catrawarta.com — Anggota Tentara Pelajar pada Pertempuran Sidobunder, Gombong, Kebumen (1947), yang gugur dieksekusi mati Belanda pada 31 Desember 1948, dan kini tengah diusulkan mendapat anugerah Pahlawan Nasional.
Mantan Wakil Kepala Staf TNI AD, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri menegaskan semangat bela negara ada pada sosok Herman Yoseph Fernandez. Ia sangat memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional.
”Perjuangannya melintasi batas etnis dan agama, menunjukkan bahwa semangat bela negara itu ada di seluruh pelosok Nusantara,” tandas Kiki dalam Pertemuan Tim Pengusul dan Akademisi dengan media di Yogyakarta.
Ia menilai, pengorbanan Herman Fernandez yang gugur di medan pertempuran pada usia 23, merupakan bukti nyata patriotisme tinggi. Baginya, sosok Herman Fernandez merupakan representasi penting bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan kolektif seluruh komponen bangsa, termasuk di dalamnya putra-putra terbaik dari wilayah Timur, khususnya Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menyempurnakan Dokumen Primer
Perwakilan tim pengusul yang juga keponakan kandung Herman Fernandez, Grace Siahaan Njo mengungkapkan pihaknya tengah menata ulang strategi untuk mengejar target penetapan Pahlawan Nasional tahun 2026.
Tim pengusul saat ini fokus untuk menyempurnakan dokumen primer yang diminta pihak Kementerian Sosial (Kemensos). Dalam tiga hari, mereka melakukan napak tilas untuk menyempurnakan dokumentasi dan data-data primer yang diperlukan.
”Di samping itu, kami juga ingin sosialisasi tentang sosok Herman Fernandez berjalan masif sehingga membuka kesadaran masyarakat tentang keberadaannya sebagai pejuang,” papar Grace.
Fakta sebagai Pahlawan
Dalam kesempatan yang sama, Tim Akademisi Pengusulan Pahlawan Nasional Herman Yoseph Fernandez, Prof Yoseph Yapi menandaskan sebetulnya secara fakta Herman Fernandez merupakan pahlawan nasional. Herman sudah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta, sama dengan Jenderal Besar Sudirman.
Menurutnya, Herman Yoseph Fernandez memiliki profil yang setara dengan pahlawan remaja lainnya yang lahir di tahun yang sama (1925), seperti Yos Sudarso dan Robert Wolter Monginsidi.
Seperti Yos Sudarso, Herman memiliki dedikasi militer yang tinggi hingga titik darah penghabisan.Serupa dengan Robert Wolter Monginsidi, Herman menghadapi pengadilan militer Belanda dengan kepala tegak, menolak mengkhianati Indonesia, dan akhirnya gugur di ujung senapan musuh pada usia remaja.

Ada Wilayah Blank Spot, BMKG Kembangkan Radar Cuaca Bantu Pemantauan 