Idea Catra

Saat Indonesia di Titik Nadir

catrawarta.com — Seorang senior yang jadi ahli filologi dosen Universitas Leiden Belada, Dr. Surya Suryadi MA, memposting poster di akun media sosialnya....

Negaraku sun belani tumekeng pati foto surya suryadi
Negaraku sun belani tumekeng pati (Foto: Surya Suryadi)

catrawarta.comSeorang senior yang jadi ahli filologi dosen Universitas Leiden Belada, Dr. Surya Suryadi MA, memposting poster di akun media sosialnya. Beberapa poster yang dibuat antara 1947-1949, koleksi NEFIS, saat revolusi kemerdekaan. Itu saat Indonesia sedang berada di titik nadir.

Periode itu ibukota negara berada di Yogyakarta. Bermula provokasi NICA, pemerintahan berada dalam ancaman. Keselamatan para pejabat negara dalam bahaya. Atas inisiatif Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Yogyakarta siap menjadi ibukota dengan segala konsekuensinya. Maka awal Januari 1946 Bung Karno dan seluruh anggota kabinet boyongan naik kereta api luar biasa menuju Yogyakarta. Disambut Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII di Stasiun Tugu pada 4 Januari 1946. Bung Karno kemudian berkantor di Istana Gedung Agung sampai akhir Desember 1949. Saat itu, khas Keraton Yogyakarta sudah habis tak mampu meng-cover kebutuhan pemerintahan.

Itu menjadi bukti visi dan komitmen Ngarsa Dalem IX demi NKRI. Berani pasang badan untuk negara yang dicintainya. Jangankan uang, tanah dan gedung atau bangunan, nyawa pun disediakan demi integritas Indonesia. Sama halnya dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Meski paru-paru tinggal separo, tetap bergerak dan berjuang memimpin TNI untuk perang gerilya.

Lalu lihat poster itu. Sebuah ekspresi penuh kesadaran, keberanian dan totalitas membela negaranya. Negaraku sun belani tumekeng pati! Artinya, kubela negaraku sampai nyawa keluar dari raga. Soal kemerdekaan, soal negara, adalah soal harga diri dan kehormatan. Haram bagi bangsa lain menginjak-injak kita, apalagi di tanah kita sendiri. Maka sikap harus ditunjukkan dan nyali harus dibuktikan.

Lihatlah keberanian rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbekal bambu runcing atau senjata ala kadarnya, tanpa rasa takut mereka menghadapi musuh yang dilindungi senjata modern. Prinsipnya cuma satu: Hidup atau Mati! Bukan karena mereka miskin, sehingga rela berperang dan siap mati, tetapi karena merasa handarbeni, merasa memiliki atas negara yang susah payang diperjuangkan kemerdekaannya ini.

Terlihat mereka, rakyat itu, seperti tak banyak pertimbangan. Tetapi dalam banyak kasus, bukankah pertimbangan itu justru menjadi pertanda ketakutan dan kendala keberanian? Merasakan derita dijajah ratusan tahun, lalu setelah kemerdekaan berhasil diraih, masa akan diberikan cuma-cuma kepada kolonial?

Kini, negara ini sedang di titik nadir. Masalah demi masalah tak kunjung bisa diselesaikan, bahkan justru bertumpuk-tumpuk. Kekuasaan berjalan tanpa keadilan, hukum dipermainkan, sumber daya alam diobral dan kedaulatan bangsa seolah tak ada lagi yang mempedulikan. Mau dibawa kemana arah negara ini pun, wakil rakyat kita tak ada yang tahu. Dalam kesulitan itu, rakyat masih juga ditekan dengan pajak dan minimnya lapangan kerja.

Tak heran jika sastrawan Taufiq Ismail sampai membuat puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Berikut potongan sajaknya:

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu

Sedih? Wajar, karena kita adalah pemilik sah negeri ini. Marah? Boleh jadi, karena tak kita temukan teladan kehidupan dari mereka yang sedang memegang amanah jabatan. Takut? Bagaimana lagi sedang kekuasaan justru menempatkan kritik sebagai lawan, bukan cara untuk mencintai negeri ini.

Sudah 80 tahun lebih kita merdeka. Entah kenapa serasa kita masih belajar cara berbangsa dan bernegara. Tak banyak lagi yang bisa dipilih oleh rakyat selain menanti datangnya Ratu Adil yang membawa kita ke zaman kemakmuran. Siapa dan kapan, entahlah.

Ksatrian Sendaren, 26 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *