Catra Budaya

Gambang Semarang Terancam Punah

Kesenian Gambang Semarang saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan.

Seniman sekaligus budayawan semarang yoyok bambang priyambodo menyebut kesenian gambang semarang saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan
Tari Denok Deblong menjadi tarian yang diiringi musik Gambang Semarang (dok Sanggar Tari Greget)

catrawarta.comSeniman sekaligus budayawan Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, menyebut kesenian Gambang Semarang saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. 

Menurutnya, minimnya perhatian pemerintah selama lebih dari satu dekade membuat kesenian khas Kota Semarang tersebut kehilangan regenerasi dan terancam punah.

“Sudah lebih dari 10 tahun Pemerintah Kota Semarang tidak memberi perhatian serius terhadap perkembangan Gambang Semarang,” kata Yoyok, Jumat (12/6/2026).

Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menilai Gambang Semarang belum menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata budaya Kota Semarang.

“Kalau ada wisatawan datang ke Semarang mencari pertunjukan Gambang Semarang, mereka tidak akan menemukannya. Yang ada wisata sejarah, Dugderan, dan kuliner. Ketika mencari seni pertunjukan tradisional Gambang Semarang, hampir tidak ada,” ujarnya.

Seniman dan budayawan semarang yoyok bambang priyambodo kiri dok sanggar tari greget
Seniman dan budayawan Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo (kiri) (dok Sanggar Tari Greget)

Menurut Yoyok, salah satu persoalan utama adalah tidak tersedianya perangkat musik serta minimnya pelatihan bagi generasi muda.

“Bagaimana anak muda tertarik belajar jika alat musiknya tidak ada dan latihan pun tidak pernah dilakukan. Generasi penerus sudah terputus karena tidak ada yang meneruskan,” katanya.

Ia mengingat masa pemerintahan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip, Gambang Semarang masih mendapatkan perhatian melalui berbagai pementasan di tingkat kecamatan.

Karena itu, Yoyok mengusulkan pemerintah menyediakan seperangkat gamelan atau alat musik Gambang Semarang di setiap kecamatan yang kemudian diikuti pelatihan dan pagelaran rutin.

“Kalau setiap tahun ada pengadaan alat musik untuk satu kecamatan, lalu diadakan workshop dan pertunjukan, regenerasi bisa berjalan,” ujarnya.

Yoyok membandingkan kondisi tersebut dengan Gambang Kromong di Jakarta yang hingga kini masih berkembang dan memiliki banyak pelaku seni.

“Semarang bisa belajar dari Jakarta. Mengapa Gambang Kromong tetap hidup dan berkembang. Kalau sampai Gambang Semarang mati, ya mungkin sengaja dibunuh oleh pemerintah,” tegasnya.

Menurut Yoyok, saat ini kajian mengenai Gambang Semarang masih dilakukan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Diponegoro (Undip). Namun aktivitas tersebut lebih banyak bersifat penelitian dan belum menyentuh pembinaan pelaku seni secara berkelanjutan.

Gambang Semarang Produk Akulturasi Budaya 

Yoyok yang dikenal sebagai maestro tari, musik, wayang, dan penari topeng sekaligus pendiri Sanggar Tari Greget Semarang menjelaskan Gambang Semarang mulai berkembang sekitar tahun 1930-an.

Ia menyebut Gambang Semarang memiliki banyak kesamaan dengan Gambang Kromong. Perbedaan utama terletak pada instrumen musik yang digunakan.

“Di Gambang Semarang tidak ada terompet besar seperti pada Gambang Kromong. Selebihnya menggunakan gambang, bonang, kendang, saron, seruling, dan kecrek,” katanya.

Pada masa awal perkembangannya, Gambang Semarang kerap dipentaskan di hotel-hotel dan ruang hiburan di Semarang. Kesenian tersebut dibawa dan berkembang melalui komunitas Tionghoa yang menetap di kota pesisir tersebut.

Yoyok berpendapat Gambang Semarang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Melayu, dan Tionghoa yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Semarang.

Ciri khas pertunjukannya memadukan musik, vokal, tari, dan lawakan. Para pemain biasanya mengenakan busana berupa baju koko, peci, dan selendang yang memiliki kemiripan dengan busana Melayu.

Meski telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, Gambang Semarang bukan kesenian yang sepenuhnya lahir di Semarang karena unsur musik serupa juga ditemukan di Jakarta, Malaysia, dan Singapura.

“Saat saya tampil di Singapura dan Malaysia, banyak penonton yang mengenal lagu-lagu dan musiknya,” ujarnya.

Maestro tari semarangan yoyok bambang priyambodo melatih tari anak didiknya dok sanggar greget
Maestro tari Semarangan, Yoyok Bambang Priyambodo melatih tari anak didiknya. (Dok Sanggar Greget)

Sanggar Greget

Di tengah minimnya dukungan, Yoyok tetap mengembangkan Gambang Semarang melalui Sanggar Seni Greget yang didirikannya sejak 1992. Selain musik gambang, sanggar tersebut juga mengembangkan berbagai tarian Semarangan.

Salah satu karya yang dikenal luas adalah Tari Denok Deblong yang diiringi musik Gambang Semarang. Tarian tersebut menggambarkan sosok gadis yang dipuji karena kecantikannya. Dalam bahasa Jawa, denok merupakan sebutan untuk anak perempuan.

Selain itu, Yoyok juga menciptakan sejumlah karya tari khas Semarangan, seperti Tari Warak Dugder, Tari Yaik Semarang, Tari Nyai Brintik, dan Tari Bedhayan Endang Sejanila.

Pertunjukan Gambang Semarang saat ini lebih banyak mengandalkan undangan. Unsur lawakan yang dahulu menjadi bagian penting pertunjukan pun kini jarang ditampilkan karena menyesuaikan kebutuhan penyelenggara acara.

“Yang lebih sering ditampilkan sekarang adalah musik dan tari. Karena itu tariannya harus menarik agar penonton tetap tertarik,” katanya.

Di Sanggar Greget, berbagai pelatihan digelar mulai dari tari, musik gambang, membatik hingga pembuatan wayang. Setelah masa ujian sekolah berakhir, para peserta biasanya tampil di ruang-ruang publik untuk memperkenalkan hasil latihan mereka kepada masyarakat. Rencananya ada 200 penari dari Sanggar Tari Greget akan menari di Klenteng Sam Poo Kong Semarang membawakan kisah legenda Cheng Ho pada 20 Juni 2026.

Cara tersebut cukup efektif menarik minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.

“Lagu-lagunya juga bisa menyesuaikan zaman. Bahkan lagu The Beatles bisa dibawakan dengan iringan musik gambang,” ujarnya.

Saat ini Sanggar Greget juga menjadi lembaga sertifikasi berstandar UNESCO untuk bidang wayang, batik, musik, dan tari. Banyak guru SMK mengikuti pelatihan di sanggar tersebut untuk memperoleh sertifikasi kompetensi.

Melalui berbagai upaya itu, Yoyok berharap Gambang Semarang dan kesenian khas Semarang lainnya tetap hidup serta memiliki generasi penerus di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *