Warta

Pasar Kangen sudah Usai, Masih Ada Kotagede!

catrawarta.com — Gelaran Pasar Kangen yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, berakhir Minggu ini. Ratusan UMKM kuliner dan barang antik memenuhi seluruh...

Women at a street market stall serving bowls of food price signs show 10k in the background warm daytime scene
JADUL: Salah satu kuliner jadul khas Kotagede, Katon Jenang Gempol Morojoyo.(Sumber: dok catrawarta)

catrawarta.comGelaran Pasar Kangen yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, berakhir Minggu ini. Ratusan UMKM kuliner dan barang antik memenuhi seluruh gerai. Tidak ada tempat yang tersisa, bahkan banyak yang tidak bisa masuk karena tidak lolos kurasi.

Setiap tahun, peserta harus menjalani kurasi untuk menentukan dapat memperoleh tempat atau tidak di Pasar Kangen. Calon peserta bisa mencapai ribuan tetapi daya tamping sangat terbatas sehingga hanya sebagian yang bisa masuk mengisi gerai di sana.

Terbatasnya waktu dan tempat membuat tidak semua orang terutama wisatawan kebagian jatah mengunjungi Pasar Kangen. Apalagi lokasinya sempit dan penuh sesak. Lautan manusia dan kendaraan jadi satu.

Namun jangan sedih karena tak bisa melihat langsung Pasar Kangen. Masih ada satu tempat yang jauh lebih kumplit dan setiap hari buka, tidak pernah tutup, Kotagede! Kota tua yang penuh dengan bangunan ikonik dan khas jaman dulu ini menyajikan wisata lengkap.

Kuliner Jadul

Memasuki Kotagede seperti pertama kali menginjakkan kaki di Bali. Ada rasa dan getaran yang membisikan kata, inilah Kotagede. Tambah lagi, ketika menyusuri gang-gang dan menyaksikan keramaian di pasar yang menyajikan berbagai jajanan jadul.

Pagi, siang, malam, seakan tidak pernah ada matinya. Khusus malam, hingar binger pasar dan sekitarnya membuat pengunjung malas meninggalkannya. Ada banyak jajanan khas yang saying untuk dilewatkan. Salah satunya Katon Jenang Gempol Morojoyo, usaha kuliner milik Wulan, warga Kotagede.

Ia bersama keluarga sejak 2018 konsisten melestarikan jenang gempol dengan resep tradisional. Berangkat dari keinginan menghidupkan kembali jajanan yang mulai sulit dijumpai, Wulan menjadikan jenang gempol sebagai menu andalan usahanya.

Jenang gempol, jelas Wulan, merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung beras, terdiri atas bubur sumsum coklat dan adonan beras yang dibentuk bulatan putih kemudian disajikan dengan kuah santan. Gurih, manis jadi satu. Teksturnya yang lembut menjadikan kuliner ini begitu legit di mulut.

Pertahankan Cita Rasa

”Mempertahankan cita rasa asli menjadi komitmen yang terus kami jaga sejak Katon Jenang Gempol Morojoyo berdiri. Seluruh proses pengolahan dilakukan dengan resep tradisional agar karakter jenang gempol tetap terpelihara,” tuturnya.

Jenang gempol biasanya menjadi hidangan penutup makan utama. Tetapi bukan sekadar itu. Jenang gempol merupakan bagian dari warisan kuliner Yogyakarta yang harus dijaga keberadaannya. Ia erharap masyarakat tidak hanya menikmati rasa namun lebih dari itu, mengenal kekayaan kuliner tradisional khas Yogyakarta.

Selain jenang gempol ada pula kue kipo yang juga khas Kotagede. Kue berbentuk panjang sebesar jari orang dewasa itu terbuat dari tepung dengan isian kelapa manis. Rasanya juga legit dan pasti membuat ketagihan.

Nah, mumpung liburan cukup panjang, jalan-jalanlah ke Kotagede. Tak cukup sehari, luangkan waktu beberapa hari karena ada banyak destinasi di sana, termasuk Madjid Kotagede dan makam raja-raja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *