Catra Cendekia, Warta

Biaya Sekolah Mahal, Mengapa Orangtua Memilih SD Swasta?

catrawarta.com — Di tengah gelombang pertanyaan biaya sekolah mahal, sejumlah sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman kekurangan murid. Ada sekolah...

Group of schoolchildren in white shirts and red pants lined up outdoors hands extended to receive items from adults wearing colorful headscarves and coats at a school event
KURANG: Ilustrasi siswa SD menjelang masuk kelas.(Sumber: Kabar Jogja RBTV)

catrawarta.comDi tengah gelombang pertanyaan biaya sekolah mahal, sejumlah sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman kekurangan murid. Ada sekolah yang hanya memperoleh 10 murid baru dalam penerimaan murid baru tahun 2026. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo heran dengan fenomena tersebut.

Kendati demikian, sebenarnya fenomena orangtua enggan menyekolahkan anak usia SD ke sekolah negeri lebih banyak karena pertimbangan pribadi. Bukan soal ekonomi tetapi ada faktor lain yang mereka pertimbangkan.

Salah satu orangtua calon siswa, Rido Zakaria mengungkapkan pertimbangan menyekolahkan anaknya ke TK maupun SD swasta bukan semata-mata persoalan ekonomi. Ia akan berusaha sekuat tenaga mencari tambahan biaya guna memasukkan anaknya ke sekolah swasta.

Sekolah yang ia tuju – begitu pula sejumlah orangtua lain – bukan asal swasta. Ia memilih sekolah swasta berbasis agama. Mayoritas memilih sekolah berbasis agama Islam, Kristen, Katolik. Mengapa demikian? Satu pertimbangan kuatnya, ingin memberi basis agama kepada anak-anaknya.

”Anak-anak dalam situasi sekarang harus memperoleh dasar keagamaan yang kuat. Kalau di sekolah negeri sepertinya kurang basis agamanya,” ungkap Rido dibenarkan orangtua lainnya.

Basis agama – paling tidak – harus ditanamkan sejak dini. Kecuali dari keluarga dan lingkungan, sekolah setingkat TK dan SD juga sangat penting. Mereka percaya pendidikan agama tingkat dasar menjadi landasan bagi anak-anak menjalani kehidupan.

Negeri Pilihan SMP

Sekolah negeri menjadi pilihan ketika anak-anak mulai memasuki jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Nah, pada jenjang ini pilihan sekolah negeri lebih realistis karena murah alias tidak berbayar karena pemerintah memang sudah mencanangkan gerakan pendidikan dasar 9 tahun, SD 6 tahun dan SMP 3 tahun.

Enam tahun sudah cukup bagi orangtua memberi pendidikan dasar keagamaan. Pada jenjang berikutnya di SMP, anak-anak tinggal melanjutkan dan memantapkan pendidikan agamanya.Orangtua bisa lebih lega dan iklas melepas anak-anak sekolah negeri.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga mengakui banyak orangtua mempertimbangkan aspek keagamaan agar anak-anaknya tumbuh baik keimanannya. Karena itu, ia juga mendorong sekolah-sekolah negeri terutama SD untuk memperkuat aspek religiusitas.

Data menyebutkan, SD negeri di Yogyakarta kekurangan hingga sekitar 1.000 siswa baru. Melihat kondisi tersebut, Hasto juga minta supaya sekolah berinovasi menyampaikan promosi ke orangtua. Promosi bisa berupa kegiatan sekolah maupun prestasi yang diraih siswa dan guru.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, Budi Santoso Asrori menambahkan tingkat keterisian siswa baru SD hanya 75 persen. Total kapasitas sebenarnya 3.700 siswa namun hanya terisi 2.700 siswa baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *