catrawarta.com — Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026). Kehadiran rumah sastra ini diharapkan menjadi pusat literasi sekaligus ruang pembelajaran yang menjaga warisan intelektual salah satu sastrawan terkemuka Indonesia.
Dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (28/6/2026), Fadli Zon mengatakan Rumah Sastra Ahmad Tohari memiliki peran strategis dalam memajukan budaya literasi di tengah masyarakat.
“Rumah Sastra Ahmad Tohari memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang tidak hanya menjaga warisan intelektual seorang sastrawan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan inspirasi bagi masyarakat,” ujar Fadli Zon.
Menurutnya, perpustakaan dan rumah baca yang berada di kompleks rumah sastra tersebut setiap hari dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memanfaatkan koleksi buku serta mengikuti berbagai kegiatan literasi.
Peresmian Rumah Sastra Ahmad Tohari merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Kementerian Kebudayaan dalam mendukung inisiatif pemajuan kebudayaan yang tumbuh dari komunitas.
“Rumah baca dan perpustakaan Ahmad Tohari ini diharapkan menjadi perpustakaan yang hidup, menjadi kantong budaya, serta menjadi ruang bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan yang berlangsung secara berkesinambungan,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Tohari menyambut baik revitalisasi rumah sastra yang telah lama dikelolanya. Menurutnya, rumah sastra tersebut selama ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
“Banyak pengunjung dan diskusi lintas generasi di perpustakaan yang saya kelola,” kata penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu.
Mahakarya Ahmad Tohari
Nama Ahmad Tohari dikenal luas melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yang terdiri atas novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986). Trilogi tersebut kemudian diadaptasi ke layar lebar.
Ronggeng Dukuh Paruk mengangkat kehidupan masyarakat pedesaan Banyumas dengan memadukan kisah cinta, kebudayaan lokal, serta tragedi kemanusiaan yang berkaitan dengan peristiwa 1965.
Pada 2014, novel tersebut juga diterbitkan dalam format audio oleh Digital Archipelago dengan budayawan Butet Kartaredjasa sebagai pengisi suara.
Karya itu telah diterjemahkan ke dalam sedikitnya lima bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang, sehingga menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang dikenal luas di tingkat internasional.
Perkuat Ekosistem Sastra Nasional
Fadli Zon menilai karya sastra Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menjangkau pembaca internasional secara lebih luas. Karena itu, Kementerian Kebudayaan terus memperkuat ekosistem sastra nasional melalui berbagai program strategis.
Program tersebut antara lain Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra Indonesia, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra berbasis Intellectual Property (IP).

