Pena Catra

Menimbang STA Sebagai Pahlawan Nasional

Sastrawan Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), diusulkan sebagai Pahlawan Nasional atas dedikasi dan pemikiran visionernya bagi bangsa Indonesia.

Foto Ilustrasi: Sutan Takdir Alisjahbana. (Sumber: Catrawarta)

catrawarta.comSastrawan angkatan Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Sosok kelahiran Mandailing Natal Sumatra Utara 11 Februari 1908 ini dianggap layak menerima gelar pahlawan karena dedikasi, pemikiran dan karyanya, tidak saja membangkitkan kesadaran keindonesiaan, tetapi juga menginspirasi bangsa untuk kemajuan.

Seolah hendak mengembangkan layar bagi biduk kehidupannya, STA melintasi sekat kedaerahan mengarungi samudra menuju Bengkulu, Bukittinggi, Bandung dan Jakarta. Pada 1942, STA memperoleh gelar Master (Mr) dari Sekolah Tinggi Hukum Jakarta.

Sebagaimana para tokoh pergerakan, yang lepas dari sekat keilmuan dan bergerak dalam upaya menyadarkan bangsa, STA tidak terpaku pada Ilmu Hukum yang menjadi kompetensinya. Dia asyik dengan bahasa, sastra dan kebudayaan. Baginya, tulisan sama tajamnya dengan peluru sehingga predikat sastrawan menjadikannya punya andil dalam pergerakan bangsa.

Persentuhannya dengan Balai Pustaka, mampu mendekatkannya dengan kalangan pergerakan nasional. Banyak sastrawan, ilmuwan dan wartawan yang ada di dalamnya yang sama-sama membaca zaman lalu menuliskannya ke dalam beragam karya.

Sambil menapaki bangku kuliah, STA kerja sebagai redaktur majalah Panji Pustaka. Puncaknya, dia mendirikan majalah Pujangga Baru dan mengelolanya antara 1933-1942. Sempat menjadi guru dan dosen, STA kemudian menjadi anggota parlemen (1945-1949) dari Partai Sosialis Indonesia.

Sebagai seorang pemikir, STA dikenal sangat kritis dan berkiblat ke Barat. Itulah kenapa pada 1930-an dia terlibat dalam Polemik Kebudayaan dengan para cendekiawan dan intelektual. Polemik itu kemudian dibukukan oleh Achdiat K. Mihardja (1948) yang sampai sekarang masih menjadi kado istimewa abad XX.

Di luar itu, produktivitasnya selaku sastrawan sangat mengagumkan. Puluhan novel dengan beragam latar ideologi ditulis. Mulai Anak Perawan di Sarang Penjamun, Layar Terkembang, Dian Tak Kunjung Padam, Tak Putus Dirundung Malang, sampai buku klasik Pembimbing ke Filsafat, masih menjadi catatan emas kepiawaiannya.

Sebagai seorang budayawan, STA memiliki pandangan yang visioner. Dalam Kongres Kebudayaan 1991, pemikirannya dituangkan dalam makalah berjudul “Sejarah Kebudayaan Indonesia Masuk Globalisasi Umat Manusia”. Berikut kutipan pentingnya (Kompas, 30/10/1991):

“Soal kita yang terpenting adalah bagaimana kita dapat membuat Indonesia sejajar kemajuannya dengan negara-negara yang maju di dunia sekarang. Kata kuncinya adalah pendidikan. Anggaran belanja seharusnya lebih banyak untuk pendidikan, mahasiswa lebih banyak dikirim ke luar negeri untuk merebut ilmu, teknologi dan kemajuan dunia dewasa ini di segala lapangan”.

Terlihat jelas bagaimana STA menunjukkan arah dan jalan bagi bangsa ini untuk bisa maju dan sederajat dengan bangsa lain. Dia paham betul untuk apa para pendiri bangsa menulis amanat pada Pembukaan UUD 1945 bahwa negara ini didirikan salah datunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. STA tidak ingin Indonesia menjadi warga dunia kelas dua. Untuk itulah, dia menempatkan pendidikan sebagai kunci penting peradaban.

Kini saatnya kita membaca dan menimbang kembali pemikiran brilian STA yang lintas zaman. Bagaimana mungkin pendidikan kita menjadi salah arah dengan hanya menjadikan perguruan tinggi sebagai pabrik gelar dan mahasiswa tak lebih sebagai robot pabrik? Lalu soal MBG, sebegitu pentingkah urusan makan sampai dikelola negara? Mengapa anggaran pendidikan kita rekayasa sedemikian rupa sehingga seolah-olah tanpa MBG rakyat tak mampu makan?

Pada titik itulah kita menghargai, dengan penuh apresiasi, pemikiran STA. Tokoh pengembang bahasa Indonesia, yang begitu konsisten memikirkan kemajuan kebudayaan dan peradaban bangsa ini, amat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Jika mantan koruptor saja dianugerahi gelar, mengapa kepada pemikir kebudayaan berdimensi internasional ini kita keberatan memberinya gelar Pahlawan Nasional.

Ksatrian Sendaren, 26 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *