catrawarta.com — Di mata Gen Z sejarah bisa jadi adalah mata pelajaran yang membosankan. Terbayang teks yang padat dan panjang, penuh kisah peristiwa dengan tokoh dan tanggal kejadian, yang teramat berat untuk dicerna.
Anggapan Gen Z itu tak sepenuhnya salah. Lama sejarah menjadi mata pelajaran yang kurang, jika dibilang tidak, penting. Apalagi dengan guru yang gagal mendesain pembelajaran secara lebih menyenangkan, maka sejarah ibarat mata pelajaran pelengkap semata. Mata pelajaran itu tak sebanding, dalam cakrawala modern, dengan Matematika, IPA atau Bahasa Inggris.
Manfaat? Apa yang bisa dipetik dari mata pelajaran yang, sejak SD bahkan, dianggap membosankan ini? Kalaupun ada siswa yang nilai mata pelajaran sejarahnya bagus, itu lebih disebabkan faktor teknis pembelajaran semata. Sedangkan dari sananya, sejarah itu ilmu yang dekat dengan perenungan, kontemplasi, perbandingan dan refleksi. Asal bisa mengerjakan soal yang dibuat guru, dan ada di dalam buku teks, selesai dan benar.
Dari sekian banyak siswa sekolah menengah, tentu, tak semua seperti gambaran di atas. Ada siswa yang kreatif dan inovatif dalam belajar sejarah. Gen Z dianugerahi kesempatan untuk bisa secara dekat berinteraksi dengan kemajuan teknologi informasi. Mereka, bahkan, jauh lebih lihai dibanding guru dan orang tuanya, dalam memanfaatkan segala vitur bawaan dan aplikasi yang ada pada gadget mereka.
Jika ada guru yang kreatif menjadikan gadget sebagai media pembelajaran, barulah mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Tentu, untuk objek pembelajaran yang dekat dengan lingkungan belajar mereka.
Menjadi tantangan bagi guru untuk memanfaatkan platform media sosial untuk mengembangkan model pembelajaran. Visualisasi menjadi sarana penting untuk menyampaikan pesan dan tujuan pembelajaran. Melalui Yutube atau TikTok, misalnya, sebuah tema pembelajaran bisa dikembangkan secara lebih menarik. Siswa juga bisa diberi tugas untuk mewawancarai tokoh sejarah setempat melalui Spotify sehingga mereka bisa menemukan pengalaman baru melalui transfer pengetahuan.
Masih banyak model pembelajaran yang bisa dikembangkan melalui intervensi media sosial. Kunjungan ke museum, mengikuti pameran atau bahkan membaca buku sejarah, jika diikuti dengan penugasan berbasis media sosial nampaknya akan membawa pembelajaran sejarah menjadi lebih menarik dan atraktif. Misalnya membuat storytelling, akan membawa siswa pada pengayaan dan pendalaman materi pembelajaran secara naluriah dan alamiah.
Permasalahannya, mereka terbentur pada struktur kurikulum. Jam pembelajaran sejarah tak sebanyak jam pelajaran mata pelajaran eksak atau, dulu, yang di-UAN-kan. Ini jadi kendala bagi guru. Memberi tugas lapangan kepada siswa jelas melebihi ketentuan jam pembelajaran, sedangkan memaksimalkan proses belajar mengajar dipandang membosankan.
Di luar itu, bangsa ini, harus diakui, masih lemah dalam hal belajar (dari) sejarah. Kesalahan demi kesalahan diulang dan terulang seolah tiada pernah belajar dari kisah-kisah terdahulu. Dari atas sampai bawah, kasus korupsi terjadi di depan mata para siswa tanpa hukuman yang sepadan. Tak ada keteladanan dalam penegakan hukum, misalnya. Jika fenomena ini dilihat oleh siswa, kira-kira bagaimana respon yang akan muncul?
Sejarah, katanya, adalah cermin kehidupan untuk menemukan inspirasi dan perspektif baru sebagai bekal melangkah ke masa depan. Bagaimana jadinya kalau cerminnya buram dan retak?

Tersangka Pencabulan 12 Anak di Kediri Salahkan Makhluk Gaib 