Catra Budaya

Jejak Wayang di Uang Kertas Era De Javasche Bank

Sejumlah uang kertas yang diterbitkan pada era kolonial menampilkan tokoh-tokoh wayang orang sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup di masyarakat.

Sejumlah uang kertas yang diterbitkan pada era kolonial menampilkan tokoh tokoh wayang orang sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup di masyarakat saat itu
Uang kertas yang diterbitkan pada era kolonial menampilkan tokoh-tokoh wayang orang (dok Bank Indonesia)

catrawarta.comJauh sebelum Indonesia merdeka dan terbentuk sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), wilayah Nusantara pernah berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Pada masa tersebut, mata uang yang beredar mengikuti otoritas yang berkuasa.

Menariknya, sejumlah uang kertas yang diterbitkan pada era kolonial menampilkan tokoh-tokoh wayang orang sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup di masyarakat saat itu.

Kisah tersebut diangkat dalam pameran “Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi” yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan dibuka pada 3 Juni 2026. Pameran ini mengungkap sejarah penerbitan uang kertas De Javasche Bank (DJB) seri Wayang pada dekade 1930-an yang menampilkan potret pemain wayang wong sebagai elemen visual utama.

Pameran tersebut diresmikan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara selaku Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya mewakili Keraton Yogyakarta. Kehadiran Keraton Yogyakarta menjadi bagian penting dalam mempertemukan sejarah seni pertunjukan dengan perjalanan sistem keuangan di Indonesia.

Dalam keterangan resmi Keraton Yogyakarta, Kamis (18/6/2026), disebutkan bahwa Keraton memiliki peran penting dalam penyajian narasi sejarah uang kertas seri Wayang tersebut.

Gkr bendara membuka pameran iŋ lakon wayang wong dadi saksi
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara selaku Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya membuka
pameran “Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi” . (dok Keraton Yogyakarta)

Seri uang kertas DJB itu hingga kini dikenal sebagai salah satu desain mata uang paling artistik pada masanya. Detail visual tokoh wayang wong yang ditampilkan menunjukkan tingginya kualitas seni ilustrasi sekaligus memperlihatkan pengaruh budaya Jawa dalam simbol-simbol ekonomi kolonial.

Koleksi Busana Keraton Yogyakarta

Untuk menghadirkan konteks sejarah yang lebih utuh, Keraton Yogyakarta meminjamkan sejumlah koleksi busana wayang wong yang menjadi inspirasi visual bagi desain uang kertas tersebut.

Salah satunya adalah satu set busana Arjuna yang menjadi rujukan ilustrasi pada uang kertas pecahan f100 dan f1000. Selain itu, dipamerkan pula busana Gatotkaca yang menjadi dasar visual pada pecahan f200.

Keraton yogyakarta memiliki peran penting dalam penyajian narasi sejarah uang kertas seri wayang tersebut dok bank indonesia
Keraton Yogyakarta memiliki peran penting dalam penyajian narasi sejarah uang kertas seri Wayang tersebut. (dok Bank Indonesia)

Keraton menilai tanpa kehadiran koleksi autentik tersebut, kisah di balik penerbitan uang kertas seri Wayang tidak akan tersampaikan secara utuh kepada publik.

“Selain memiliki nilai artistik, busana yang dipamerkan juga menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Kedua set busana tersebut merupakan Kagungan Dalem yang diproduksi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII antara 1921 hingga 1939,” sebutnya.

Periode tersebut dikenal sebagai salah satu masa keemasan seni pertunjukan wayang wong gaya Yogyakarta. Pada masa itu, busana-busana tersebut dikenakan langsung oleh putra-putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dalam pementasan berbagai lakon besar di lingkungan keraton.

Keterbukaan dan Pemahaman Sejarah

Menurut Keraton Yogyakarta, partisipasi dalam pameran ini merupakan bentuk keterbukaan institusi budaya dalam mendukung pemahaman sejarah nasional secara lebih komprehensif.

“Keraton Yogyakarta melalui pameran tersebut menunjukkan sikap keterbukaan yang dinamis dalam mendukung pemahaman sejarah nasional secara komprehensif,” demikian keterangan Keraton Yogyakarta

Di ruang pamer Museum Bank Indonesia, koleksi wayang wong gaya Yogyakarta dipadukan dengan berbagai koleksi budaya dari sejumlah institusi lain. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa uang kertas tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai media yang merekam identitas budaya dan peradaban suatu bangsa.

Melalui pameran ini, publik diajak melihat bagaimana seni pertunjukan Jawa pernah menjadi bagian dari visual uang kertas yang beredar luas, sekaligus menjadi bukti pengakuan terhadap kekayaan budaya Nusantara dalam sejarah moneter Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *