Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Sri Mangkunegara IV memberikan pedoman, teladan, pengalaman dan pengetahuan yang bisa dibaca dan digunakan masyarakat untuk menapaki kehidupan. Tiga hal itu, Wirya,...

Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Ilustrasi : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. (Sumber: catrawarta)

catrawarta.comSaat menghadiri perayaan HUT ke-195 Kabupaten Bantul, (20/7/2026) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengutip pesan kesejarahan Sri Mangkunegara IV (1811-1881). Ada tiga hal yang dijadikan pesan, yakni wirya, arta, dan winasis.

Dalam serat Wedhatama, raja pujangga Pura Mangkunegaran itu menulis bait dalam irama Sinom yang luar biasa mendalam isinya:

Bonggan kan tan merlokna
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan triprakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara

Maknanya, salah sendiri tidak peduli, terhadap landasan hidup, hidup itu berlandaskan tiga hal, kemuliaan, kesejahteraan dan pengetahuan, jika tidak memiliki, satu dari ketiganya, hilanglah arti sebagai manusia, masih lebih berharga daun jati kering, akhirnya menderita jadi pengemis tanpa tujuan.

Dalam banyak pesan, Sri Mangkunegara IV memberikan pedoman, teladan, pengalaman dan pengetahuan yang bisa dibaca dan digunakan masyarakat untuk menapaki kehidupan. Tiga hal yang ditulis dalam serat Wedhatama di atas, bisa dijadikan landasan hidup manusia (Jawa). Bukan saja saat itu, tetapi juga sekarang dan sepanjang lintasan zaman.

Lebih dari kekuasaan, keberanian, kedudukan atau kekuasaan, wirya menyertakan keluhuran dan kemuliaan. Orang yang sampai derajat kawiryan, tidak saja dihormati dan disegani tetapi juga mampu dijadikan teladan dan ditempatkan dalam perspektif hubungan Gusti dan kawula. Kehormatan itu lahir karena kebijakan dan kebajikan, bukan buatan, dan lahir dari laku hidup penuh penghambaan.

Arta bukan hanya menyangkut uang dan kekayaan, tetapi lebih ke kesejahteraan dan kemakmuran. Tak hanya material tetapi juga spiritual, menyangkut rasa dan nurani. Materi seperti uang dan kekayaan bisa dengan mudah dicari dan didapatkan, tetapi belum tentu itu akan menenteramkan hati dan mendamaikan hidup.

Sedangkan winasis adalah orang yang menempatkan ilmu, kecerdasan dan pengetahuan sebagai tolok ukur keadaban. Para winasis adalah orang pilihan, digembleng di berbagai kawah candradimuka untuk menemukan ilmu. Merekalah pembawa lentera, obor penerang bagi masyarakat yang tengah memasuki masa gulita dan derita. Ilmu juga yang bisa digunakan untuk mencari wirya dan arta.

Cukup menarik kenapa Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan kesejarahan Sri Mangkunegoro IV. Kasus mutakhir yang melibatkan elite negara bisa diambil contoh. Memegang kekuasaan, menumpuk uang dan perhiasan, lalu melenggang begitu saja seolah tanpa merasa bersalah di tengah kondisi masyarakat yang terhimpit kesulitan hidup. Kekuasaan telah membutakan hati nurani, ilmu telah disalah gunakan, dan akhirnya kerusakan alam tak bisa dihindarkan.

Lalu, bagaimana kita harus menjalani hidup yang penuh masalah, gonjang-ganjing, dan penuh dengan ketidakpastian ini? Pangeran Sambernyawa (Sri Mangkunegara I) meninggalkan ajaran Tripama.

Pertama, mulat sarira hangrasa wani, yakni berani mengakui kekurangan dan kesalahan diri (introspeksi) lalu menegakkan komitmen moral untuk menuju kebaikan.

Kedua, rumangsa melu handarbeni, yakni merasa memiliki atas lingkungan dan alam dengan menjaga dan mencintainya sebagai anugerah bersama.

Ketiga, wajib melu hangrungkebi, yakni bertanggung jawab untuk membela tanah air dengan penuh integritas.

Leluhur kita, para filsuf tanah Jawa, telah begitu banyak mewariskan ajaran dan keteladanan. Dari lahir sampai mati telah disiapkan ilmunya. Tinggal bagaimana kita mematuhi dan mengamalkannya dalam setiap detak kehidupan. Jika itu semua kita abaikan, leluhur pun telah memberikan gambaran tentang akhir zaman. Jadi?

Ksatrian Sendaren, 21 Juli 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *