catrawarta.com — Banyak cara bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa cintanya pada bangsa dan negaranya. Angkat senjata, mendidik anak-anak bangsa, menulis opini atau artikel, membuat puisi, atau menggubah lagu. Yang terakhir ini seperti dilakukan Ismail Marzuki.
Bang Maing, sapaan khas anak Betawi yang lahir di Kwitang 11 Mei 1914 dan wafat 25 Mei 1958, Marzuki dikenal sebagai komponis papan atas. Pada 1931 saat masih berusia 17 tahun Maing telah membuat lagu pertama O Sarinah. Era pendudukan Jepang sudah gabung dengan radio militer Hozo Kanri Keyku, lalu saat merdeka dia masuk siaran RRI.
Kesadaran kebangsaan yang bersemayam dalam dirinya menjadi bara yang selalu menyala. Dipadu rasa cinta tanah air, lahirlah lirik-lirik lagu yang tidak saja menusuk rasa tetapi juga legendari. Kata-kata yang dipilih bernuansa sastra dan mampu menyentuh siapapun yang mendengarkannya. Melankolis tapi kuat menghunjam nurani.
Maing sadar ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencintai nagara dan bangsanya. Simak lirik lagu Melati di Tapal Batas berikut:
Oh pendekar putri yang cantik
Dengarlah panggilan ibu
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktimu
Sumbangsih pada Ibu Pertiwi tak harus diekspresikan dengan memanggul senjata dan maju ke medan perang. Sawah dan ladang yang kita punya merupakan bekal berharga untuk bisa mensuport Indonesia. Jika sekarang orang gaduh dengan ketahanan pangan, pada 1947 saat merilis lagu ini, Maing sudah memikirkannya. Visioner dan membumi Maing menapaki jalan hidupnya.
Bagaimana Maing tidak mencintai negeri nan elok dan subur ini. Entah habis dari mana dia sehingga indah sekali dalam membahasakan kondisi negerinya. Simak lirik lagu Rayuan Pulau Kelapa berikut:
Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
Deskripsi yang sederhana tetapi menukik. Dalam irama pelan mendayu, mendengar lagu ini serasa dininabobokan keindahan Nusantara. Negeri kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang di dunia tak aneh jika kemudian dikenal dengan Zamrud Khatulistiwa. Rasa bahasanya halus, sastrawi dan karenanya mampu membangkitkan kenangan. Coba dengar lagu ini saat berada di luar negeri, air mata pasti jatuh karena terkenang akan negerinya.
Di Jakarta membayangkan suasana perang, lalu pindah ke Yogyakarta, ibukota revolusi, sungguh inspirasi yang menukik rasa nasionalisme. Maing secara cerdas menggubahnya menjadi lagu Sepasang Mata Bola, berikut potongan liriknya:
Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba
Remang-remang cuaca
Terkejut aku tiba-tiba
Dua mata memandang
Seakan-akan dia berkata
“Lindungi aku pahlawan
Dari pada si angkara murka”
Tanpa harus melabeli dengan kata-kata heroik atau perjuangan, orang langsung dibawa ke suasana perang. Tidak meledak-ledak tetapi romantis. Presiden BJ Habibie amat senang dengan lagu ini. Bayangkan, para tentara kita naik kereta api dari Jatinegara menuju Yogyakarta. Berhenti di Stasiun Tugu, lalu tentara melihat gadis cantik. Saling kerlip mata dan benih-benih cinta muncul. Perang tapi asyik, ya di Jogja.
Kepergian sering meninggalkan kesan dan kenangan mendalam. Apalagi kepergian pahlawan yang keberadaannya dirasakan rakyat. Suasana itu diporet Maing dengan indah melalui lagu Gugur Bunga:
Siapakah kini pelipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Kehilangan pahlawan adalah kehilangan teladan. Pahlawan dalam arti sebenarnya, bukan atribut politik yang kini meramaikan panggung politik, sangatlah membekas dalam diri banyak anak bangsa. Apalagi suasana perjuangan yang penuh ketakpastian. Kehadiran pahlawan sangatlah dinantikan.
Dan lihatlah cara Maing menyadarkan kita tentang perlunya mencintai Ibu Pertiwi. Cinta itu dia bawa sampai mati. Dalam lagu Indonesia Pusaka, Maing menempatkan negerinya dengan oenuh penghormatan. Simak lirik berikut:
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan Bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Nasionalisme itu soal rasa. Rasa cinta pada tanah, air, udara dan alam seisinya. Tak terbayang bagaimana perasaan Maing manakala negerinya rusak luluh lantak dieksploitasi oleh asing tanpa manfaat bagi rakyat. Jangankan mendapat keuntungan dan kesejahteraan, rakyat justru diperbudak, disingkirkan dan secara tak langsung diasingkan dari negerinya sendiri.
Sudah 68 tahun Ismail Marzuki alias Maing meninggalkan kita. Tiap hari besar lagunya kita nyanyikan. Apakah tega kita khianati pesan kesejarahannya yang terselip di dalam tiap liriknya? Cukupkah kita bangun gedung megah Taman Ismail Marzuki (TIM) sedangkan kita abaikan rasa cintanya pada Indonesia?
Ksatrian Sendaren, 25 Mei 2026

Harga TBS Sawit Anjlok Sepekan, Petani Sawit Paling Terpukul 