catrawarta.com — Kekacauan gempa Venezuela telah mengakibatkan frustasi petugas dan warga yang terdampak. Banyak orang membanjiri daerah gempa membuat penyelamatan menjadi sulit. Kondisi serupa pernah terjadi ketika gempa melanda Yogyakarta, 2006 silam. Orang berdatangan dengan niat membantu tetapi justru membuat situasi kacau.
Pemerintah dan petugas lapangan harus secara ketat dan tegas mengatur arus masuk dan keluar orang di lokasi gempa. Bahkan saat gempa Yogyakarta, warga dan korban di lokasi terdampak sampai memajang tulisan besar-besar agar para ”pelancong” tidak memasuki lokasi meskipun dengan dalih menyalurkan bantuan.
Situasi yang sama terjadi di Venezuela setelah beberapa hari gempa menurut laporan AP News. Begitu pula cnnwolrd yang melaporkan jumlah korban jiwa telah mencapai 1.430 orang. Belum lagi yang tidak terhitung karena hilang atau berada di reruntuhan. Jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu.
Gempa bumi dasyat berkekuatan 7,5 dan 7,2 M melanda Venezuela. Negara dan masyarakat yang tidak siap menghadapi gempa menjadikan kepanikan luar biasa. Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menemukan korban selamat di reruntuhan.
Kurangnya alat berat dan gempa susulan yang terus terjadi hingga ratusan kali menyulitkan upaya penyelamatan. Setelah gempa terjadi 24 Juni 2026 lalu, ratusan kali gempa susulan membuat warga ketakutan dan menambah korban.
Bantuan Internasional
Salah satu pejabat tinggi Venezuela, Rodríguez mengungkapkan pemerintah telah melakukan militerisasi total di La Guaira. Langkah tersebut diambil dengan harapan dapat mengendalikan situasi. Caranya, membatasi akses ke zona gempa hanya bagi petugas darurat dan personel resmi.
Langkah tegas tersebut diambil karena banyak warga sipil dari berbagai wilayah berdatangan ingin membantu pencarian dan evakuasi. Masyarakat melakukan hal itu karena merasa pemerintah dan petugas lapangan lamban menangani korban.
Meskipun tak bisa masuk ke lokasi gempa, masyarakat tetap berupaya memberikan bantuan. Mereka memadati jalan-jalan menuju wilayah terdampak sembari membawa makanan, air, pakaian, berbagai peralatan dan bantuan medis.
Kondisi di lapangan memperlihatkan rumah sakit kewalahan menangani korban luka akibat sistem layanan kesehatan Venezuela yang telah terbengkalai selama puluhan tahun. Warga merasa frustrasi dengan lambatnya jalannya operasi penyelamatan.
Upaya penyelamatan akan mencapai titik kritis setelah lebih tiga hari sebagai batas maksimum korban gempa dapat bertahan. Rentang waktu krusial untuk menyelamatkan mereka yang masih terjebak di bawah reruntuhan tampaknya telah habis.
Peluang Hidup Tipis
Setelah tiga hari, peluang seseorang untuk bertahan hidup tanpa air menurun drastis. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyelamatan korban selamat masih bisa terjadi dalam kurun waktu lima atau enam hari pertama setelah bencana.
Salah satu tim penyelamat, David Emmanuel Villa Tejeda, yang berada di Caracas bersama tim penyelamat dari Meksiko mengungkapkan kesulitan di lapangan. Bangunan-bangunan rusak sangat tinggi dan jumlah lokasi yang harus disisir begitu banyak.
Petugas penyelamat dari berbagai penjuru dunia ikut memberikan bantuan penyelamatan yang sejauh ini belum terkoordinir dengan baik. Warga sipil tak mau dicegah, mereka bergegas membawa sekop dan air ke lokasi bencana menggunakan sepeda motor, tim medis bergerak dengan truk pikap, sementara pemerintah yang kewalahan berupaya menertibkan situasi.

