Warta

Terjadi Tren Penurunan Indeks Radikalisme

catrawarta.com — Di tengah isu global ancaman teror pada pemimpin umat Katolik sedunia Paus Leo XIV, yang akan melakukan kunjungan ke Spanyol,...

Two speakers in a split screen video call left man in sunglasses right man with glasses both with event banners in the background
RADIKALISME: Para narasumber menyampaikan paparan mengenai radikalisme secara daring.(Sumber: BNPT)

catrawarta.comDi tengah isu global ancaman teror pada pemimpin umat Katolik sedunia Paus Leo XIV, yang akan melakukan kunjungan ke Spanyol, kondisi di Indonesia justru membaik. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan tren penurunan indeks radikalisme di DKI Jakarta.

Lembaga tersebut bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta baru saja menggelar Kajian Senin Kamis (KSK) bertajuk ”Analisis Tren Potensi Radikalisme di Ibu Kota DKI Jakarta”. Ini merupakan forum diseminasi hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 sekaligus wadah penguatan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme.

Direktur Pencegahan BNPT RI, Brigjen TNI Dr Sigit Karyadi mengungkapkan hasil survei menunjukkan Indeks Potensi Radikalisme DKI Jakarta tahun 2025 berada pada angka 12,8 atau menurun 2 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan penurunan terjadi pada seluruh dimensi, yaitu pemahaman, sikap, dan tindakan, yang menunjukkan adanya perkembangan positif dalam upaya pencegahan radikalisme di wilayah DKI Jakarta. Meskipun demikian, angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 10,4.

Tantangan Makin Kompleks

Sigit mengakui tantangan pencegahan radikalisme semakin kompleks karena berkembang melalui ruang digital dan menyasar kelompok usia yang semakin muda. Survei IPR dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa ruang digital menjadi arena strategis dalam membentuk cara pandang dan sikap masyarakat.

”Terbukti dengan munculnya ancaman kasus-kasus penyebaran paham radikalisme di ruang digital yang
menargetkan anak-anak,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).

Sementara itu, Peneliti FKPT DKI Jakarta, Dr Mulawarman Hannase menilai meskipun dimensi sikap masih relatif tinggi, hal tersebut tidak otomatis berujung pada tindakan kekerasan.

Berbagai faktor protektif, jelasnya, seperti penguatan moderasi beragama, wawasan kebangsaan, kearifan lokal, serta efektivitas regulasi dan penegakan hukum, berkontribusi menekan dimensi tindakan hingga berada pada angka yang sangat rendah.

Belum Tentu Beraksi

Menurut Mulawarman banyak orang yang memiliki pemahaman cenderung radikal ekstrem, tetapi belum tentu melakukan aksi kekerasan. Dalam penilaiannya, pencegahan dini dari negara berjalan cukup efektif sehingga dimensi tindakan dapat ditekan. Kendati demikian, tugas berat yang harus dilakukan tanpa henti yakni terus menurunkan dimensi sikap yang masih tinggi.

Narasumber lain, Lilik Purwandi menambahkan karakteristik masyarakat urban dan tingginya aktivitas digital menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membaca kondisi DKI Jakarta. Ia mengingatkan kelompok rentan paparan radikalisme tidak hanya berasal dari kalangan tertentu, tetapi juga mencakup perempuan, generasi muda, dan masyarakat yang aktif mengakses serta menyebarkan konten keagamaan.

”Kalau kita lihat dari beberapa tahun terakhir, kelompok yang rentan antara lain masyarakat urban, mereka yang aktif di internet dan media sosial terkait keagamaan, perempuan, serta generasi muda. Karena itu penguatan daya tangkal masyarakat menjadi sangat penting,” tandas Lilik seperti dikutip dari keterangan tertulis BNPT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *