catrawarta.com — Dentuman rudal kembali mengguncang Timur Tengah. Ketika Amerika Serikat, Israel, dan Iran saling melontarkan ancaman dan serangan, dunia bertanya-tanya: mengapa Iran tampak begitu berani menghadapi dua kekuatan militer besar sekaligus?
Pertanyaan itu sering dijawab dengan kalkulasi militer. Tapi bagi Teheran, ini bukan sekadar soal senjata. Ini soal martabat.
Untuk memahami sikap Iran hari ini, kita tak bisa melewati 1979. Revolusi Islam menggulingkan Shah dan mengubah Iran dari sekutu Barat menjadi republik yang secara terbuka menantang hegemoni Amerika. Pemimpinnya saat itu, Ayatollah Khomeini, menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada “kekuatan arogan” (mustakbirin). Narasi ini bukan sekadar slogan revolusi—ia menjadi fondasi identitas negara.
Sejak 1979, Iran menghadapi gelombang sanksi ekonomi berlapis, terutama setelah krisis sandera Kedutaan Besar AS dan kemudian program nuklirnya. Data World Bank menunjukkan ekonomi Iran berkali-kali terpukul oleh pembatasan ekspor minyak dan akses sistem keuangan global. Namun republik itu tidak runtuh. Justru sebaliknya, tekanan eksternal dipakai untuk memperkuat solidaritas internal.
Dalam diskursus resmi negara, konflik bukan dibingkai sebagai perang kepentingan semata, melainkan perlawanan terhadap ketidakadilan global. Istilah mustadh’afin (kaum tertindas) menjadi oposisi moral terhadap kekuatan besar dunia.
Dimensi teologis juga tak bisa dilepaskan. Mayoritas masyarakat Iran menganut Islam Syiah Dua Belas Imam, yang menjadikan tragedi Karbala—pengorbanan Imam Husain—sebagai simbol perlawanan terhadap tirani. Spirit “lebih baik mati bermartabat daripada hidup dalam tunduk” bukan hanya memori religius, melainkan paradigma politik.
Ketika konflik dengan Israel atau Amerika disebut sebagai perlawanan terhadap kezaliman, resonansinya bukan hanya politis, tetapi emosional dan spiritual.
Berbeda dengan banyak revolusi lain yang meredup, Revolusi Iran terinstitusionalisasi dalam struktur negara lewat konsep Wilayat al-Faqih. Setelah wafatnya Khomeini, estafet kepemimpinan diteruskan oleh Ali Khamenei. Di bawah kepemimpinannya, sistem tersebut bertahan lebih dari empat dekade di tengah embargo berat.
Ironisnya, sanksi justru mendorong kemandirian strategis. Iran mengembangkan industri pertahanan domestik, dari rudal balistik hingga drone tempur. Dalam logika mereka: jika pintu ditutup, maka pintu baru harus dibuat sendiri.
Namun keberanian Iran juga bisa dibaca sebagai strategi deterrence. Dalam politik internasional, ketegasan sering kali menjadi bahasa pencegah. Pesan keras bukan selalu berarti ingin perang, tetapi bisa dimaksudkan agar lawan berpikir dua kali sebelum melangkah lebih jauh.
Tetap saja, ada dimensi yang lebih dalam: psikologi bangsa. Iran bukan negara tanpa sejarah. Ia adalah pewaris peradaban Persia kuno dengan kebanggaan kultural yang panjang. Dalam narasi elite politiknya, Iran bukan bangsa yang bisa ditekan untuk tunduk.
Di Timur Tengah, keberanian sering kali berharga mahal. Tetapi bagi Iran, harga diri tampaknya selalu lebih mahal daripada rasa takut.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Iran berani. Melainkan sejauh mana dunia siap menghadapi konsekuensi dari keberanian yang dibangun atas ideologi, sejarah, dan martabat kolektif sebuah bangsa.
Karena ketika harga diri menjadi fondasi kebijakan, kompromi bukan lagi pilihan yang mudah.

1 Maret dan Ingatan tentang Serangan Umum 1949: Fakta Sejarah dan Perdebatan Peran 