catrawarta.com — Demam sepak bola selalu muncul menjelang Piala Dunia. Setelahnya, pasti banyak yang lantas bermain bola, entah di lapangan besar atau futsal. Sayangnya, lapangan bola untuk masyarakat semakin sedikit. Banyak yang sudah menjadi bangunan.
Anak-anak bermain bola di jalan kampung dan tempat seadanya. Mereka yang orang tuanya memiliki banyak duit bisa menyewa lapangan besar atau futsal. Lalu, bagaimana dengan rakyat kebanyakan?
Kondisi tersebut menginspirasi penulis lagu dan penyanyi Umar Haen. Ia melihat semakin menyempitnya ruang bermain untuk anak-anak, termasuk untuk bermain sepak bola. Ia kemudian merilis lagu karya sendiri bertitel ”Tak Jadi Main Bola”.
Lirik lagu itu mengisahkan seorang bocah bernama Izan yang lapangannya berubah menjadi pondasi bangunan. Akibatnya, ia dan teman-teman tak bisa bermain bola di tempat yang dulu selalu ramai menjelang petang dengan riuh renyah suara anak-anak.
Pendekatan Naratif
Umar Haen merilis single ”Tak Jadi Main Bola” sebagai karya terbaru yang menjadi perkenalan perdana sekaligus jembatan menuju album penuh keduanya, ”Busa Sabun Masuk ke Mata”. Album kedua bakal rilis pada 6 Agustus 2026 mendatang.
Di single ini, Umar mengambil pendekatan naratif yang kuat dalam penulisan lirik. Karakter Izan
dipilih untuk mengisahkan ironi tentang menyempitnya ruang publik bagi anak-anak di tingkat
tapak.
Ketika mata dunia sedang tertuju pada pesta sepak bola besar, di sudut lain, seorang bocah justru harus kehilangan tempat bermainnya.
Umar mengungkapkan, lagu tersebut menangkap potret kepolosan Izan yang digambarkan lewat detail-detail kecil yang jujur, seperti menyikat sepatu bola kesayangan dengan sikat gigi hingga kayuhan sepeda menuju lapangan tempat mimpinya ditanam. Namun, sesampainya di sana, ia mendapati ruang
bermainnya telah berganti menjadi deretan pondasi.
”Saya menulis lagu ini setelah mengamati fenomena masifnya alih fungsi lahan dan pembangunan yang bersifat sepihak. Pembangunan tanpa banyak melibatkan musyawarah atau mendengar kebutuhan riil warga,” ujarnya prihatin.
Keresahan yang Nyata
Bagi Umar, keresahan itu bukan sekadar fiksi atau kabar burung dari jauh. Sebagai musisi yang tumbuh di
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ia menyaksikan sendiri bagaimana ruang-ruang komunal warga perlahan menyempit akibat pembangunan yang kurang partisipatif.
”Di daerah asal saya pun, fenomena alih fungsi lahan publik yang sempat memicu polemik warga nyata terjadi. Realitas di depan mata itulah yang jadi dorongan bagi saya untuk melahirkan lagu ini,” papar Umar.
Ia menceritakan, pendekatan penulisan ”Tak Jadi Main Bola” tidak lepas dari pengalamannya saat
mengikuti residensi AMP3 (The Asian Music for Peoples’ Peace and Progress) di Filipina pada Juni 2025 lalu.
Di sana, ia belajar langsung dari Jess Santiago, musisi senior pelopor Gerakan people’s music di Asia sekaligus co-founder Musika Philippines. Dari mentornya tersebut, Umar membawa pulang satu pendekatan penulisan lagu: mulailah menulis dari hal terdekat, karena di situlah persoalan besar sebenarnya berada. Detail potret Izan dan sepatu bolanya merupakan manifestasi nyata dari pendekatan tersebut.

Menteri PU Sutami: Simbol Kekuasaan yang Tak Identik dengan Kemewahan 