catrawarta.com — Ruang Sidang Istimewa MPR RI pada 14 Oktober 1999. Dengan penuh senyum BJ Habibie memasuki ruang sidang. Tak pernah dia tak percaya diri atas keputusan dan langkahnya. Dari dalam ruangan, anggota majelis yang terhormat menyoraki sambil teriak, “Huuuuuuuu!”.
Legislator senior PAN, AM Fatwa, lalu interupsi sambil mengingatkan bahwa ini adalah forum kenegaraan dan yang hadir adalah kepala negara. Bagaimana bisa lembaga legislatif tak menghormati eksekutif? Dari ratusan anggota majelis, hanya seorang yang mengingatkan soal etika demokrasi dan ketatanegaraan.
Tak sedikit anggota majelis yang masih menganggap Habibie adalah anak emas Soeharto sehingga dilihat sebagai kepanjangan kekuasaan Orde Baru. Namun mengolok-olok dan menyorakinya saat acara kenegaraan adalah bukti nyata siapa yang berjiwa demokrat dan mana yang jalanan urakan. Berbeda pendapat adalah kewajaran di alam demokrasi, dan Habibie telah lama digembleng saat kuliah di Jerman.
Pidato pertanggung jawaban BJ Habibie akhirnya ditolak MPR yang dipimpin Amien Rais. Konsekuensinya, Habibie akan kesulitan jika akan mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi di situlah skenario Tuhan. Menjabat presiden (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999) menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri, justru menjadi presiden terbaik pasca reformasi.
Seorang teknokrat, lahir di Sulawesi, pakar aeronotika yang diakui dunia, menjadi presiden tercepat di Indonesia (1 tahun 5 bulan). Namun, dalam waktu yang singkat itu, Habibie menerapkan langkah kuda mengubah kondisi bangsa yang karut marut sepeninggal Soeharto. Setelah berhasil menekan nilai tukar rupiah dari Rp 16.800 menjadi Rp 6.000, kehidupan nasional semakin stabil.
Habibie tidak saja melepas tahanan politik, tetapi kemudian juga membuka kebebasan pers dengan mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) sehingga pers tidak takut dibredel dan memberi kebebasan politik. Kepada para mantan musuh politik Orde Baru seperti Petisi 50 Ali Sadikin cs, jauh sebelnya Habibie telah merangkul dan mengajak berkeliling melihat karya-karyanya yang diakui dunia.
Bagi tumbuh kembang demokrasi, jasa Habibie tak bisa dilupakan. Antara lain dengan membuat UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, memisahkan TNI dan Polri serta menggelar Pemilu 1999 yang multipartai dan demokratis. Dalam waktu singkat, Hababie bisa membuat 68 UU yang amat penting peranannya dalam menjaga keutuhan NKRI.
Lama dikenal sebagai sosok yang sulit mendengarkan, kecuali dengan Soeharto, Habibie justru terlihat demokratis dan dialogis saat berkuasa. Gejolak daerah yang nyaris membawa disintegrasi bangsa berhasil diredam dengan membuka otonomi daeah yang diperluas. Di tangan Ryaas Rasyid yang menjabat Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah (PUOD) Departemen Dalam Negeri, ancaman disintegrasi bisa dikanalisasi dengan UU Nomor 22 Tahun 1999.
Habibie rela menunda proyek pembuatan pesawat yang menjadi kebanggaannya dan diakui dunia mengingat bukan itu yang menjadi prioritas kebutuhan rakyat. Masih terngiang bagaimana Habibie memilih reformasi dan bukan evolusi atau revolusi. Baginya, reformasi adalah evolusi yang dipercepat dan sesuai dengan kondisi sosiologis politis Indonesia.
Bacharuddin Jusuf Habibie adalah negarawan dalam arti yang sebenarnya. Lahir dari persilangan dua budaya, Bugis dan Jawa, Habibie berhasil mematahkan keraguan banyak pengamat yang memandang sebelah mata. Andai hanya ingin hidup mewah, tenang dan damai, Jerman, Spanyol, Italia dan banyak negara memberinya fasilitas VIP karena kompetensinya amat dibutuhkan dunia. Kariernya dalam industri dirgantara di Jerman sudah tertinggi, Wakil Presiden di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg.
Itu semua bisa jadi merupakan realisasi doa Habibie. Saat kuliah, dia terbaring sakit dan harus opname. Saat itulah dia membuat puisi yang berjudul Sumpahku:
Darahku tumpah di bumi Indonesia
Tubuhku menjaga ibu pertiwi
Jiwaku milik Allah Azza Wa Jalla
Hidupku untuk pengabdian
Seorang anak bangsa yang total mencintai negerinya, tapi sering difitnah dan dipandang sebelah mata, namun tetap tegar melangkah dan membuktikan. Sosok jenius yang diolok-olok di negerinya sendiri itu pergi selamanya pada 11 September 2019. Sudah lima presiden menggantikannya, tetapi belum juga mampu menyamai pencapaian Habibie.
Ksatrian Sendaren, 21 Mei 2026

Viral, Harga Gas Melon di KDMP Rp 16.000! 