilar utama perekonomian bangsa. Tetapi model dan pendekatan yang digunakan juga harus match dengan semangat hidup rakyat yang berbasis gotong royong, bukan model proyek.
Kita berharap, ada evaluasi menyeluruh, tidak saja pada KDMP tetapi juga sistem perekonomian nasional. Kembali ke amanat konstituasi, kembali ke jati diri koperasi, kembali ke akan kemana bangsa ini diarahkan. Di ujung sana, nasib rakyat benar-benar sedang dipertaruhkan. Kita tak tahu pasti seberapa lama rakyat bisa menahan kesabaran atas semua distorsi yang dilakukan pemerintah. Semoga sejarah masih membuka pintu bagi bangsa ini untuk me-recovery perekonomian dan kehidupannya.
Ksatrian Sendaren, 25 Juni 2026

91 Tahun Taufiq Ismail, Kritik Bangsa Lewat Puisi 