catrawarta.com — Asap dari pawon sejak lama menjadi bagian penting kehidupan rumah tangga masyarakat Jawa. Pawon atau dapur selalu hadir di setiap rumah, baik rumah tradisional maupun modern.
Dalam struktur rumah Jawa, pawon menjadi bagian penting yang umumnya berada di belakang atau di sisi kiri bangunan utama.
Ia mencontohkan dapur-dapur tradisional di Desa Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah selain letaknya di belakang, posisi berada di samping kiri.
Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, menjelaskan bahwa dalam kosmologi Jawa, pawon memiliki kedekatan kuat dengan perempuan.
“Dalam kosmologi Jawa, pawon itu dunianya perempuan, nyawanya perempuan. Pembangunan dapur di rumah orang Jawa menggunakan weton istri atau ibu karena dapur lekat dengan kreativitas perempuan,” kata Heri, Kamis (4/6/2026).
Menurut Heri, dalam tradisi masyarakat Jawa, laki-laki yang terlalu sering berada di dapur dahulu dianggap tidak lazim.
“Laki-laki sobo pawon itu dulu dianggap pamali. Kemampuan laki-laki di dapur sering diragukan, apakah bisa memasak atau tidak. Intinya dianggap remeh,” ujar pendiri Solo Societeit tersebut.

Pentingnya pawon juga terlihat dalam tradisi pernikahan masyarakat Jawa. Di sejumlah desa, mempelai laki-laki biasanya membawa perlengkapan dapur dan bahan kebutuhan pokok secara simbolik kepada pihak perempuan.
Tradisi itu dimaknai sebagai bentuk kesiapan laki-laki memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Sebetulnya itu simbol bahwa laki-laki ikut memikirkan dapur. Bentuknya tidak harus uang, kadang ada yang memberikan hewan ternak seperti kambing,” jelas Heri.
Selain menjadi ruang domestik, dapur juga berfungsi sebagai pusat produksi makanan, tempat lahirnya resep, teknik memasak, hingga tata cara penyajian makanan.
Di lingkungan Kraton Surakarta misalnya, terdapat tiga dapur utama dengan fungsi berbeda.
Pawon Ageng digunakan untuk menyiapkan hidangan Raja dan keluarga keraton di bawah pengawasan lembaga keputren. Kemudian Dapur Gondorasan khusus menyajikan makanan bagi tamu kerajaan, sedangkan Dapur Sekul Langgeng diperuntukkan bagi prajurit keraton.
Sementara di masyarakat umum, pawon menjadi tempat meracik bumbu, memasak, hingga menyajikan makanan bagi keluarga.
Di desa-desa, pengelolaan api saat memasak menjadi keterampilan penting agar masakan tidak cepat gosong. Sedangkan di perkotaan, fungsi dapur berkembang dengan penggunaan kompor modern dan peralatan serba listrik.
“Cara penyajian makanan juga membutuhkan kreativitas, apakah memakai daun atau piring, menggunakan tangan, sendok, atau garpu,” ujarnya.
Makna Kendil Ora Ngguling
Heri menambahkan, pawon juga memiliki fungsi ekonomi penting dalam keluarga Jawa. Ia menyebut istilah kendil ora ngguling, yang secara harfiah berarti periuk tidak terguling. Maknanya adalah menjaga kondisi ekonomi keluarga agar dapur tetap bisa mengepul.
“Karena dapur adalah nyawa keluarga, maka keluarga harus menjaga agar kendil ora ngguling,” katanya.
Selain fungsi ekonomi dan kuliner, pawon juga menjadi ruang sosial yang hangat. Menurut Heri, masyarakat Jawa dahulu terbiasa masuk ke rumah melalui pintu belakang atau area dapur. Dari ruang inilah obrolan akrab antartetangga sering terjadi.
“Dapur itu ruang akrab, ruang bercengkerama orang-orang dekat. Bahkan saat mudik Lebaran, keluarga sering berkumpul di dapur sambil memasak dan bercanda,” tuturnya.

Lahirnya koki laki-laki
Seiring perubahan sosial dan meningkatnya pendidikan, peran dapur kini tidak lagi identik sepenuhnya dengan perempuan. Heri menilai munculnya profesi chef laki-laki hingga kesetaraan peran dalam rumah tangga menjadi bagian dari perubahan masyarakat modern.
“Sekarang laki-laki dan perempuan lebih setara, baik dalam bekerja maupun mengurus dapur. Ada pemahaman baru bahwa laki-laki juga bisa memasak,” jelasnya.
Ia mencontohkan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII yang pernah membawa delapan juru masak laki-laki saat melakukan perjalanan ke Belanda. Para koki tersebut bertugas menyiapkan masakan khas Kraton Surakarta selama pelayaran.
Di akhir perbincangan, Heri menegaskan bahwa meskipun pawon berasal dari kata awu atau abu dan posisinya berada di belakang rumah, dapur tetap memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Jawa.

