catrawarta.com — Sepertinya pusat dunia hari ini sedang berlangsung di coffee shop. Ada yang sedang memandangi laptopnya—entah mengerjakan tugas kuliah atau pekerjaannya. Di tempat yang sama, terdengar suara orang-orang yang mengobrol santai, cekikikan dengan teman satu mejanya. Di sudut lain, seseorang masih mengenakan setelan kerja, mungkin sedang bertemu kliennya. Bahkan ada juga yang asyik bermain bersama peliharaannya. Hampir tak pernah benar-benar sepi, dari pagi hingga malam.
Ya, seperti itulah kurang lebih suasana coffee shop hari ini. Suasana yang justru bertolak belakang dengan kabar yang terus berlalu-lalang tentang kondisi ekonomi Indonesia. Ekonomi disebut sedang lesu: banjir PHK di mana-mana, daya beli kian menurun, laju ekonomi tidak merata, bahkan melambat.
Menurut data dari sejumlah media, beberapa sektor ekonomi memang berada di posisi rentan, seperti pariwisata, manufaktur, perdagangan ritel, hingga properti dan konstruksi. Namun, industri coffee shop justru masuk dalam kategori yang relatif stabil. Dalam kondisi seperti ini, muncul pola selective spending (belanja selektif), yakni perilaku konsumen yang mengatur pengeluaran secara lebih hati-hati, terencana, dan hanya pada produk atau layanan yang dianggap bernilai, perlu, atau sebagai “mewah terjangkau” (affordable luxury). Nah, kopi masuk ke kategori pengeluaran yang tetap dipertahankan.
Sebelum lebih jauh, pernahkah mendengar istilah affordable indulgence?
Affordable indulgence adalah kemewahan yang terjangkau. Meminum kopi di coffee shop termasuk dalam konsep ini. Ia bisa dianggap sebagai hadiah sederhana di tengah tekanan kehidupan. Orang kini cenderung memilih agar kopi hariannya tetap berjalan, ketimbang mengeluarkan uang untuk menikmati makanan mewah. Bahkan, sebuah media mencatat setidaknya ada lebih dari 3.000 gerai coffee shop yang beroperasi di Yogyakarta. Ini menjadi indikasi bahwa bisnis coffee shop memang sangat menjanjikan.
Kestabilan sektor coffee shop tentu tidak lepas dari strategi yang diterapkan. Harga disesuaikan dengan kebutuhan pasar, fasilitas tempat diperhatikan, dan pengalaman ruang dibuat estetik serta nyaman. Banyak pula kegiatan yang memanfaatkan coffee shop sebagai ruangnya, mulai dari nobar bola, konser kecil, hingga pameran.
Coffee shop memang selekat itu dengan generasi muda. Ia bukan sekadar tempat singgah atau minum kopi, tetapi juga representasi status dan identitas konsumennya, terutama anak muda. Di coffee shop, mereka mencurahkan kreativitas sekaligus melanggengkan produktivitas. Harganya terjangkau, tetapi dampak dan manfaat sosialnya terasa jauh lebih besar.
Namun, kestabilan industri coffee shop bukan berarti ekonomi sedang baik-baik saja. Justru, ini menjadi cermin bagaimana masyarakat beradaptasi dengan krisis. Saat pengeluaran besar terasa semakin tidak rasional, orang memilih mencari ruang sederhana—tempat kecil yang memungkinkan mereka benar-benar melepas penat dari tekanan hidup.

Mati di Usia 54 Tahun, Gajah Craig Bukti Keberhasilan Konservasi 