catrawarta.com — Jika gemerlap dunia digital kita jadikan pedoman maka sering kita akan terjebak dalam dinamika spekulatif. Sesuatu yang viral, sekedar contoh agar fokus, boleh jadi merefleksikan sesuatu yang patut untuk dicermati. Tetapi, itu sering menegasikan hal mendasar lainnya.
Karut marut korupsi, dengan segala turunannya, telah menjadikan negara ini gagal dalam memenuhi rasa keadilan. Banyaknya kasus dengan tersangka yang berasal dari semua lini kehidupan, kadang memang memunculkan pandangan yang pesimis dan skeptis. Simpulan yang diambil, kemudian, membawa kita pada ketiadaan rasa syukur atas limpahan nikmat hidup.
Hidup, tentu, tak seperti yang terpapar di dunia maya. Kita tahulah arah media sosial, bahkan media mainstream, kenapa begitu gencar mengangkat kasus korupsi. Di balik keinginan untuk mengritisi penyimpangan penggunaan anggaran dan penyalahgunaan wewenang, ada motivasi lain terkait bisnis online. Akhirnya, kita menjauh dari realita kehidupan.
Hukum memang sedang dalam masalah besar terkait upaya penegakannya. Tetapi ingat juga, tak semua jaksa bisa dibeli. Tak semua polisi bermasalah. Tak semua birokrat bisa disuap. Masih banyak anak bangsa yang bekerja tidak dalam format untuk dipublikasikan. Mereka tekun mengemban amanah sesuai kompetensinya, juga demi bangsa dan negara Indonesia.
Tak semua harus bicara politik, meski kita tahu partai politik dan wakil rakyat belum maksimal dalam menyuarakan aspirasi kita. Di saat kondisi sedang kritis dan negara sedang mengalami krisis kepercayaan, pilihan kita akan sangat menentukan. Kita berdiri dimana, berpihak pada siapa, dan apa yang bisa kita kerjakan. Ungkapan, satu jari menunjuk orang lain dan empat jari menunjuk diri sendiri, bisa jadi perlu kita renungkan. Menyalahkan itu jauh lebih mudah dibanding mengakui kesalahan sendiri.
Kalau mau salah-salahan, betapa hidup akan hiruk pikuk tak produktif. Ada baiknya kita, secara kolektif, mengakui kesalahan diri karena salah dalam melangkah terkait praktik kenegaraan. Tetapi, hal yang lebih penting dipikirkan adalah bagaimana nasib bangsa dan negara ini selanjutnya. Berdiam diri saat ada penyimpangan, jelas tidak bijak. Tetapi membombardir media sosial dengan segala kesemrawutan, penyimpangan dan segala laku sesaat, ada sebuah pertanyaan yang menukik nurani. Bagaimana nasib keluarga kita? Apa peran dan andil kita selaku orang tua, misalnya, terhadap masa depan anak-anak kita?
Kita yakin, dan harus yakin, masih banyak stok orang baik di negeri ini. Bisa jadi ia tetangga kita. Boleh jadi ia guru kita. Atau mungkin, justru orang yang selama ini dipandang sebelah mata dan tak pernah masuk di layar mungil kita. Jika pun itu semua tak kita temukan, sangat mungkin ruang dan waktu sedang menunggu kita.
Tak harus menjadi pahlawan saat kita niati berbuat kebaikan. Tetapi menjadi pahlawan bagi diri sendiri, dengan berbuat baik dan kebaikan, sehingga hari ini lebih baik dari hari-hari kemarin, sudahlah cukup. Kebaikan itu menginspirasi dan bergerak. Ia menjadi energi yang, jika mengumpul dalam jumlah yang banyak, akan mempunyai daya dobrak yang besar. Dan bangsa ini, amat butuh orang baik.
Hidup kadang seperti mengelola kekecewaan. Entah karena salah pilih, merasa dikhianati, diabaikannya hak-hak kita atau ketakadilan yang kasat mata, semua tak boleh menenggelamkan hidup kita. Pegang betul nalar dan akal sehat, jaga agar tak mudah dininabobokan oleh janji, lalu tapak tekuni hidup sesuai bekal yang Dia berikan pada kita. Itu jauh lebih mendasar dan bermanfaat dibandingkan meluapkan rasa dan kemarahan, apalagi di media sosial, yang hanya memberikan kepuasan semu pada kita.
Sawung Jabo pernah berpesan, boleh kritis tapi jangan criwis. Hak konstitusional bagi kita untuk bersuara dan mengritisi kebijakan pemerintah. Namun, semua harus dilakukan dengan bijak penuh kesadaran dan terukur dengan data yang akurat. Hanya dengan begitu, bisa jadi, Indonesia akan terhindar dari malapetaka.
Ksatrian Sendaren, 4 Juni 2026

