Catra Cendekia

Berbasis Realitas, Dokumenter Rekam Kenyataan yang Tidak Diketahui Publik

catrawarta.com — Ada banyak hal yang tidak diketahui publik dan baru terungkap ketika ada dokumentasinya, seperti yang terlihat pada film ”Pesta Babi:...

Poster for the film eksil by lola amaria showing a person with a blue rolling cart walking down a walkway toward a building large yellow title eksil at the bottom with the subtitle a film by lola amaria
EKSIL: Ilustrasi film dokumenter Eksil yang juga pernah dilarang untuk nobar.(Sumber: youtube)

catrawarta.comAda banyak hal yang tidak diketahui publik dan baru terungkap ketika ada dokumentasinya, seperti yang terlihat pada film ”Pesta Babi: Kolonialisme Zaman Kita”. Atau sebelumnya juga ada dokumentasi yang setelah sekian tahun baru tayang, ”Eksil”.

Keduanya memberi nuansa lain dalam dunia film. Eksil agak unik, menceritakan orang-orang yang dituduh terkait dengan G30S/PKI tetapi tidak ada proses hukumnya. Mereka yang sedang tugas belajar, kebanyakan mahasiswa, tak bisa pulang dan menetap di berbagai negara.

Film ini juga mengalami hal yang sama dengan Pesta Babi, dilarang ditonton bersama alias nobar. Namun film sarat penghargaan tersebut kemudian malah bisa tayang di bioskop-bioskop.

Pengamat film yang juga dosen Fisipol UGM, Dr Budi Irawanto mengungkapkan, film dokumenter kerap menjadi sarana untuk merekam realitas sekaligus membuka ruang diskusi. Seperti halnya Pesta Babi yang sedang naik daun karena mengangkat sisi lain perjuangan masyarakat adat di Papua.

Sinema tersebut sukses mencuri perhatian publik hingga melahirkan fenomena nonton bareng di berbagai tempat maupun memicu beragam reaksi.

Film dokumenter, jelasnya, memiliki karakter yang berbeda dengan dokumentasi biasa karena bisa merepresentasikan berbagai persoalan sosial, politik, kultural. Dokumenter merupakan karya yang berangkat dari realitas, tetapi tetap melibatkan perlakuan kreatif dari pembuat film.

”Film dokumenter basisnya pada realitas atau aktualitas, tetapi juga ada perlakuan kreatif terhadap film itu. Ada editing, ditambahkan musik, dan berbagai elemen lain,” ujar Budi dalam keterangan tertulisnya belum lama ini kepada media.

Bukan Imajinasi Semata

Menurutnya, dokumenter selalu mengajukan klaim kebenaran dengan dasar estetika realitas. Meskipun menggunakan berbagai teknik kreatif, isi dan muatannya tetap berangkat dari fakta, bukan semata-mata hasil imajinasi.

Kelebihan film dokumenter memiliki kemampuan untuk mengangkat berbagai persoalan sosial politik yang selama ini tidak banyak diketahui publik. Bahkan, media arus utama tidak bisa menyampaikannya karena berbagai kendala. Akhirnya, semua itu terungkap melalui dokumenter.

Kekuatan dokumenter, jelasnya, tidak hanya terletak pada penyampaian fakta, tetapi juga pada kemampuannya menyentuh aspek emosional penonton. Di samping mengajak berpikir secara rasional, dokumenter juga menghadirkan pengalaman afektif melalui gambar, suara, musik, hingga ekspresi ”artis”.

Film Pesta Babi tentang Papua menjadi menarik karena menampilkan kondisi lingkungan, ekspansi proyek pembangunan dan korporasi di wilayah adat, serta kehidupan masyarakat Papua. Banyak orang tidak mengetahui kondisi di sana yang sebenarnya.

”Berita Papua tidak cukup banyak di media kita karena masih Jawa-sentris. Informasi yang dibawa film ini menjadi sesuatu yang bagi publik jarang ditemukan di media arus utama,” jelas Budi.

Penonton Merasa Dekat

Ia menambahkan, dokumenter mampu menghadirkan wajah-wajah nyata, ekspresi kekecewaan, ketakutan, dan kecemasan masyarakat pada suatu persoalan. Itu menjadi kekuatan yang sulit diperoleh melalui laporan tertulis semata. Film memiliki teknik ”close up” membuat penonton menjadi dekat dengan subjek atau para pemainnya.

Salah satu kekuatan utama film dokumenter muncul setelah selesai pemutaran yang biasanya diikuti ruang diskusi untuk memaknai pesan. Gagasan dalam film terdiseminasi, seperti di Pesta Babi yang ada simbol salib merah dan penggambaran lainnya.

Pembubaran pemutaran film atau intimidasi terhadap kegiatan diskusi, imbuhnya, sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip demokrasi. Pada ruang publiklah orang bisa mendiskusikan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan publik tanpa intervensi kekuasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *