catrawarta.com — Pelemahan rupiah terus berjalan perlahan namun pasti. Setelah menyentuh pada Rp 17.800 per dolar AS, kini sudah menyentuh Rp 18.000, Kamis (4/6/2026) pagi. Sejumlah pengamat beberapa hari lalu telah mengungkapkan, angka Rp 18.000 akan segera tiba.
Data dari currency.wiki menyebutkan nilai tukar rupiah melemah pada Kamis, pukul 07.41 yang menyentuh pada Rp 18.027,01. Seperti sudah diramalkan sebelumnya rupiah akan terus mengalami pelemahan karena faktor internal dan eksternal.
Faktor eksternal yang sangat berpengaruh yakni konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum memperlihatkan bakal menurun. Meskipun masih dalam konteks gencatan senjata tetapi AS masih melancarkan serangan. Iran mencoba bertahan namun menyatakan akan segera memberi balasan.
Penguasaan Iran atas Selat Hormuz mengakibatkan terganggunya jalur distribusi perdagangan dunia terutama minyak. Indonesia termasuk yang terdampak, harga BBM non subsidi mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Pemerintah menyatakan tidak akan menaikkan Harga BBM subsidi hingga akhir tahun 2026.
Pada faktor internal, sejumlah program yang menyedot anggaran besar mendapat sentiman negatif pasar dan investor. Dua yang menurut para pakar dan pelaku keuangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), harus segera dipangkas atau dihentikan.
Belajar dari BJ Habibie
Sejumlah pihak juga menyatakan sebaiknya pemerintah berani belajar dari pengalaman masa Presiden ke-3 BJ Habibie ketika menghadapi krisis. Kala itu, ia mengambil langkah revolusioner dengan menghentikan program andalannya, industri pesawat terbang. Perlahan rupiah menguat, reaksi pasar positif.
Mengutip dari idx_channel, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.
Bank Indonesia, tegas Ramdan, senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal.
Di samping itu, Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.

