Catra Budaya

AKUR Sunda Wiwitan Cigugur Jaga Nasionalisme dan Kelestarian Alam

Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus menjaga ajaran leluhur yang diwariskan lebih dari satu...

Masyarakat adat karuhun urang akur sunda wiwitan di cigugur kabupaten kuningan jawa barat terus menjaga ajaran leluhur yang diwariskan lebih dari satu abad lalu
Tokoh AKUR Sunda Wiwitan, Dewi Kanti (dok Dewi Kanti)

catrawarta.comMasyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus menjaga ajaran leluhur yang diwariskan lebih dari satu abad lalu. Nilai-nilai yang mereka pegang tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas, tetapi juga nasionalisme, kemanusiaan, dan kelestarian alam.

Tokoh AKUR Sunda Wiwitan, Dewi Kanti, menjelaskan bahwa komunitas adat tersebut berakar pada ajaran yang dikembangkan oleh Pangeran Sadewa Alibasa Madrais (1832-1939) pada masa penjajahan Belanda. Melalui pendekatan budaya, Pangeran Madrais membangkitkan kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Sebelum terbentuk Indonesia, Pangeran Madrais telah menumbuhkan nasionalisme melalui budaya. Berpijak pada jati diri kebangsaan Sunda dan Jawa, gerakan ini tumbuh sebagai respons terhadap situasi sosial pada masa itu,” kata Dewi Kanti, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, ajaran yang dikembangkan Pangeran Madrais merupakan revitalisasi nilai-nilai spiritual masyarakat Sunda yang telah hidup sejak masa lampau. Spiritualitas tersebut menjadi landasan dalam menata kehidupan bermasyarakat sekaligus membangun kesadaran sebagai bangsa.

Hingga kini, ajaran tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dewi menilai keberlangsungan tradisi AKUR Sunda Wiwitan terjadi karena adanya kesadaran kolektif untuk memahami jati diri sebagai manusia dan bagian dari bangsa Indonesia.

“Tatanan kehidupan yang kami jalani bersifat universal dan inklusif, tetapi tetap berpijak pada kesadaran diri sebagai manusia dan bangsa,” ujarnya.

Menghormati Bangsa Lain

Cagar budaya naional paseban tri panca tunggal cigugur   kuningan dok psik indonesia
Cagar Budaya Naional Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur – Kuningan (dok PSIK Indonesia)

Dewi menjelaskan bahwa setiap bangsa memiliki karakter, bahasa, budaya, dan sejarah yang berbeda. Karena itu, setiap manusia perlu mengenali identitas dan akar budayanya agar tidak terjebak dalam sikap merasa paling unggul dibandingkan bangsa lain.

“Setiap bangsa memiliki karakter yang khas. Dengan mengenal jati diri, manusia akan memahami pentingnya hidup berdampingan secara damai tanpa keinginan untuk menjajah atau mendominasi bangsa lain,” katanya.

Nilai tersebut, lanjut Dewi, sejalan dengan ajaran leluhur Sunda yang menekankan sikap adil, menghormati sesama, dan menjunjung kemanusiaan.

Alam Sebagai Subjek Kehidupan

Kesadaran terhadap jati diri juga tercermin dalam hubungan masyarakat adat dengan alam. Bagi AKUR Sunda Wiwitan, alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati.

“Alam bukan objek untuk dieksploitasi, tetapi subjek yang melengkapi kehidupan manusia,” ujar Dewi.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat memandang hubungan manusia dan alam sebagai ikatan spiritual. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Menurut Dewi, hubungan tersebut bahkan tercermin dalam pola konsumsi sehari-hari. Apa yang dimakan dan diminum diyakini turut memengaruhi pembentukan karakter manusia.

“Kita harus mawas diri dan mampu mengendalikan ego. Karakter yang terbentuk dalam diri manusia juga dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi,” katanya.

Dalam ajaran Sunda Wiwitan, manusia juga diajarkan untuk memahami hubungan dengan tanah atau tempat tinggalnya atau Ngaji Badan. Prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi pedoman untuk membangun tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Sebagai orang Sunda, sebagai orang Indonesia, ketika memiliki hubungan dengan bumi yang dipijak, kita harus memiliki tanggung jawab untuk menjaganya,” ujar Dewi.

Adaptif terhadap Teknologi

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat adat tidak menolak perubahan. Namun, mereka menekankan pentingnya sikap bijak dalam memanfaatkan teknologi.

Dewi mengatakan masyarakat AKUR Sunda Wiwitan memiliki tradisi olah roso atau olah rasa melalui meditasi dan kontemplasi untuk menjaga keseimbangan batin di tengah arus perubahan zaman.

“Kami memiliki filosofi Ngindung ka waktu, ngabapak ka jaman. Artinya, masyarakat harus mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya. Teknologi harus menjadi sistem pendukung dan digunakan secara bijaksana,” jelasnya.

Pembelajaran gamelan dan tembang tembang berbahasa sunda kepada generasi muda dok dewi kanti
Pembelajaran gamelan dan tembang-tembang berbahasa Sunda kepada generasi muda. (dok Dewi Kanti)

Menjaga Bahasa Ibu Lewat Tembang Sunda

Upaya pelestarian nilai-nilai leluhur juga dilakukan melalui pendidikan adat yang melibatkan berbagai generasi. Salah satu caranya adalah mengajarkan tembang-tembang berbahasa Sunda kepada anak-anak dan generasi muda.

Menurut Dewi, tembang tidak hanya menjadi sarana pewarisan nilai budaya, tetapi juga menjaga keberlangsungan bahasa ibu yang semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa ibu adalah bahasa rasa, yaitu bahasa yang menumbuhkan adab dan kesopanan,” katanya.

Ia mengakui penggunaan bahasa daerah di lingkungan pendidikan formal semakin berkurang. Karena itu, tembang Sunda menjadi salah satu cara untuk merawat ingatan kolektif sekaligus melahirkan generasi penutur bahasa Sunda.

Di akhir wawancara, Dewi menegaskan bahwa masyarakat AKUR Sunda Wiwitan tetap memegang filosofi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan. Karena itu, setiap orang harus hidup adil, menghormati sesama, tidak diskriminatif, menjunjung toleransi, serta tidak memiliki keinginan untuk mendominasi orang lain.

“Tidak mendominasi atau mengalahkan orang lain, karena pada dasarnya kita hidup dalam satu napas kemanusiaan yang sama,” tuturnya.

Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan berpusat di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Secara historis, komunitas ini memiliki keterkaitan dengan warisan budaya Tatar Sunda yang terhubung dengan sejarah Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh, dan Tarumanegara. Jejak sejarah tersebut antara lain tercermin melalui berbagai prasasti dan peninggalan budaya yang hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat adat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *