Warta

Ketangguhan Festival Lima Gunung di Magelang Bertahan 25 Tahun

Festival Lima Gunung tak terasa bakal hadir yang ke-25. Bagaimana festival tanpa dana sponsor ini bisa berlangsung konsisten?

Festival lima gunung bakal hadir ke 25
Festival Lima Gunung bakal hadir ke-25. (dok. Freepik)

catrawarta.comFestival Lima Gunung (FLG) Magelang, Jawa Tengah bakal hadir kembali pada tanggal 10-12 Juli mendatang dengan tema ‘Makin Goblok Bareng’. Acara tahunan yang ke-25 ini dijadwalkan akan hadir di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Magelang.

Acara yang kental dengan sosial dan budaya setempat ini secara konsisten menjadi sumbangan ilmu pengetahuan informal tentang desa yang bersumber dari kearifan lokal. FLG ini memang diprakarsai oleh Komunitas Lima Gunung (KLG) yang memiliki keterikatan kuat satu sama lain.

KLG ini tak lain merupakan komunitas seniman petani yang berasal dari lima gunung di sekitar Magelang yakni Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Nantinya, FLG XXV ini akan memberikan hiburan yang kental dengan budaya dari 85 grup kesenian yang diiikuti sebanyak lebih dari seribu seniman. Mereka bakal menampilkan berbagai bentuk kesenian di sana.

Setidaknya, ada tarian, pameran seni rupa, teater, musik, pembacaan puisi, kirab budaya, pidato kebudayaan, hingga penghargaan Lima Gunung Award.

Rasanya, festival yang unik satu ini kembali membuktikan jika nilai-nilai masyarakat berupa semangat kekeluargaan dan gotong royong masih mengalir di darah masyarakat meski digempur nilai-nilai modernism dan budaya global liberal.

Bertahan Hingga 25 Tahun

Properti festival lima gunung'Makin Goblok Bareng' jelang pembukaan
Properti Festival Lima Gunung dipersiapkan jelang pembukaan di Magelang (dok. Instagram @komunitaslimagunung)

Melansir dari Antara, festival ini kian populer karena acara besar tersebut nyatanya tak menggunakan dana sponsor sepeserpun. Budayawan Magelang sekaligus perintis berdirinya KLG Sutanto Mendut bahkan menekankan jika acara ini didanai oleh sponsor, maka sejatinya tak membuat masyarakat kian antusias hingga berakhir gagal.

“Justru kalau FLG disponsori, tidak jalan. Siapa biasa membiayai FLG? Tidak bisa. Tidak bisa dibeli,” ujarnya dalam jumpa pers FLG XXV 2026 Magelang, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (7/7).  

Ia menambahkan bahwa festival ini tidak bisa dibeli. Jika biasanya agenda besar bisa berjalan karena ada dana mengalir deras, maka nyatanya tidak dengan FLG. Festival ini justru disebut Sutanto hadir dari perasaan, hati, dan nilai-nilai yang tidak bisa dihitung dengan uang.

“Karena ini soal perasaan, soal hati. Ini festival tentang nilai-nilai. Hati, cinta itu tidak bisa dihitung dengan uang. Ini festival soal ilmu pengetahuan yang tidak begitu saja dipahami,” tandasnya.

Di balik agenda tahunan FLG itu, ada upaya-upaya tak kasat mata yang dilakukan para perintis dan penjaga komunitas. Para tokoh inilah yang berusaha untuk terus membangun dan memperkokoh jejaring antar kelompok sosial, kesenian, dan para tokoh di bidang sosial budaya.

FLG yang terus berjalan selama 25 tahun berturut-turut ini merupakan bukti nyata dari potret semangat masyarakat yang bertumbuh dari nilai-nilai kebersamaan dan terus dipupuk. Di sana, ada potret tekad kuat tanpa pamrih, persaudaraan, saling menjaga, dan saling memahami antar warga di tengah tantangan zaman yang semakin pelik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *