catrawarta.com — Maestro tari Indonesia, Yoyok Bambang Priyambodo, akan menggelar pertunjukan tari bertajuk The Legend of Cheng Ho: Ming Dynasty Expedition in Central Java di Klenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, Sabtu (20/6/2026) pukul 19.00 WIB.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (16/6/2026), Yoyok mengatakan pertunjukan tersebut melibatkan 96 penari dari Sanggar Tari Greget yang dipimpinnya.
Yoyok memilih kisah Laksamana Cheng Ho karena sarat dengan nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Menurutnya, perjalanan Cheng Ho ke Semarang menjadi simbol perjumpaan berbagai budaya yang dapat hidup berdampingan secara harmonis.
“Melalui kisah ini, kami ingin menyampaikan pesan tentang gotong royong, saling menghormati, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini,” kata Yoyok.

Repertoar tari yang disajikan mengangkat kisah Laksamana Cheng Ho, tokoh muhibah dari Tiongkok yang singgah di kawasan Gedung Batu Simongan, Semarang, yang kini dikenal sebagai Sam Poo Kong, pada periode 1405–1433 Masehi.
Pada bagian awal pertunjukan, penonton akan disuguhkan visualisasi kehidupan laut melalui penampilan para penari yang memerankan ombak, bintang laut, kuda laut, aneka ikan, kepiting, udang, hingga tumbuhan laut.
Adegan kemudian berlanjut dengan hadirnya nelayan serta masyarakat Jawa dan Arab yang berinteraksi dengan rombongan pendatang pembawa budaya Tionghoa.
“Kami menghadirkan gerak tari lampion dan pedang. Sosok Cheng Ho digambarkan sedang berinteraksi dengan masyarakat sebagai simbol saling menghormati dan menghargai. Nilai itu divisualisasikan melalui penggunaan kipas yang dikenakan para penari di pergelangan tangan,” ujar Yoyok.
Ia menjelaskan, kipas yang tertutup melambangkan persatuan yang kuat dan kokoh. Sementara saat dibuka, kipas menjadi simbol kerja sama, kebersamaan, dan semangat gotong royong.
Pertunjukan juga akan diiringi alunan gamelan, tembang, serta didukung tata rias dan busana yang mencerminkan perpaduan berbagai unsur budaya. Keseluruhan elemen tersebut dirancang untuk menghadirkan harmoni seni dan budaya dalam bingkai toleransi.

