Catra Budaya

Mengapa Kasepuhan Gelaralam Hanya Panen Sekali Setahun? Ini Filosofinya

Kasepuhan Gelaralam, yang sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Ciptagelar, memberikan gambaran tentang kuatnya ketaatan komunitas adat ini terhadap ajaran leluhur dan keseimbangan...

Kasepuhan ciptagelar memberikan gambaran tentang kuatnya ketaatan komunitas adat ini terhadap ajaran leluhur dan keseimbangan alam
Warga Kasepuhan Gelaralam sedang mempersiapkan padi untuk ritual Serentaun.

catrawarta.comMelihat lebih dekat kehidupan masyarakat Kasepuhan Gelaralam, yang sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Ciptagelar, memberikan gambaran tentang kuatnya ketaatan komunitas adat ini terhadap ajaran leluhur dan keseimbangan alam.

Kasepuhan Gelaralam merupakan kampung adat Sunda yang berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Wilayahnya berada di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Banten, serta menjadi bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul.

Kesatuan Adat Banten Kidul sendiri merupakan komunitas masyarakat adat Sunda yang hidup di kawasan Gunung Halimun-Salak yang melintasi Kabupaten Lebak di Banten serta Kabupaten Sukabumi dan Bogor di Jawa Barat.

Di kawasan tersebut tersebar sejumlah komunitas adat Sunda, salah satunya Kasepuhan Gelar Alam.

Juru Bicara sekaligus Humas Kasepuhan Gelaralam, Yoyo Yogasmana, mengatakan bahwa nama Kasepuhan Ciptagelar resmi berubah menjadi Kasepuhan Gelar Alam setelah perpindahan komunitas adat secara kolektif pada 2022.

Perpindahan yang dikenal dengan istilah ngalalakon itu dilakukan setelah pemimpin adat atau Abah menerima petunjuk dari leluhur agar masyarakat berpindah ke lokasi baru.

“Ketika melaksanakan ngalalakon, Abah sudah menyiapkan lokasi baru sekaligus namanya. Kami taat dan mematuhi perintah sepuh Abah,” kata Yoyo, Kamis (4/6/2026).

A group of people in traditional clothing sit around a central woven basket with a small plant during an outdoor ceremony as steam or smoke rises from the center
Kepala adat Kasepuhan Gelaralam, Sukabumi memimpin ritual adat ngaseuk atau menanam padi./dok Kasepuhan Gelaralam

Saat itu, Abah Cipta yang memimpin Kasepuhan Ciptagelar memerintahkan perpindahan menuju wilayah baru bernama Kasepuhan Gelaralam. Kini komunitas adat tersebut dipimpin oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.

Filosofi Nama Gelaralam

Nama Gelaralam mengandung misi besar untuk menata kembali hubungan manusia dengan alam.

“Nama Gelaralam ini adalah misi kasepuhan untuk menata alam kembali lebih baik. Selama ini banyak kerusakan hutan, satwa kehilangan habitat, dan alam akan menghukum manusia melalui hukum alam seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan,” ujarnya.

Ia menilai manusia selama ini terlalu mengeksploitasi bumi tanpa menjaga keseimbangannya. Ketaatan masyarakat dijalankan melalui sistem tatanan keratuan yang dipimpin seorang ketua adat bergelar Abah. Sistem tersebut telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun dan kini memasuki usia 658 tahun.

Konsep keratuan dimaknai seperti hubungan orangtua dan anak. Orangtua adalah sesepuh yang memberikan petunjuk hidup, sementara masyarakat menjalankan petuah tersebut dengan penuh kepatuhan. Sesepuh dipandang sebagai orang yang arif dan mengayomi masyarakatnya.

“Itu gambaran mudahnya. Tugas sesepuh seperti tugas orangtua kepada anak-anaknya. Ketika sesepuh atau Abah memberikan petunjuk dari leluhur maka kami taat melaksanakannya,” jelasnya.

Salah satu ajaran utama yang terus dijaga adalah menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Kasepuhan gelaralam yang sebelumnya dikenal sebagai kasepuhan ciptagelar memberikan gambaran tentang kuatnya ketaatan komunitas adat ini terhadap ajaran leluhur dan keseimbangan alam
Aktivitas menanam padi di Rorokan, Kasepuhan Gelaralam, Sukabumi./dok Kasepuhan Gelaralam

Konsep itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam sistem pertanian padi yang dianggap sakral oleh masyarakat adat.

Bagi masyarakat Kasepuhan Gelaralam, padi merupakan pusat kehidupan. Sistem tanam hingga panen dilakukan berdasarkan kalender siklus padi yang telah digunakan sejak 1368 Masehi.

Setiap tahapan pertanian disertai ritual adat, mulai dari Ngaseuk, Sapang Jadian Pare, Selamatan Pare Ngidam, Mapag Pare Beukah, Upacara Sawenan, Syukuran Mipit Pare, Nganjaran atau Ngabukti hingga Ponggokan. Puncak ritual tersebut adalah Seren Taun, yakni upacara syukuran atas keberhasilan panen raya.

“Sesepuh akan melihat rasi bintang di langit untuk menentukan kapan mulai tanam padi. Selama setahun hanya sekali tanam dan tidak pernah gagal panen,” kata Yoyo.

Tanam Padi Sekali Setahun

Masyarakat Kasepuhan Gelaralam hanya melakukan satu kali musim tanam dan panen dalam setahun. Filosofinya sawah dimaknai sebagai seorang ibu yang hanya melahirkan sekali dalam setahun sehingga tidak boleh dipaksa panen dua atau tiga kali.

Selain menjaga keseimbangan alam, pola tersebut juga dinilai efektif menghindari serangan hama seperti tikus dan wereng. Setelah panen selesai, lahan pertanian dibiarkan kosong sehingga hama tidak memiliki tanaman untuk dirusak.

“Jadi kami tidak membunuh tikus atau meracun hama. Caranya dengan menghindari melalui penghitungan musim tanam berdasarkan rasi bintang,” ujarnya.

Dalam praktik pertanian, masyarakat menggunakan pupuk organik. Padi hasil panen tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan di lumbung adat sebagai cadangan pangan masyarakat.

Yoyo menyebutkan, stok padi yang tersimpan pada 2017 mencapai 95 ton dan jumlahnya diyakini terus bertambah karena panen selalu berhasil. Saat ini terdapat sekitar 168 varietas padi asli Kasepuhan yang masih dilestarikan.

Menariknya dari komunitas yang menjunjung tinggi adat, masyarakat mengembangkan energi terbarukan berbasis mikrohidro. Pembangkit listrik tenaga air yang dibangun sejak 1997 memanfaatkan aliran sungai di sekitar kawasan adat dengan kapasitas mencapai 50 ribu watt.

Terdapat lima turbin mikrohidro yang memasok listrik ke 569 perkampungan kasepuhan yang tersebar di Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Seluruh pengetahuan lokal yang usianya telah enam abad diwariskan kepada generasi muda, mulai dari ajaran menjaga alam, kejujuran, hingga larangan mencuri dan merusak lingkungan.

Nilai-nilai itu dikenal sebagai wiwitan, yakni prinsip hidup yang menekankan keseimbangan dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.

“Dasar wiwitan adalah kehidupan yang seimbang, tidak intimidasi, tidak rakus, tidak meracun hewan, dan tidak mengusir hewan. Semua harus seimbang dan ini dikenal luas sebagai Sunda Wiwitan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *