catrawarta.com — Televisi Iran menyiarkan secara langsung ungkapan dukacita Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Dalam pengantar unggahan di akun Instagram resmi Kedutaan Besar Iran di Indonesia @iraninindonesia, tertulis ucapan tersebut disiarkan oleh Channel One Televisi Iran.
Secara lengkap unggahan itu menuliskan ”Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Yang Mulia Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Pesan tersebut disiarkan oleh Channel One Televisi Iran dengan subtitle bahasa Persia”.
Megawati pada pembuka ucapannya memperkenalkan diri sebagai anak Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno atau yang biasa disapa dengan sebutan Bung Karno. Ia menyampaikan penuh duka cita dan rasa hormat kepada rakyat Iran yang merupakan sahabat Indonesia sejak dulu.
“Wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya kehilangan besar bagi bangsa Iran tetapi juga telah mengguncang hati banyak orang yang mencintai keadilan, kedaulatan bangsa dan kemanusiaan di seluruh penjuru dunia,” ujar Megawati.
Bebas dari Penjajahan
Bagi dirinya pribadi, sosok Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik atau tokoh agama dari bangsa Iran yang dikenal sangat patriotik dan tidak pernah mengenal kata menyerah. Dalam diri Khamenei, ia melihat gema perjuangan yang telah dirintis Bung Karno.
Sejak muda, Ali Khamenei telah mengenal dan mengagumi serta membaca pidato dan pemikiran Bung Karno. Tidak mengherankan jika Khamenei ikut merumuskan jalan bangsa Iran sebagai sebuah sintesis antara agama, kebangsaan dan keadilan sosial.
Khamenei juga mencita-citakan dunia yang bebas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme. Ia masih mengingat kunjungan resminya ke Teheran pada tahun 2004 saat menjabat Presiden Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Megawati bertemu, bertatap muka langsung dengan Khamenei. Ia merasakan pancaran karisma yang sangat kuat dan keteduhan hati yang sangat dalam. Khamenei seorang ulama yang lembut namun teguh memegang prinsip sekaligus seorang negarawan yang pekat terhadap derita bangsanya.
”Saya terkenang bagaimana Ali Khamenei menilai Pancasila dan semangat Bandung sebagai salah satu referensi penting dalam merumuskan visi Iran yang merdeka dan bermartabat,” tandasnya.
Penjaga Api Perjuangan
Bagi Megawati, ini bukanlah ujian diplomatik. Hal itu merupakan pengakuan adanya jembatan batin yang mendalam antara kedua bangsa. Sebuah jembatan yang dibangun dari pengalaman bersama melawan penjajahan, intervensi asing luka-luka sejarah serta pengharapan akan dunia yang lebih adil dan bermartabat.
Karena itu, lanjutnya, ketika melepas kepergian Khamenei, ia tak hanya merasa kehilangan seorang pemimpin Iran akan tetapi juga seorang penjaga api perjuangan dunia ketiga.
Dalam kenangan indah pada Khamenei, ia menegaskan keberpihakan pada penyelesaian konflik melalui jalan damai, dialog yang adil serta penghormatan terhadap hukum internasional dan kemanusiaan bukan pada kekerasan serta agresi senjata sepihak. Megawati juga mendoakan pemimpin serta seluruh rakyat Iran agar bisa melalui masa-masa sulit.
”Selamat jalan saudaraku Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei, kami melepas kepergianmu dengan doa, rasa hormat dan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu,” tandasnya.

