catrawarta.com — Pembukaan Piala Dunia 2026 menyisakan fenomena menarik. Amerika Serikat boleh mendaku kesuksesan acara pembukaan, tetapi bukan mereka yang sepenuhnya untung. Korea-lah yang lihai menancapkan pengaruh dalam diplomasi global.
Siapa sangka Lisa Blackpink berhasil tampil mengesankan di panggung megah Los Angeles. Bersama K-pop, rapper dan penari asal Thailand bernama Pranpriya Manoban (27 Maret 1997) ini mampu tampil prima, rancak dan lincah khas Gen Z.
Berlatar prototipe piala raksasa, Lisa mampu menghipnotis ribuan penonton, tidak saja di dalam stadion tetapi juga jutaan pasang mata melalui layar mungilnya di rumah. Catat, belum genap sehari videonya saat membawakan Goals telah ditonton lebih dari 5 juta viewer dan hari ini sudah mencapai 20 juta penonton.
Bagaimana mungkin Lisa yang berasal dari Thailand, bersama Anitta dan Rema, bisa begitu fenomenal bersama K-pop? Atau, bagaimana salam saranghaeyo bisa begitu populer dan diikuti jutaan orang di negeri ini dari kalangan atas sampai rakyat di pedesaan? Yang lain, lihat bagaimana K-Drama, K-Food, K-Beauty, K-Fashion begitu merajai budaya populer di berbagai dunia?
Lebih dari sekedar pementasan atau simbol atraktif, apa yang tengah digerakkan Korea adalah sebentuk diplomasi kebudayaan. Ada banyak cara bisa dilakukan untuk memperjuangkan kepentingan nasional.
Jika Korea kemudian memasukkan pengaruh melalui beragam media, di zaman seperti sekarang, adalah sebuah kejelian dan kecerdasan yang dilandasi kekuatan karakter. Dan kita tahu, karakter orang Korea adalah pantang menyerah, ulet, tekun, kreatif dan inovatif. Mereka jeli melihat peluang, memanfaatkan pengaruh media digital dan menyodorkan produk budaya secara sungguh-sungguh.
Terbayang, jika populasi Gen Z di seluruh dunia berjumlah sekitar 2 miliar (dari total populasi dunia yang mencapai 8,2 miliar jiwa), betapa efektifnya Korea menggencarkan diplomasi kebudayaan. Tanpa harus sibuk dengan tetek bengel protokoler, budaya Korea sudah sampai di jantung kehidupan warga dunia memasuki rumah dan ruang-ruang keluarga.
Tidak saja ditonton tetapi banyak di antaranya yang kemudian mengikuti trend Korea. Tak pernah bangga menjadi pasat tetapi mereka secara sistematis melempar produk budaya ke berbagai belahan dunia.
Maka, panggung Piala Dunia boleh saja menampilkan permainan menawan dari 32 negara termasuk Korea Selatan yang sering menjadi kuda hitam. Berada di Group A bersama Meksiko, Republik Ceko dan Afrika Selatan, bukan hal yang sulit bagi Korea untuk lolos ke babak berikutnya. Tetapi yang lebih penting dibicarakan adalah budaya Korea telah diakui secara global.
Bagaimana dengan Indonesia? Penggemar sepakbola di negeri ini tak kurang jumlahnya. Setiap klub profesional pun memiliki pendukung setia. Tapi keduanya ternyata bukan jaminan bahwa tim nasional akan terbentuk dan maju dengan sendirinya. Keberadaan mafia, politisasi dan kurang profesionalnya penanganan tim nasional, adalah beberapa contoh betapa olah raga yang meramu beragam kepentingan ini masih jauh dari harapan.
Bung Karno pernah berpesan agar kita berkepribadian dalam kebudayaan. Tetapi jangankan mampu mewarnai budaya global, pada budaya sendiri pun rendah kepeduliannya. Tak kurang kita memiliki pakar dan praktisi budaya, tetapi begitu tersedot ke kekuasaan seolah habis energinya. Hidup kadang memang absurd.
Saranghaeyo!
Ksatrian Sendaren, 15 Juni 2026

