catrawarta.com — Si ”anak emas” federasi sepak bola dunia FIFA, Amerika Serikat, tetap tak bisa lanjut ke babak 8 besar setelajh dihajar habis-habisan oleh Belgia. Laga itu sempat diwarnai kontriversi akibat diperbolehkannya pemain AS, Folarin Balogun yang melagukan pelanggaran keras saat menghadapi Bosnia-Herzegovina.
Dalam tayangan televisi VAR jelas terlihat ia menginjak dengan keras pergelangan kaki Tarik Muharemovic. Wasit pun mengganjar hukuman yang pantas, kartu merah! Ia dinilai membahayakan pemain lawan karena tindakannya bisa mengakibatkan luka fatal bahkan cacat permanen.
Kartu merah tersebut akhirnya ”dibatalkan” menjelang laga AS melawan Belgia. Banyak pihak menyesalkan keputusan FIFA yang kadang-kadang memang tidak konsisten. Seperti pada pelarangan Rusia mengikuti Piala Dunia tetapi membolehkan Israel. Sikap yang membuat tidak simpati banyak penggemar bola terutama pada sang ketua, Gianni Infantino.
Kabarnya, kartu merah dicabut setelah Gianni mendapat telepon dari Presiden AS Donald Trump. Banyak pihak menduga pencabutan sebagai salah satu upaya memuluskan menuju ke babak selanjutnya. Akan tetapi, bola itu bundar kawan. Gianni dan Trump boleh semaunya memperlakukan tim AS agar dapat melaju mulus ke putaran 8 besar.
Namun, Belgia bukan lawan yang imbang buat AS. Belgia yang tentu kecewa dengan keputusan FIFA dan Trump tetapi berbesar hati tetap maju untuk menghadapi AS dengan segala keistimewaan sebagai tuan rumah. Pelatih, pemain dan juga masyarakat Belgia hanya diam sembari membatin, enyahlah engkau yang mencoba meraih kemenangan dengan cara-cara ”curang”.
Belgia Bermental Baja
Benar saja, pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Luman Field, Seattle, Washington, AS. Di depan publik yang memberi dukungan penuh, para pemain AS tak bisa mengembangkan permainan. Bisa saja mereka berpikir akan ada kemudahan dari wasit. Dan impian mereka salah besar.
Wasit tetap memimpin sesuai aturan, Belgia bermain sesuai harapan: menghajar kesombongan AS. Tidak tanggung-tanggung, The Red Devils mengamuk dan membantai AS 4-1. Tim yang mendapat keistimewaan tetap kandas.
Tak hanya kandas tetapi tenggelam hingga ke dasar karena tak bisa mencetak lebih dari 1 gol. Cukup 1 gol sedangkan Belgia memasukkan 4 gol. Keinginan Belgia mempermalukan tuan rumah telah kesampaian. Tak dapat dipungkiri, mereka bermain jauh lebih baik, bermental baja di bawah tekanan pendukung lawan. Sudah pantas menyandang kemenangan.
CNN Sports bahkan menuliskan kekalahan tim AS sangat menyakitkan. Rasa malu kian bertambah karena banyak pihak di dunia yang justru merasa senang melihat AS kalah. Ini tak lain akibat kontroversi keputusan FIFA yang menangguhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan bagi Folarin Balogun yang telah menerima kartu merah pada laga sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump yang menyatakan sendiri telah meminta Gianni Infantino untuk meninjau kembali kartu merah Balogun. Langkah tidak beretika seorang pemimpin negara besar, mengganggu dan meremehkan keputusan wasit dan aturan sepak bola dunia.
Bukan Lawan Seimbang
Keistimewaan yang diperoleh AS tak bisa mengubah tim tersebut tiba-tiba menjadi jagoan sepak bola dunia. Belgia yang tak banyak bicara langsung menekan dan menyerang sejak peluit tanda dimulainya pertandingan dibunyikan.
Belgia terus melancarkan serangan bertubi-tubi dan terlihat dari layar kaca, AS bukan lawan yang seimbang. Tak heran kalua akhirnya Belgia berhasil mencetak gol pada menit ke-9 melalui aksi Charles De Ketelaere akibat kegagalan lini belakang AS membuang bola keluar dari area penalti.
Serangan demi serangan terus dilancarkan. Tim AS tak segarang jargonnya, super power. Mereka keteteran menandingi Belgia yang terus menekan dan menekan. Hingga jeda pertama, mereka tak bisa mengembangkan permainan.
Pada babak kedua, AS sedikit dapat mengembangkan permainan dan mencetak gol pada menit ke-31 melalui tendangan bebas kaki Malik Tillman. Hanya dua menit penonton bersorak kegirangan karena De Ketelaere menjebol gawang Matt Freese.
De Ketelaere, pemain berwajah bak bintang film gtersebut mencetak gol lagi pada menit ke-33. Belgia masih menambah 2 gol lagi melalui Hans Vanaken dan Romelu Lukaku. Lengkap sudah Lukaku dan kawan-kawannya membungkam AS dengan segala ”keistimewaannya”.

