catrawarta.com — Kisah perundungan yang mengakibatkan korban sampai menderita gangguan mental dan nyaris mengambil jalan pintas menjadi perhatian banyak pihak. Dinas Pendidikan dan Olahraga DIY belum mengetahui kebenarannya karena pelapor menggunakan akun anonim dalam media sosialnya di Threads.
Pihak sekolah yang diketahui merupakan SMA Negeri 2 Bantul pun tak mau memberi komentar atas unggahan yang viral tersebut. Sekolah memilih diam dan mengatakan baru mendalami serta membicarakan kasus itu dengan instansi terkait.
Pada unggahan akun Threads gh05tx0, diceritakan perundungan berakibat fatal. Dampaknya, kondisi kejiwaan korban menjadi labil bahkan nyaris mengakhiri hidup. Ia kini tergantung obat-obatan dari psikiater dan tidak bisa beraktivitas secara normal.
”Setelah kejadian itu, mental saya jadi hancur berkeping-keping, yang awalnya teman saya ada puluhan, akhirnya menjadi hampir tidak ada, bahkan setelah lulus SMA saya tidak punya teman sama sekali karena saya tidak mau kuliah akibat trauma yang saya alami di SMADABA,” tulis akun itu.
Ia sering menangis sendiri dan kemudian berobat ke psikiater. Hasilnya, ia menderita mental illness. Obat dari psikiater harus diminum secara rutin. Sempat terpikir untuk bunuh diri guna mengakhiri segalanya.
Lingkungan Tidak Nyaman
Ia mengingatkan anak-anak yang mau melanjutkan ke jenjang SMA untuk berpikir ulang masuk ke sekolahnya dulu. Cukup dirinya saja yang menjadi korban. Ia menyarankan lulusan SMP untuk mencari sekolah yang benar-benar aman dan nyaman.
Ternyata, perundungan tak hanya menimpa satu orang. Beberapa orang berkomentar dan mengalami hal yang sama di sekolah tersebut. Lingkungan sekolah menurut mereka tidak sehat.
Netizen yang membalas unggahannya ternyata ada yang mengalami hal sama. Terhitung sudah ada 9 orang menyatakan mengalami perundungan di sekolah tersebut. Pelaku tidak hanya sesama siswa namun juga guru yang harusnya menjadi pelindung anak-anak selama di sekolah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga DIY, Setiadi seperti dikutip dari detik.com menyatakan belum mengetahui kebenaran informasinya karena akun pelapon anonim. Namun ia juga menghormati laporan dan akan mendalami bersama pihak-pihak terkait.
Pihak sekolah, Kepala Sekolah SMAN 2 Bantul, Isti Fatimah maupun Wakil Urusan Kesiswaan Suwondo tidak bersedia memberi keterangan. Begitu pula Kepala Balai Dikmen Kabupaten Bantul Ismunardi belum bersedia memberi keterangan mengenai kasus tersebut.

